Kumpulan 'Feature' (bagian 2)


Pengunjung di Pameran 'Kessian Cephas' oleh Cahyadi Dewanto, Juli 2012. 


Ada beberapa tulisan feature yang sengaja saya publikasikan di Kompasiana.com/afsee, sebagai bentuk latihan saya di media warga. Lagipula, rasanya media besutan Kompas.com ini sangat membuka kesempatan bagi orang untuk melatih keterampilan jurnalistiknya, meskipun tidak punya latar jurnalistik profesional. 

Nah, karena saya baru aktif mempelajari feature dalam enam bulan terakhir, maka tidak banyak tulisan lama yang menyerempet kriteria-kriteria tulisan berita sosok/kisah, sebagaimana saya jelaskan di tulisan pertama. Tapi biarlah, hitung-hitung bahan pelajaran buat saya sendiri dan teman-teman yang kiranya tertarik juga, saya tampung selebih-arsip tulisan saya.

Semoga saja, setelah ini ada banyak lagi tulisan feature yang bisa saya susun, dan karakternya bisa lebih kuat. Di samping memang, ya masih belum banyak warga nonjurnalis yang tertarik jenis tulisan ini.

Selamat membaca.


Saya pertama kali terkesan dengan kinerja sosial Bu Purwanti pasca-meletusnya Gunung Merapi akhir 2010 lalu. Kami, anak-anak pendatang yang waktu itu kebingungan menyalurkan dana sumbangan ...

Di sebuah acara pelatihan 2010 lalu, oleh seorang laki-laki tua –saya terka usianya di atas 60– pernah diberitahu begini: bahwa kalau mau sehat, makan malam ...

Sebetulnya, persoalan rancangan peraturan tentang ‘ilmu hitam’ atau santet tidak akan seheboh ini diperbincangkan publik jika berita yang lebih lanjut tidak mengejutkan. Maksudnya, jika para ...

September lalu saat akhirnya bisa bertemu langsung dengan Tun Mahathir Mohamad, saya mewanti-wanti harus seperti apakah sikap saya. Sebagai informasi, pada 4 September 2012 lalu ...

Pertanyaan lama yang belum terjawab soal pewarta warga, salah satunya adalah sejauh mana kita (yang berlaku sebagai pewarta warga, tentunya) bisa menggapai sumber berita. Apakah ...

Kessian Cephas: Melacak Jejak Pribumi Jurufoto Pertama (22/7/2012)
Isaac Groneman sedang menyusun bukunya In den Kedaton te Jogjakarta ketika menghentikan gerak jari-jarinya di atas papan ketik. Penulis itu bingung cara menemukan foto-foto yang ...

Ada beberapa dari tulisan di atas yang saya rekomendasikan bagi teman-teman yang serius belajar feature, semisal kisah Kessian Cephas yang saya sengaja rekam dari pengalaman menghadiri pamerannya, Bicara di Depan Idola yang merupakan pengalaman berharga saya ketemu Mahathir Mohammad, dan beberapa di tulisan pertama.

Semoga bermanfaat.

Friday, May 16, 2014
Ditulis oleh Fandi Sido
Kategori:

Kumpulan 'Feature' (bag. 1)




Seperti yang sering saya singgung beberapa minggu terakhir di Twitter, saya sedang gandrung-gandrungnya mempelajari cara tulis-menulis berita kisah/sosok, atau yang lazim disebut 'feature'. Editor Komunitas Kompas.com Pepih Nugraha membalas tweet saya suatu waktu soal ini dengan menjelaskan:

Nah, maka dari itu, saya coba melihat kembali beberapa tulisan saya di masa lampau (jiah...!) yang sekiranya... sekiranya, di benak saya, agak bersentuhan atau mungkin sudah berbentuk feature. Sekali lagi, saya belajar teknis dan non-teknisnya, dan semoga prosesnya lancar.

Kalau ada masukan, jangan ragu untuk komentar ya. Siapa tahu kita sama-sama tertarik bahas ilmu satu ini. Berikut beberapa tulisan saya di Kompasiana yang berupa reportase (feature):

Setelah upaya demonstrasi menolak relokasi tidak membuahkan hasil pada Kamis (6/2/2014) lalu, Hari Minggu ini para pedagang pasar ‘Sunday Morning’ atau ‘Sunmor’  UGM ...

Waktu itu pertengahan 1970, musim hujan baru berlalu. Setyawati, perempuan paruh baya, bersama suaminya, duduk menghadap keramaian depan rumah. Di situ mereka mengambil keputusan penting ...

Tak satupun dari warga Dusun Ngelepen, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman menyangka kehidupan mereka akan berbalik karena bencana alam. Pada 27 Mei 2006, dusun ...

Sudah diumumkan Jumat (11/10/2013) bahwa peraih hadiah Nobel Sastra tahun ini jatuh kepada penulis cerita-cerita pendek Alice Munro. Alice, saat ini berusia 82 tahun, merupakan penulis ...

Usaha berbasis pemberdayaan masyarakat lewat perkebunan pepaya dan durian yang digeluti wirausahawan Mas Jiwo Pogog di Desa Pogog, Kelurahan Tengger, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri kini ...

Tidak ada yang menyangka sebelumnya, sebuah desa kecil yang dulunya “begitu-begitu saja”, jarang dilirik pemerintah, kini jadi pusat agrobisnis yang memajukan masyarakat. Dulunya desa Pogog ...

Sudah lama saya ingin menulis kisah tokoh yang tidak terlalu mainstream[ed]. Kemudian ingat sudah lama juga saya mau menulis kisah perjuangan seorang dosen yang (setidak-tidaknya ...

Bagaimana pekerjaan lepas (freelance) bisa menyemangati? Perkara kerja “borongan” tanpa sistem remunerasi mau tidak mau harus berkutat dengan satu-satunya motivasi finansial: honor. Selama tiga bulan ...

Saya mempelajari fenomena musik koplo dengan dua kacamata: sosial dan hukum. Sudut pandang sosial memosisikan musik koplo sebagai bentuk penyaluran perasaan kolektif yang merefleksi kemiskinan, ...

Dalam sebuah jalan santai sore bulan September 2009, saya bertemu Ari. Waktu itu lalu lintas padat di persimpangan Mirota Kampus, Yogyakarta dan saya tertarik menghampiri ...

(bersambung...)

------------------------
Ilustrasi: Pinggiran Jakarta oleh @RatihAlRasyid
Tuesday, May 13, 2014
Ditulis oleh Fandi Sido
Kategori:

Bi-Pro Magazine dan Tantangan Media Bisnis

Sebagai situs informasi bisnis yang resmi baru tiga bulan beroperasi, BiPro-Magazine seperti "memasuki kandang singa". Persaingan laman web dunia bisnis di Indonesia saat ini tidak mudah, mengandalkan kekuatan konten dipadu kepiawaian pemasaran yang kreatif a la era media sosial. Mau tidak mau, Bi-Pro Magazine memerlukan senjata yang tepat untuk memenangkan hati pembaca, dan terutama calon pemasang konten dan pengguna jasa iklan. Memadukan kekuatan visual, strategi pemasaran digital, dan jaminan konsistensi.

Sungguhpun demikian, kemajuan Bi-Pro Magazine termasuk cepat. Dengan nama unik yang merupakan singkatan 'Bisnis (dan) Promosi Magazine', website ini berhasil membuat tanda nama baru di jagad internet. 
Jika dilirik sejak Desember 2013 lalu, laman dengan domain asal "kota bertuah" Pekanbaru ini sudah bisa menayangkan informasi-informasi perusahaan nasional di halaman depannya, berasosiasi dengan iklan program pemerintah daerah, serta menarik tema-tema unik yang bisa jadi belum termuat di media bisnis lebih besar. Bahkan ada perusahaan multinasional yang mengirimkan endorsment sewaktu peluncurannya. Ini jadi bukti permulaan yang cukup bahwa setidaknya, Bi-Pro Magazine punya latar "orang-orang bisnis" yang memadai.

Lantas, apa yang bisa menjadikan Bi-Pro Magazine sebagai situs bisnis mumpuni di Indonesia? Analisis berikut mungkin memberi petunjuk. 

Kunci media daring (online)

Secara teknis, setidaknya tiga unsur utama media dalam jaringan (online) sudah dimiliki oleh Bi-Pro Magazine. Ia memiliki domain internet yang mengasosiasikan sebuah nama yang unik (bipro-magazine.com), memuat konten yang selalu terbaharui, dan sudah menentukan target pembaca secara spesifik. Ketiganya tampaknya dipikirkan benar oleh manajemen, sehingga tampilan beranda laman Bi-Pro Magazine bahkan sudah mendekati standar laman berita kebanyakan di Indonesia. 

Bagian headline di bawah banner judul laman umum dipakai di beberapa media (Detik.com, luar negeri ada CNN, misalnya). Tajuk utama berupa empat berita bergambar yang tampil berganti-ganti lazim digunakan sebagai bagian atraktif dari sebuah website berita. Lagipula, sudah bukan zamannya lagi memuat berita ala New York Times atau The Washington Post yang tampilan digitalnya tak ubah selembar koran yang tulisannya rapat-rapat dan hurufnya kecil-kecil. 
Di sisi lain, fungsi navigasi umum sudah tersemat mulai dari Home, rubrik-rubrik konten, sampai Contact. Dengan menelusuri papan tombol di atas ini saja, tidak akan sulit bagi pembaca untuk mengakses latar depan dan latar belakang website ini dengan hanya sekali klik.

Bi-Pro Magazine juga sudah menggunakan format tata letak konten secara tiga kolom (three-column layout), yang memungkinkan editor dan admin melakukan pembagian konten berdasarkan jenis tulisannya. Di sini pengelola cerdik dengan memisahkan konten berita yang merupakan bagian inti, dengan konten-konten "atraktif" seperti berita bersponsor, iklan pranala luar, dan iklan mandiri. Bahkan foto Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu mendapat ruang khusus dengan animasi .gif yang berganti-ganti, bersusun dengan banner serba-serbi bernuansa lokal lainnya.

Dengan melihat sekilas saat membuka pertama kali, sangat mudah untuk mengenali bahwa laman ini adalah portal berita dan iklan.

Tapi, apakah itu cukup?

Analisis Visual


"Pembaca konten online hanya akan fokus membaca pada lima menit pertama."

Kutipan di atas lazim di kalangan blogger, sampai di sebagian kalangan jurnalis daring. Berbeda dengan membaca kertas, psikologi seseorang membaca tulisan di layar komputer jauh lebih rentan. Itulah mengapa durasi lima menit pertama mesti diperhatikan pembuat konten. Ketahanan mata, kesibukan kerja, dan preferensi gaya menggunakan komputer sangat memengaruhi apakah konten Anda akan dibaca orang secara utuh atau hanya setengah-setengah. Ini juga alasan kenapa tidak banyak berita online yang panjangnya melebihi 10 paragraf (tentu, ini juga jadi alasan kenapa konten berita selalu berpegang pada kekuatan paragraf lead, dan pemenuhan unsur 5W + 1H).

Bi-Pro Magazine tidak mengalami masalah dalam durasi konten, jadi bisa dikatakan laman ini memenuhi preferensi pembaca awal yang hanya bisa terpaut selama lima menit saja. Akan tetapi, itu jika ceritanya pembaca langsung lompat ke laman tulisan, mungkin mengeklik judul tulisan lewat Google atau Facebook. Bagaimana jika pembaca awal mendarat di laman pertama?

Mari kita ulas laman utama (depan) dari Bi-Pro Magazine, bagian per bagian.




Bagian pertama dan kedua analisis visual ini menyoroti komposisi header dan papan navigasi website. Sebagai laman berita, seharusnya Bi-Pro Magazine lebih menonjolkan papan navigasi ketimbang judul laman, dengan asumsi  bahwa akses terhadap konten lebih diutamakan pembaca ketimbang penampilan header. Maka, akan lebih menarik jika papan navigasi dipindahkan ke bawah banner Judul.

Sementara untuk header yang memuat judul itu sendiri, selazimnya ditaruh di bagian atas (sesuai pengertian namanya kepala). Agar lebih menarik, ukuran logo bisa diperkecil dan latarnya diganti dengan warna yang lebih netral. Ada banyak pilihan format header blog di internet yang bisa jadi panduan komposisi header yang optimal dan tidak mengganggu penglihatan. Biasanya, ukuran logo diperkecil sampai pada batas optimum, posisinya digeser rapat kiri, dan bisa difungsikan sebagai link menuju halaman depan.
Utak-atik komposisi header dan navigasi ini mudah dilakukan karena Bi-Pro Magazine masih menggunakan basis Blogspot yang relatif ramah dan fleksibel.

Untuk menyiasati agar tampilan tulisan nama dan logo lebih elegan dan ringan, bisa coba dengan mengutak-atik kombinasi jenis, ukuran, dan warna font. Ada beberapa font khusus di internet yang disarankan untuk tampilan header blog dan website, seperti Book Antiqua, Georgia, atau Helvetica. Sementara untuk bagian logo, karena warnanya cukup kontras (merah, kuning, hijau, dan biru), agar tidak mengganggu penglihatan bisa disiasati dengan mengecilkan ukurannya, dan dirapatkan ke bagian font nama.

Bagian ketiga perlu menyoroti warna judul tulisan (post). Umumnya, warna tulisan judul laman berita menggunakan warna-warna cerah yang mengundang ketertarikan pembaca. Menggunakan warna cokelat sebagai judul tulisan terkesan kurang menarik, karena warna ini lebih cocok untuk blog pribadi dan bukan laman publik.

Preferensi publik untuk membaca sangat ditentukan oleh kenyamanannya melihat komposisi warna di website. Latar halaman putih atau cenderung cerah akan menarik jika dipadu judul tulisan berwarna hitam atau oranye tua. Ataukah latar agak kekuningan dipadu dengan warna-warna judul dan link berwarna biru tegas.
Karena Bi-Pro Magazine mengandalkan konten berita, maka latar halaman relatif cerah dan warna netral akan sangat membantu pembaca menandai batas-batas kolom, batas antar-tulisan, dan batas iklan dengan konten non-iklan (Iklan yang warna-warni dan berkedip-kedip akan nampak lebih tegas di atas latar warna netral).

Bagian keempat analisis ini masih berkaitan dengan bagian ketiga, yakni latar dan kontras. Latar sudah disinggung di atas soal bagaimana memilah efek visual latar dan efek visual konten. Mengelola kontras antara judul tulisan, latar dan banner iklan akan membantu pengelola membentuk sugesti positif bagi pembaca.

Mengapa ini penting?

Menurut pakar psikologi media , ada kaitan antara pemilihan warna pada tampilan blog dengan tingkat kesetiaan pembaca. Warna-warna dan komposisi tampilan yang sedap dipandang akan membuat pembaca betah berlama-lama (yang tentunya baik bagi pemasang iklan), dan pembaca bisa lebih setia.
Forbes mencatat bahwa pelanggan setia merupakan "senjata pemasaran" paling ampuh, menyebarkan kegemarannya pada produk/jasa tertentu pada banyak rekannya lewat komunikasi mulut-ke-mulut.
(yang masih diandalkan di zaman digital seperti ini). Tentu saja, kalangan blogger dan pemerhati media juga masih memercayai bahwa website bagus akan bertahan lama. Kepiawaian pengelola web menyusun komposisi latar dengan tingkat kontras yang baik secara teknis bisa menimbulkan efek domino pemasaran yang menguntungkan.

Secara psikologis, warna-warna melambangkan suasana hati, dan karakter dari sebuah produk. Tak ayal, kesesuaian karakter produk dengan preferensi warna konsumen/pembaca sangat bertaut satu-sama-lain.

Situs Empower Your Self with Color Psychology mengemukakan bahwa warna-warna putih, hijau daun, oranye dan emas adalah kelompok warna yang sangat cocok digunakan pada media bisnis. Meski begitu, Warna cokelat (seperti yang digunakan Bi-Pro Magazine) tetap mengandung nilai keuntungan yang didefinisikan sebagai berikut:

Psychologically, brown is associated with strength and solidarity, comfort and earthiness, maturity and reliability.
"Secara psikologis, warna cokelat melambangkan kekuatan dan solidaritas, kenyamanan dan kecintaan terhadap bumi, kematangan, dan keandalan," demikian menurut situs itu. Sementara untuk pembagian pembaca menurut preferensi gender, warna cokelat bagi laki-laki diartikan sebagai simbol "menjamin kerahasiaan", "kekuatan fisik yang memukau", dan "perhatian terhadap aspek keamanan".

Perempuan, justru berpikir sebaliknya. Berbanding terbalik dengan kegemaran mereka pada makanan cokelat yang terbukti menghilangkan stres, Warna cokelat bagi perempuan merupakan pertanda karakter yang tertutupmembosankan, terlalu biasa atau terlalu dominan, bahkan cenderung kotor. Apakah Bi-Pro Magazine sudah melakukan pemetaan terhadap pembacanya, termasuk memperhitungkan minat pembaca perempuan?

Terlalu banyak warna cokelat membuat pembaca perempuan bosan, tidak tertarik, bahkan cenderung menilai kotor, menurut Psikologi Warna.

Tentu saja berbagai pertimbangan teknis di atas akan jadi perhatian teman-teman pengelola Bi-Pro Magazine, karena fase awal meluncurnya sebuah website memang masih akan menyisakan banyak kekurangan. Perbaikan teknis terkait warna dan komposisi lain akan bisa diterapkan asalkan tim teknis dan admin bekerja sama dengan turut memperhatikan kebutuhan psikologis pembaca. Ada banyak alasan kenapa situs-situs berita terbesar di Indonesia kini punya ratusan ribu pembaca setia, dan pasti preferensi visual termasuk di dalamnya.

Analisis Pemasaran

 Setelah membereskan kunci-kunci visual demi kesukesan sebuah laman portal berita, analisis berikut mencoba menunjukkan kunci-kunci keberhasilan sebuah website dengan senjata-senjata pemasaran.

Bi-Pro Magazine meluncur pada Desember 2013, yang berarti pada saat tulisan ini dimuat, usianya baru menginjak empat bulan. Konten dinamis yang diperbarui tiap hari sudah cukup menarik perhatian netizen untuk mengeklik dan membaca satu-dua berita. Tapi, bagaimana menjamin pembaca betah berlama-lama di sebuah portal berita?

Analis search engine optimization (SEO) yang juga kolumnis Forbes Jon Rognerud telah membagikan 5 kunci keberhasilan sebuah situs web. Jika kelima-lima ini dioptimalkan, maka sebuah laman berita bisa memberi jaminan keberhasilan pemasarannya, sekaligus membangun basis pembaca yang setia.

Kunci 1: Kekuatan Nama
Bi-Pro Magazine bisa dibilang sebuah nama yang kuat, khas nama lembaga media. Ada beberapa penerbit mayor nasional yang juga menggunakan jenis nama akronimi bergaris datar (-), dan terbukti berhasil.
Rognerud berpendapat, Arti nama sangat berpengaruh pada ketertarikan pembaca pemula. Ketika mendengar nama Kompas atau CNN, orang akan langsung mengaitkan pikirannya dengan berita (tentu saja faktor sejarah berpengaruh juga di sini). Begitu pula ketika pemirsa televisi mendengar kata Upin-Ipin, maka langsung berpikir animasi anak yang lucu, mendidik sekaligus menghibur.

Nama melambangkan visi. Dan karena Bi-Pro Magazine punya visi menjadi situs bisnis nomor 1, maka nama ini wajib dibawa secara kuat ke manapun pasar bergerak. Nama-nama ini juga penting dalam membangun pemasaran via media sosial. Di Facebook sudah ada nama Bi Pro Magazine, sementara di Twitter akun @bipromagazine sudah diikuti oleh sedikitnya 28 orang. Ini langkah awal yang baik untuk menanamkan nama brand jasa pada benak publik pembaca.

Kunci 2: Pasar yang spesifik
Mudah ditebak bahwa pangsa pasar Bi-Pro Magazine adalah orang-per-orang atau lembaga yang berminat, menaruh perhatian, ataupun terlibat aktif dalam bidang bisnis. Bank, korporasi perkebunan Sawit atau industri manufaktur kertas di Sumatra, atau perusahaan-perusahaan penyedia jasa logistik pasti akan tertarik jadi pengguna jasa portal berita khusus bisnis seperti Bi-Pro Magazine.
Ditambah lagi, bila sungguh-sungguh terlibat dalam persaingan jasa informasi bisnis dengan portal-portal terdahulu yang sudah terlanjur besar, Bi-Pro Magazine bisa menempuh banyak cara agar memenangkan hati calon pelanggan termasuk, bersaing harga layanan.

Karena portal bisnis menyasar segmen pembaca yang mengandalkan informasi yang serbadinamis, maka segala macam alat informasi bisnis hampir mutlak perlu ditampilkan sebuah situs. Bisnis logistik dan transportasi akan sangat senang dengan tampilan aplikasi peta rawan macet atau prakiraan cuaca, sementara para pelaku investasi selalu mencari harga saham terbaru dan atau nilai tukar mata uang dalam pembukaan dan penutupan lantai bursa. Portal bisnis memuat informasi spesifik yang dicari dan hanya dicari oleh pelaku dan pengamat dunia bisnis.

Pasar yang spesifik bukan berarti arus informasi pemasaran terbatas. Di Twitter ada banyak akun yang khusus mengelola informasi bisnis dan promosi, sebagaimana di kolom iklan koran-korang di seluruh Indonesia sudah mengakomodasi kebutuhan pembaca yang khusus mencari berita bisnis.
Bi-Pro Magazine punya keunggulan kompetitif di sisi ini karena bisa menguasai pasar lokal (Sekitar Pekanbaru atau Sumatra), dan membangun basis pembacanya secara lebih terfokus.



Kunci 3: Kesetiaan Pelanggan
Kesetiaan pelanggan di sini berkorelasi dengan kesetiaan pembaca. Situs penyedia informasi bisnis dan jasa promosi bisa membangun kesetiaan pelanggan dengan membuat pembaca betah mengunjungi situs. Adapun bagi calon pengiklan, komposisi dan tingkat keterbacaan situs web akan jadi faktor penting untuk mengeluarkan uang mereka.
Media generik seperti Google akan sangat membantu dalam membangun kesetiaan pelanggan. Kuncinya untuk trik ini adalah "mengikuti ke manapun pelanggan pergi". Sebuah website perusahaan akan selalu menanggapi keluhan pembacanya, membalas permintaan-permintaan mereka, dan atau menyediakan apa yang pembaca mau bahkan sebelum mereka memikirkannya.

Untuk membantu operasi ini ada banyak aplikasi seperti Trackur atau SocialMention yang bisa membantu perusahaan melacak publik mana saja yang membincangkan produk atau nama mereka di media sosial. Tanggapi dari sana, langsung, dan buat mereka mencintai produk Anda.

Kunci 4: Sumber pendanaan
Tentu saja membangun situs bisnis yang baik memerlukan modal yang diatur dengan baik. Meski mungkin tidak selalu harus besar, tapi modal yang sumber dan penggunaannya direncanakan dengan baik akan mendatangkan profit maksimal.
Sumber pendanaan dari eksternal mungkin sifatnya lunak, tapi ini bisa jadi alat bagi sebuah perusahaan media untuk mempertahankan bisnis sekaligus citranya. Siapapun penyandang dana operasional sebuah perusahaan media, harus dilayani sama baiknya dengan membangun kesetiaan pelanggan. Skala prioritas dalam penggunaan dana wajib ada, dan ada baiknya berhati-hati mengukur kebutuhan pengeluaran, termasuk untuk urusan pemasaran.

Kunci 5: Akses ke Pasar Distribusi
Menduduki urutan pertama di mesin pencari Google selalu membawa manfaat besar bagi sebuah website. Bi-Pro Magazine punya kemudahan melakukan ini karena masih memakai platform milik Google, Blogger. Meskipun, masih cenderung sulit mengarah ke Bi-Pro magazine bagi pembaca yang tidak mengetik kata-kata kunci yang paling terkait di kolom pencari Google.

Silakan coba kata-kata kunci seperti "portal berita bisnis", "berita promosi", atau "bisnis magazine", agak sulit untuk langsung menemukan Bi-Pro Magazine di halaman pertama hasil pencarian Google. Untungnya, ketika kata-kata kunci pencarian dibuat lebih spesifik, katakan saja "majalah bisnis dan promosi", maka hampir dua atau tiga baris pertama hasil pencarian Google berasal dari Bi-Pro Magazine.

Artinya, positioning Bi-Pro Magazine di dunia mesin pencari sudah cukup baik, dalam ukuran website yang baru dirintis beberapa bulan. Akses ke pasar distribusi ada banyak selain via Google, dan sangat bergantung pada kepiawaian tim teknis dan pemasaran untuk menembus celah-celah pasar yang terbuka itu. Meskipun, akan sangat membantu kalau distribusi informasi soal website ini disokong oleh aksi pemasaran di media sosial, seperti (katakanlah) menggelar kuis di Twitter, atau membuat poling pembaca di Facebook. Ada banyak bukti keberhasilan pemasaran lewat media sosial, dan Bi-Pro Magazine pasti bisa melakukannya juga.


Konsistensi


Pada akhirnya, hanya konsistensilah yang akan menentukan apakah Bi-Pro Magazine akan bertahan di dunia persaingan portal bisnis Indonesia. Ada banyak kasus laman-laman berguguran satu demi satu karena berbagai masalah inkonsistensi. Tapi selama pengelolaannya bertumpu pada kepuasan pembaca dan pelanggan, rasa-rasanya tidak berlebihan jika pembaca menaruh harapan keterbacaan setidak-tidaknya dua kali lipat dalam setahun pertama beroperasinya Bi-Pro Magazine.

Target tim pengelola Bi-Pro Magazine mungkin tidak muluk-muluk, tapi siapa yang tahu... harapan dan keyakinan para pembaca setianya jauh melebihi itu, dan itu bisa jadi motivasi untuk jadi lebih baik lagi. Membuktikan kemampuannya menuju situs bisnis nomor satu.


-------------------
Analisis ini ditulis oleh @FandiSido untuk Bi-Pro Magazine, 7 April 2014. Untuk membaca profil perusahaan Bi-Pro Magazine, silakan ke tautan ini.

Bi-Pro Magazine Menuju Situs Bisnis dan Promosi Nomor 1


Monday, April 7, 2014
Ditulis oleh Fandi Sido
Kategori:

Cerpen Tema Politik, Apa Salahnya?

*

Bukan. Bukan karena dikotomi minat saya yang menaruh bentuk karya seni dan politik dalam dua ruang yang berbeda. Di era Blogspot dan media warga di mana setiap orang berhak menayangkan konten (disesuaikan) apa saja, tidak ada batasan tertentu yang berhak memisahkan tema karya seni ini harus ini, atau tema karya seni ini tidak boleh itu.

Kegamangan saya semata-mata subjektif, dan terngiang-ngiang berhari-hari begini: apa sih yang beda dengan cerpen tema politik? Dibandingkan dengan (sebut saja) tema humaniora yang akrab, tema romantisme yang mendayu-dayu, atau tema kriminal yang mengguncang jiwa. Politik... tidak... saya belum klop saja menemukan keasyikan saat membaca cerpen... tapi temanya "keras" dan "penuh tipu daya" seperti politik.

Oke, mungkin ini terkesan metaforis. Biar tidak terlalu melebar dan menyinggung ideologi seni yang luhur itu (politik di banyak studi juga digolongkan seni), saya coba batasi saja pada pengertian cerpen dengan tema kesan politik. Dalam hal ini, bolehlah kita coba-coba membayangkan kata-kata yang sering dijumpai dalam apa yang saya sebut "cerpenisasi politik":

tikus, tikus kantor, tikus berdasi, kursi, suara, dagang sapi, korupsi (tidak..., kata ini masuknya kriminalitas --politik sering kali diafiliasikan saja sebagai 'alat' untuk melakukannya)

Kemudian, tiba-tiba suatu hari saya, atau kamu, mendapati cerpen online yang judulnya (misalnya) "Tikus Berdasi Andalan". Berat rasanya untuk mengeklik. Pertama, karena hampir pasti yang dibahas adalah intrik politik; kedua, biasanya cerpen-cerpen begini hanya bermain di metafora, perandaian, cerminan (refleksi), dan tidak ada esensi.

Maksudnya, hei... 'tikus berdasi', apakah frasa ini terafiliasi pada bidang selain politik? Jelas tidak kan.

Bagi saya, munculnya cerpen-cerpen metaforis yang menggambarkan ironi kehidupan politik kita yang belum dewasa hanya berujung pada komentar "O... ya memang betul. Memang seperti itulah kita." Padahal, cerpen sebagai bentuk kekuatan seni tulis punya tugas untuk memberitahu, mengingatkan, bahkan menggugah. Sayangnya, deskripsi dalam cerpen politik sering kali harus terkungkung pada kursi, tikus, uang kertas, dan dasi saja. 

Cerpenisasi politik jika tidak digali dengan orisinalitas pemikiran, hanya akan menyajikan realita pahit kehidupan sebatas yang dipahami pembaca sebagai kebenaran umum. Sama halnya dengan tulisan cerpen tema bencana (ini sering saya temukan juga), pembaca tahu intinya adalah empati dan simpati. 
Pesawat jatuh pada Minggu pagi kemudian Senin sorenya dicerpenkan. Tebak saja..., deskripsi dan alurnya tidak akan jauh-jauh dari apa yang terjadi di tempat kejadian. Padahal, ekses dari keberadaan cerpen seperti itu juga akan mengganggu bagi sebagian orang yang pernalaran simpatinya sedikit lebih peka ketimbang penulis.

Meski mungkin agak jauh, saya teringat kalimat budayawan Radhar Panca Dahana dalam bukunya Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia (2001, Yayasan Indonesiatera).

Dalam buku itu disebutkan: 
Seni modern di Indonesia (dalam arti yang non-tradisional) telah lama mengalami pasang-surut terhadap lingkungan politiknya sendiri (negara). Ada masa manis sendiri dalam cerita persahabatan Presiden Sukarno dengan Pelukis Henk Ngantung, atau puitis Chairil Anwar dengan Perdana Menteri Sjahrir.
Ada pula masa di mana banyak terbentuk organisasi-organisasi kesenian yang berafiliasi dengan kekuatan-kekuatan politik tertentu, seperti: Lekra-PKI, Lesbumi-NU, atau LKN-PNI. Konflik yang terjadi lalu punya konsekuensi-konsekuensi material seperti pelarangan, pemutusan hubungan kerja, dan lainnya.
Saya tidak memasalahkan hubungan mutualisme yang romantis antara cerpen dan politik yang jadi temanya. Pun hubungan konfliknya sebetulnya tidak separah yang dibayangkan atau bisa diukur dengan parameter kesenian. Toh, dalam sejarah industri seni kita bahkan lelucon politik bisa jadi bahan buku heboh yang laris sebelum dilupakan.

Saya khawatirnya, tema politik bisa jadi advokat yang menumpulkan kreativitas penulis dalam mencari tema lain. Saya tidak mengatakan bahwa cerita pendek fiksi harus berputar-putar pada tema sosial-humaniora saja. Intinya adalah, politik adalah sempit dari ruang imajinasi yang sesungguhnya bisa membentang luas, dari sekolah-sekolah, sampai rumput tetangga kompleks yang syahdu.
Unsur kedekatan dalam fiksi sebagaimana yang lazim dipahami sebagai syarat penting sebuah cerita tertulis tidak bisa dipenuhi oleh cerpen-cerpen tema politik, kecuali bagi mereka yang memang tenggelam di dalam pergelutannya. Mungkin ini juga alasan kenapa saya lebih menikmati sentuhan seni cerita dan intrik politik Indonesia lewat karikatur-karikatur semacam Mang Usil di Kompas atau di banyak gambar komikus di koran-koran lokal. Di sana, bahkan tanpa paragraf panjang, saya sebagai pembaca memahami kepahitan-kepahitan politik sebagai sebuah alat sosial-bernegara yang utuh dan mengasyikkan.

Silakan bikin cerpen atau puisi tema politik, bagus untuk latihan. Kelompok pembacanya juga pasti masih banyak. Saya sendiri sampai sekarang masih meraba-raba cara menikmatinya. Yang penting adalah, bagaimana sudut pandang kita sebagai pembaca dibawa oleh kemampuan penulis meramu temanya. Kalau setiap hari kita disuguhi berita politik, tajuk rencana politik, sampai film pelesetan tema politik, rasanya sayang saja kalau fiksi-fiksi cerpen juga harus hanyut ke tema yang sama.

Bagi saya, fiksi cerpen selalu jadi oasis yang mengobati dahaga. Pelemas saraf di antara banyak hal yang menegangkan, menyebalkan. Ketika kata-kata tersusun rapi dan enak dilesap, hal-hal pahit dari bencana, hari yang membosankan, dan pahit-pahit politik bisa sejenak terlupakan. Biarlah seni tetap sejuk, mengalir sebagai air dan angin yang menghidupkan.

------------------------------
Ilustrasi merupakan dokumen pribadi.

*
Wednesday, April 2, 2014
Ditulis oleh Fandi Sido
Kategori:

Sepenggal Cerita Nisa


Khairunnisa berdiri memberi jarak dua kakinya, membiarkan angin meniup semua sisi roknya yang menutup hingga mata kaki. Dia terkadang menutup mata agak lama, merasakan bunyi lalu lintas sore di sekeliling yang terkadang lebih sunyi daripada kegundahan yang meluap-luap di hatinya. Kemudian ia seperti tenggelam saat memandangi aliran Sungai Code yang di bawah sana mengalir dengan sisa-sisa pesan dari pegunungan.

Pertigaan ini adalah kesukaan Khairunnisa. Dengan berdiri menghadap ke barat selama satu jam di atas tanggul itu ia bisa melihat Jembatan Kleringan yang baru saja rampung sejak dua tahun terakhir, dengan puncak-puncak pagarnya yang berbentuk bunga teratai  dan dipolesi cat hijau zamrud berlis kuning emas.

Di waktu sore sampai tengah malam, perlintasan ini dibumbui puluhan pasang muda-mudi yang memarkir sepeda motor mereka persis di bahu jalan kemudian bercengkerama tentang romansa remaja. Di utara, perkampungan Code yang tersohor itu berjajar masih padat, dengan serambi-serambi rumah semipermanen seperti gardu penjaga atas aliran air yang tak pernah benar-benar tinggi. Satu-dua lampu kekuningan sudah menyala di bawah sana, pertanda kehidupan tahap kedua setiap harinya baru saja dimulai, saat anak-anak kembali lapar setelah seharian bermain-main di tanggul. Agak ke selatan, desiran halus butir-butir air pecah di udara, terkena sisa sinar matahari dan menghasilkan rupa mejikuhubiniu, menyusul semburan keras pemancur pada kolam Tugu Adipura yang tingginya sekira lima belas meter. Tatkala satu dari enam belas pancuran air itu menyemprot lebih tinggi dari yang lainnya di puncak tugu, para pengendara sepeda motor di jalan menikung-dan-menanjak di bawahnya sampai menutup mata dan mengira apakah hujan benar-benar turun di bulan Juni yang berdebu.

Khairunnisa melonggarkan lipatan dua lengan di dadanya. Napasnya terasa agak sesak. Bukan cuma karena sudah hampir setengah jam ia berdiri seperti itu, tapi juga karena asap polusi dan sisa abu vulkanik yang terbang dari aspal terlalu sering ia hirup. Maka ia longgarkan posisi kakinya, menyeka jilbab di kepalanya, sampai akhirnya menyadari bahwa sejak setengah jam itu ia sebenarnya hanya terbengong-bengong, bukannya memikirkan isi surat yang hampir hancur teremas di tangan kanannya. Ia angkat lagi kertas merah muda itu ke dekat matanya, mencoba mengingat apa yang telah dibacanya dari sana, dan menghela napas panjang. Untuk sesaat lagi ia ingin menikmati lembayung senja dengan sapuan udara dingin yang mulai turun. Nanti saat mendapatkan jawaban untuk langkah selanjutnya, mungkin ia akan melempar remasan kertas itu ke air.

Surat itu tiba saat jamaah isya baru saja bubar dari masjid-masjid. Khairunnisa mendapatinya tergeletak di depan pintu kamar kosnya, dekat sepatu hak rata warna coklat. Saat ia ketahui surat itu ditujukan padanya –nampak dari tulisan namanya yang tertera di bagian depan amplop—ia cepat-cepat masuk kamar dan menunci pintu dari kamar. Surat itu tertanggal 29 Mei, yang berarti  baru saja ditulis ketika diletakkan di depan pintunya. Dengan rukuh masih dikenakan, ia menjatuhkan badan ke kasur lantainya dan membaca isi surat itu.

Assalamualaikum, Nisa.
Rasa-rasanya terlalu banyak gengsi aku, sampai tidak berani mengatakan ini langsung kepadamu. Rasa-rasanya terlalu angkuh pula, karena aku hanya berani mengatakan ini lewat surat dan bukannya lewat cara yang lebih beradab.
Nisa, aku minta, andainya kamu tidak keberatan, jangan terlalu dekat –atau kalau bisa, jangan dekat-dekat Azril lagi. Aku takut... kamu tahu... aku belum siap untuk semua yang belum bisa aku ungkapkan. Kiranya kehidupanku dan Azril berjalan biasa-biasa saja, setelah duka yang kami alami. Teruskan saja hidupmu, dan kami akan teruskan hidup kami. Dan aku berterima kasih untuk enam minggu kebersamaan yang menyenangkan.
Hormat, Rofik.

Kebersamaan yang dimaksud Rofik itu sebenarnya tidak persis enam minggu. Akhir Maret waktu itu, ketika Khairunnisa tak sengaja menginjak kaki seseorang di dalam kerumunan sebuah Pameran Pendidikan Inggris di Hotel Novotel, pusat kota. Saking sesaknya ruangan kecil itu siang jam dua belas itu, Khairunnisa tak bisa bernapas dan harus beberapa kali keluar dari kerumunan untuk sekadar mencari napas segar di tangga. Dalam usahanya kesekian kali itulah, dia tersandung dan menabrak seseorang yang baru datang. Laki-laki itu, satu-satuya yang membawa anak kecil di acara sedemikian gengsi itu, langsung jadi pusat perhatian. 

Khairunnisa lalu meminta maaf karena telah nyaris membuat laki-laki itu jatuh, dan membuat anaknya nampak takut. Rofik memafkan, dan mereka kemudian terlibat dalam obrolan asyik soal kampus-kampus di Inggris yang mungkin jadi khayalan atau kenyataan bagi mereka, sampai hal remeh-temeh tentang sedikit keseharian mereka.

Azril, anak Rofik yang masih kelas satu SD, banyak menyimak saja, tapi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya setiap kali diberi permen dan dicubit oleh Khairunnisa. Mungkin di mata anak itu, perempuan lincah ini mirip sosok orang yang pernah menyusuinya. Akhirnya begitu saja, Rofik dan Khairunnisa membangun kontak pelan-pelan setelah itu.

“Ada risikonya... dekat dengan seorang duda.”

Khairunnisa mendengarkan peringatan kakak kelas yang juga teman satu indekosnya itu, suatu Magrib di akhir bulan. Waktu itu, ia dan Rofik mulai sering bertemu untuk sekadar makan siang dan atau mengingatkan pesan singkat yang lupa terjawab.

“Kamu tahu, seorang yang pernah beristri sejatinya masih punya sisa kehidupan dari masa lalunya. Apalagi, Mas Rofik anaknya masih kecil. Mungkin...,” ujar kakak kelasnya yang dituakan itu, “dia ramah karena masih bersedih, dan merasa kamu mungkin klop dengan anaknya. Belum tentu, ia benar-benar mencari seseorang. Tiga bulan itu waktu berkabung yang masih singkat, ketenangan hati dan pikiran seorang lelaki biasanya butuh waktu pendek, tapi ini tidak berlaku buat semua lelaki juga. Jadi, kamu tetap harus jaga jarak.”

“Tapi Mas Rofik sama sekali tidak ada niat untuk dekati aku, Kak.”
“Mungkin memang dia belum tertarik. Terus... kenapa dia ajak-ajak kamu makan siang segala sampai berapa kali tu... enam?”
“Lima kali.”
“Itu lima kali saja sudah terbilang sering. Nisa, kamu itu masih ada tugas belajar di kampus. Kakak tidak ragukan kecantikanmu, sikap lembutmu, penyayang sama anak-anak, lelaki normal –apalagi yang dewasa- pasti akan mengidolakan perempuan saleh seperti kamu.”
“Mas Rofik... dia baik sebagai teman. Saya jarang ketemu laki-laki yang menunjukkan persahabatan yang berjarak –tapi akrab seperti yang ditunjukkan Mas Rofik.”
“Itu bentuk kebingungan laki-laki.”
“Mungkin, tapi... apakah saya harus putuskan silaturahim begitu saja?”
“Itu terserah kamu, Dik. Tegaslah mengambil keputusan.”

Tapi keputusan yang dibilang tegas itu tak pernah benar-benar tiba. Khairunnisa di minggu-minggu berikutnya malah terlibat makin dekat dengan Rofik dan anaknya. Meski naluri kewanitaannya yang luhur masih menjaga untuk tidak bersentuhan atau berboncengan atau... saling tatap terlalu lama, ia mulai merasa kedekatannya nyaman sebagai teman yang mengerti fungsi hubungan sosial yang syaratnya jelas dan tidak rumit.

“Orang bertemu, berkaitan, dan menikah. Mungkin, setiap manusia perlu tahu bagaimana prosesnya dipertemukan oleh takdir.”
Rofik seperti menggumam sendiri suatu sore di kafe ayam goreng tepung tempat mereka bertiga duduk satu meja.
“Kamu tidak malu, Nisa?” Rofik tiba-tiba bertanya.
“Malu kenapa Mas?”

Rofik tidak membalas dengan kata-kata, melainkan memancing perempuan itu untuk menyadari sekeliling. Dari semua meja di kafe makan itu, hanya meja mereka yang diisi bertiga bak keluarga. Yang lain ada yang berdua pasangan, ada yang berempat atau berenam rombongan sambil tertawa cuek, bahkan ada yang sendirian dengan airmuka agak canggung dan terganggu.

“Oh... sebenarnya. Rada aneh juga sih. Saya seperti...”
“Hm....”
“Tapi jangan khawatir, Mas. Aku dan Hafidz kan kayak kakak adik, jadi...”
“Sungguh?”

Jawaban Khairunnisa berhenti di situ.

Bahkan sampai beberapa hari setelah sajian makan sore itu, Khairunnisa masih menikmati kebahagiaannya yang misterius. Separuh isi pikiran menggugat keyakinannya soal seberapa dekat batas yang ia pilih untuk hubungan visual laki-laki dan perempuan. Tapi bagian pikirannya yang lain menyuruhnya menunggu perintah atau permintaan yang jelas dari seorang laki-laki dewasa. Untuk selebihnya, ia merasa naluri keibuannya dilatih begitu saja. Azril anak lucu yang tidak terbantahkan.

Tapi setelah surat itu tiba di genggamannya, ia jadi tahu jawabannya.
Sebenarnya ia sudah sering membaca dan mendengar kisah-kisah perempuan yang terjebak dalam sisi perasaan yang terasah tapi harus berhenti karena ingatan soal siapa diri dan di mana posisinya. Meski begitu ia menikmati saja banyak momen di minggu-minggu belakangan ini. Baginya, Rofik adalah profil laki-laki menyenangkan, terlepas dari bagaimana akhirnya ia mengambil keputusan penting itu. Mungkin juga, ia tak cukup berani untuk menabrak aturan umum dan mendesak perasaannya lebih jauh.

Ia lemparkan tangan kanannya ke belakang, dengan harapan kertas di genggaman itu bisa terlempar lebih jauh ke depan sana, kemudian hanyut oleh aliran air Code sampai ke Laut Selatan. Tapi ia urungkan niat itu. Kertas itu ia buka kembali, kemudian ia remas, dan masukkan ke saku kardigannya. Ia melompat turun dari tanggul dengan dua kaki mendarat bersamaan. Kemudian tanpa ia sangka, sebuah sepeda motor yang ia kenali melintas.
“Kak Nisaaaaa...!” suara teriakan kecil itu. Azril menjauh dibawa laju sepeda motor ke tengah keramaian.

Khairunnisa tersenyum tanpa suara. Seiring senja yang menarik diri di ufuk sana.


Friday, March 7, 2014
Ditulis oleh Fandi Sido
Kategori:

Cerita Pendek atau Cerita Panjang? (1)



Selama 2011 sampai 2012 sebenarnya saya sudah menyusun dua naskah panjang fiksi, novel --kamu bisa menyebutnya. Tapi setelah bergelutan mengirim-dan menunggu lewat dua penerbit mayor (maksudnya, benar-benar besar) naskah-naskah itu gagal dimuat jadi buku. Sejak itu, proses kepenulisan fiksi saya berhenti sementara pada naskah panjang.

Sepanjang 2013 bisa dibilang saya fokus menggarap naskah-naskah cerita pendek, lewat blog kompasiana.com/afsee. Dan alhamdulillah, tidak ada rintangan  berarti (kalau tantangannya, banyak!). Mengapa saya memutuskan fokus menyusun naskah-naskah cerpen ketimbang naskah panjang bentuk novel? Ada banyak pertimbangan teknis dan nonteknis, sebenarnya.

Meskipun insiden 'ditolak penerbit' rasa-rasanya agak traumatis juga, tapi bukan itu jadi alasan utama saya untuk berhenti sejenak menyusun naskah panjang. Begini.

Bentuk-bentuk fiksi pendek (cerpen, cermin, cerlat --cerita kilat/flashfiction) punya tingkat kesukaran sendiri yang, dalam pemikiran saya, sama sulitnya dengan mekanisme penyusunan naskah panjang. Tentu saja unsur-unsur penyusunnya seperti tema, alur, penokohan, latar, dan konflik semuanya harus ada, setidak-tidaknya tiga dari mereka. Tapi, dalam proses tulisnya, naskah cerpen menantang penulis untuk memikirkan lebih banyak penyelesaian cerita, ketimbang alur perkembangannya.

Cerpen melatih penulis untuk berpikir cepat dan cermat, tentu saja ini karena membaca cerpen hanya memberi waktu singkat (apalagi yang ditayangkan online di mana menurut survei, pembaca hanya bisa fokus di 5 (lima) menit pertama pembacaan, dan selebihnya lompat-lompat).

Cerpen melatih penulis untuk memadatkan cerita sedemikian rupa, berasal dari unsur-unsur dan hasil imajinasi yang bisa jadi lebih panjang, dan lebih kompleks. Berbeda dengan cerbung yang memungkinkan penulis menyajikan kelengkapan unsur cerita secara lebih utuh, cerpen hanya menyediakan maksimal 10 halaman MWord, atau sekira 10.000 karakter non-spasi sebagaimana prasyarat tayangan majalah/koran. Bukankah ini menantang?

Saya sedang banyak mengikuti tulisan-tulisan cerpen di laman The New Yorker. Pengalaman sejauh ini mengajarkan bahwa sebetulnya, cerpen-cerpen di media dalam negeri kita sebagiannya terlalu memuja 'akhir yang mengejutkan', sehingga banyak penulis --termasuk saya sendiri-- mati-matian menyusun ide singkat ini supaya paling tidak, cerpen menyajikan kejutan yang memuaskan pembaca.

Di "luar sana" tak terkecuali The New Yorker, cerpen-cerpen yang menarik tidak selalu berakhir mengejutkan khas cerita detektif atau tragis dalam roman-roman pendek. Cerita pendek mengalir begitu saja, berkisah keseharian seseorang, lingkungan latar yang digambarkan sangat detil sehingga menyajikan latar budaya, dan akhirannya yang di satu sisi biasa-biasa saja, tapi cukup membuat pembaca tersenyum.

Alice Munro (82), penulis Kanada sang penerima anugerah Novel Sastra 2013 itu, pun sama. Cerpen-cerpennya singkat, berlatar kisah keluarga, tokohnya kebanyakan anak perempuan, dan sangat dekat. Tidak banyak kejutan di akhir dan penuturannya sangat bersahaja.

Sudah cukup di situ. Paling tidak, sudah bisa disepakati bahwa menyusun cerpen itu bisa jadi rumit juga, bukan?

Novel, sebagaimana langgamnya gaya bertutur abad pertengahan sampai abad kesembilan belas, cenderung mengamini gaya bertutur seperti ini. Sederhana, tidak terburu-buru, dan akhirannya sangat klasik -- banyak yang cenderung mudah ditebak. Mungkin akan sulit menerima standar penulisan novel-novel modern era Stephen King atau John Grisham yang rumit dan penuh pemaparan teknis. Intinya, naskah panjang tentunya butuh pemikiran yang lebih banyak dan bahkan berlapis. Akan tetapi, seperti yang saya bilang di atas, bisa jadi tidak mendiskreditkan penyusunan cerpen yang sebagian orang anggap "Ah, lebih gampanglah!"

Jadi, ihwal memilih menulis cerita pendek atau cerita panjang, menurut saya tergantung minat terhadap proses saja. Saya sedang dalam tahap menikmati proses pembelajaran alur dan latar yang tidak "biasa-biasa saja", sehingga rasanya masih cukup berkecimpung di jenis naskah cerpen ketimbang novel yang akan menyita banyak stamina. Daripada menyusun naskah-naskah panjang yang ceritanya biasa-biasa saja atau mengambang tidak tertuntaskan, saya memilih menyelesaikan pemahaman saya terhadap teknis-teknis kepenulisan yang baik dalam sajian cerita-cerita paling sederhana, dan mudah mendatangkan masukan pembaca.

Masih banyak bahasan soal ini, tapi saya harus ke acara "arisan" dulu. :D

*
Thursday, March 6, 2014
Ditulis oleh Fandi Sido
Kategori:

Megi dan Gambar 'Syur'



*

Hari Kamis, waktu yang selalu panas di Gang Kamboja. Pikir-pikir di kepala Megi, mungkin ia tidak akan sempat menghadiri acara ulang tahun temannya. Sinar matahari yang terlalu panas mungkin akan melunturkan keteguhan hatinya sampai ke tanah. Bukan apa-apa, dia cuma tidak percaya diri. Pikir-pikirnya terlalu banyak berputar pada "apa aku akan nyambung tidak ya dengan obrolan mereka?" dan "apakah nanti si Baron datang tidak ya ke situ? Kan malu."

Tapi ada satu kegalauan yang paling sering mampir di kepala Megi. Di situ di bawah jendelanya, ia bercermin. Pecahan cermin berbentuk segi banyak itu sudah lama terduduk di pinggiran kusen. Ibunya bahkan sudah beberapa kali menegur kalau-kalau ia bisa tersayat pinggiran tajam atau cerminnya jatuh ke kasur yang terhampar tepat di bawahnya, pas saat ia tidur siang. Tapi Megi punya alasan lain untuk itu: "Kalau seseorang masuk lewat jendela, kakinya bisa putus!" Kalau sudah begitu ibunya diam dan berlalu menelan kekalahan. Tapi sumber kegalauan Megi bukanlah cermin. Bukan. Cermin itu sudah ada di sana saat ia menduduki kamar itu pertama kali. Kegalauannya adalah soal benda lain yang ada di kasurnya: telepon genggam.
Ia tatap telepon genggamnya lama-lama, memiringkan kepala --yang membuatnya mengukur keberuntungan entah pakai batasan apa--, kemudian menggeleng cepat. Ia tidak ingat, kenapa ia bisa begitu.

Dulunya Megi orang yang cuek. Cuek sekali, bahkan. Ia tidak pernah memperhatikan dandanannya. Ia tak pernah membawa rambutnya untuk dipotong di seorang profesional. Hitung-hitungan hariannya cuma habis paling-paling sampai sandal yang putus, potongan tempe hasil umpan mancing yang bisa dihibahkan ke ibu untuk makan malam, dan atau anak laki-laki mana lagi yang tadi sore lari pulang sambil menangis kemudian melaporkan asbab benjol yang dialaminya di kepala dan kaki. Bagi Megi dandanan adalah kungkungan. Wajahnya berat saat dipaksa memakai bedak. Badannya pegal-pegal kalau harus membawa tas-tas plastik atau barang-barant tidak penting lainnya. Singkat kata, ia pejalan kaki telanjang. Ke mana-mana tak ingin susah.

Tapi sifat cuek  itu tidak lantas menjauhkan Megi dari orang-orang. Ia akrab dengan banyak anak, dengan sekelompok mahasiswa, bahkan dengan kepala desa. Ia jarang merasa... kalau pembawaannya yang ceria dan tidak pernah melihat masalah malah disenangi orang-orang. Mungkin teman-teman sebaya kecilnya memang belum melihat  masalah itu apa, dan orang-orang dewasa itu merasa senang jika satu-dua jam saja bisa melupakan masalah-masalah hidup mereka pas bercanda bersama Megi di warung makan. Jadi begitulah, Megi kenyang banyak di jalan-jalan dan bukan di rumahnya. Ia tak pernah merasa hilang walaupun tidak membawa bekal apa-apa. 
Sifat cuek Megi mulai luntur saat usianya masuk sebelas. Di lingkungannya yang bertingkat-tingkat, ia melihat banyak jenis orang, berupa macam anak. Dan di pikirannya, ia paling tidak bisa kalau harus bergaul dekat dengan anak orang kaya, anak orang berpunya. Ia bukannya iri, hanya merasa "bagaimana begitu", melakukan penyesuaian-penyesuaian sosial yang dikatanya "seperti berpura-pura."


Pikiran-pikiran tahun-tahun lalu itu masih membayangi Megi. Sama seperti hari ini, ketika ia harus memaksakan dandanannya lebih rapi, lebih wangi, dan gaya bicaranya lebih sempurna untuk bertemu sekelompok teman dari kalangan atas. Setelah turun dari motor seorang mahasiswa yang rela mengantarnya dengan imbalan dicomblangi dengan tetangga nantinya, Ia masuk ke rumah itu bahkan harus melepas sandal dan kemudian ditegur  dan kembali memakai alas kakinya itu. Rumah itu dua tingkat dengan balkon dalam yang ditopang tangga berputar. Khas rumah-rumah "istana idaman" yang dibangun pengusaha kelas menengah yang ingin diakui sebagai kelas tinggi. Teman yang mengundang, Siska, penampilannya coba sedikit mengimbangi. Hanya kemeja lengan panjang kasual yang lengannya digulung sampai siku, dipadu jins biru yang lebih nampak putih dan dengan tas kecil yang menggantung di pundak. Megi agak heran juga kenapa tas dibawa-bawa dalam rumah begitu.


"Ini hape, Megi. Aduh ya Alloh, kamu kayak enggak punya hape aja." Siska memukul paha Megi sedikit genit. 
Teman satu ini, dalam pengamatan Megi beberapa bulan terakhir, agak-agaknya memiliki kelainan jiwa. Lebih suka gaya tomboi sepertinya ketimbang gaya putri princess seperti kebanyakan anak orang kelas atas palsu. Megi tersenyum kambing, mengangguk hormat kemudian menyambar dua tahu markodel yang bertepung tebal, dikunyahnya sampai habis. 
"Aku enggak simpan hape di tas. Di saku sini," balas Megi sambil menepuk sisi pinggul kirinya yang menonjol berbentuk kotak.
Mendengar itu Siska mengangguk, seperti tahu atau sok tahu. Kemudian perbincangan mereka ke sana- ke mari sampai tamu akhirnya mulai sepi. Siska beberapa kali harus pamit dari kursi itu karena melayani teman-teman tamu yang lain dan atau menemui satu-dua keluarga yang membawa anak laki-laki mereka dengan maksud sangat agresif yang, Siska tidak suka.

Siska baru berteman dekat dengan Megi satu atau dua tahun terakhir. Megi sendiri lupa. Pertemuan itu terjadi saat seorang anak perempuan turun dari mobil mewahnya dan berakhir dengan muka cemberut di tengah kantor kelurahan. Merasa tidak disambut apa-apa --memang hanya ada dua petugas berseragam PNS di situ: satunya sibuk dengan mesin ketik sementara lainnya khusyuk memasukkan bulir-bulir mi ayam ke mulutnya. Memang jam sebelas waktu itu, jam makan siang yang dimajukan satu jam seperti biasa, meski berakhir satu jam lebih lama dari waktu seharusnya. Kantor Kelurahan Deresan Caturtunggal tidak pernah ramai kecuali saat persiapa Posyandu dan atau pilkades-pilkada. 
Hari-hari senggang begini, Siska melipat dua lengannya di depan dada dan mulai menelepon orang di dalam mobil, menyuruhnya ikut campur.
Barulah saat seorang berbadan kekar dan berkaca mata hitam masuk dengan tok tok bunyi sol sepatu ke tegel putih kusam itu, kedua PNS mengangkat muka, mengangguk hormat bercampur centil. Siska menyampaikan maksudnya bahwa akan mengurus KTP, dan harus cepat karena pertama ia harus segera membawa KTP-nya yang jadi itu ke Polres dalam waktu dua hari untuk penerbitan SIM mobil, dan kedua karena warga di situ seharusnya kenal siapa ayahnya. Pengawal berkaca matanya berdeham, dan seperti tersambar petir kedua PNS saling tukar kertas dan berkas, menjatuhkan pulpen sampai kikuk luar biasa. Walhasil, pengurusan itu kelar dalam sepuluh menit saja. Angka ukuran umur minimal disamarkan sedemikian rupa.
Sekeluarnya dari Kantor Kelurahan, Siska tersandung sesuatu dan nyaris terjatuh. Saat akan mencari tahu apa yang menyandungnya, kepalanya sudah langsung pusing dan pandangannya gelap. Sesaat sebelumnya ia melihat sebuah benda bulat meluncur dan melambung ke arahnya, sebelum akhirnya kedua matanya pegal luar biasa, seperti dipukul keras ke dalam. Ia terjatuh di lengan raksasa si pengawal.
"Woi!, Siapa itu?" kata si Pengawal ke arah lapangan di samping kantor. Itu lapangan voli yang dipakai untuk main olahraga apa saja --terkadang untuk ajang berkelahi.
"Saya, Pak. Saya, Pak!" kata seorang anak laki-laki kecil berlari ke arah dua orang tamu kantor itu. Setelah memperkenalkan diri sebagai Megi, anak ini tertawa cekikikan melihat muka terkejut dua orang di depannya, terlebih anak cewek rapi yang masih kesakitan memegang dahinya.

"Oh! Jadi kamu cewek to!" kata si pengawal. "Ayo  cepat, minta maaf ke Mbak Siska."
"Maaf, Siska."
"Mbak, Mbak Siska, panggilnya yang hormat tho," ujar Siska dengan air muka masih masam. "Kan kamu yang salah." 
"Lo, memangnya kamu sudah ada suami? Sudah tua?"
"Beluuumm...!"
"Kalau begitu jangan mau dipanggil Mbak. Non saja, tapi itu kalau kamu orang Jakarta."
"Aku orang Jawa."
"Ya sudah. Jangan mau. Aku minta maaf, Siska. Kalau mau, aku bayar kesakitanmu itu dengan traktir makan nasi telur, di warung itu." Megi, berani-beraninya, menawarkan anak orang kaya itu makan nasi telur. 
Setelah berpikir lama dan saling pandang dengan pengawalnya, Siska menerima tawaran itu. Pun, karena pengawalnya yang lebih lapar dari mereka berdua. Dua piring porsi sayur dengan telur dadar habis bersama dua jus suplemen yang disusui. Siska memutuskan berteman dengan Megi sejak itu, apalagi sejak tahu kalau traktiran nasi telur tidak sedikitpun dibayar oleh Megi. Dasar, anak itu berhutang sana-sini.

Di rumah Siska sore itu, tiba-tiba datang Rustam, si pengawal yang kini sudah ditumbuhi jenggot belepotan di dagunya. Ia pernah bilang kalau itu terinspirasi sebuah film bajak laut yang keren. Keren apanya, pikir Megi. Malah mirip penjaga Merapi. 
Rustam datang membawakan telepon genggam majikan mudanya. Siska mengambil telepon genggam itu dan langsung memperlihatkan sesuatu kepada Megi yang kekenyangan. Praktis di jelang malam ini tamu-tamunya sudah pulang. Memang mereka merasa tidak akan kenyang di tempat ini --karena makanannya cuma sedikit dan mereka tidak bisa makan dengan cara kampung yang bisa menggasak apa saja sampai ke dalam perut dan saku-saku tas yang sengaja dikosongkan. Nampaknya keluarga Siska paham tabiat orang kampung yang ditakutkan rakus dan oportunis.

Megi melihat layar telepon genggam itu kemudian tercengang. "Wow! Itu kamu?"
Siska mengangguk. Pun di belakangnya tersenyam-senyum si Rustam dengan malu. Ditegur untuk jangan mengintip, pengawal itu kikuk setengah mati, nampak bodoh di balik otot-ototnya yang ditutup seragam safari hitam.

"Aplikasi edit foto, Gi. Aku masukin fotoku, potong sedikit, terus program ini olah jadi karikatur lucu. Ada banyak pilihan gaya dan pakaiannya. Nah, aku pilih yang ini barusan. Bagus enggak?"

Tapi Megi menggeleng-geleng. "Seksi...," jawabnya yang tidak nyambung sama sekali dengan pertanyaan.
"Memang seksi. Ini kan cuma kartun. Lagipula cuma kepalaku yang asli, yang lainnya kan bikinan komputer."
"Ya tapi tetap saja. Memangya kamu mau jadi bayang-bayang di kepala laki-laki berpakaian begitu aslinya? Lagipula, ini sama bentuk badanmu yang asli tidak jauh bedanya. Cocok di sini karena memang kepala kamu bisa dipakaikan bentuk badan beginian. Pakai baju renang begini aduh. Ini syur, Siska. Syur!"
"Syur...." Rustam menambahi, tanpa sadar..
"Rustam!"
Pengawal itu berlalu keluar.
"Bagus sih, Sisk. Cuma tidak cocok sama aku," ujar Megi tersenyum. Biar bagaimanapun ia harus menyenangkan temannya. Semua kepalsuan busana yang ia sendiri kenakan sekarang perlahan-lahan mulai terasa ringan. Kalau dengan Siska, ia bisa jadi sendiri. Toh, temannya yang satu ini bisa menerima pendapat apapun, termasuk yang pahit. Apalah, namanya juga minta pendapat, Megi tidak akan segan-segan berbicara apa adanya pendapat dirinya.

"Memang sih, ayahku juga marah waktu lihat ini. Makanya aku juga tidak suka kalau Rustam yang lihat, Ha ha ha...."
"Kita bukan anak-anak lagi, Siska."
"Ya, aku tahu. Berapa sih kamu, Tiga belas ya?"
"Iya, dan kamu sudah tujuh belas. Sudah boleh nonton film syur!" Megi kemudian tertawa.
"Hus! Ya pernah sih...." Siska ikut ketawa, bahkan lebih lepas.

Perbincangan mereka kembali menggeliat ke sana-ke mari. Megi mencoba aplikasi itu beberapa kali dengan foto Siska, melihat beberapa pose kartun badan sampai kaki yang seksi, bahkan melihat potret-potret laki-laki berotot perut kencang sambil menelan ludah, ternganga melihat muka senyum-senyum sahabatnya. Mereka pindah dari ruang tamu ke kamar, ke beranda lantai dua di samping, samping kolam renang, cuma untuk melihat-lihat kartun itu. Megi terbawa suasana juga akhirnya. Pendapat kontranya beberapa saat lalu melayang entah ke mana.

"Aku antar pulang, Megi," kata Siska saat masuk waktu Magrib. Mereka berdua terbaring di sofa setelah menghabiskan dua mangkuk sup buah yang lebih banyak nangkanya.
"Memang harus. Aku capek makan ini, dan capek lihat gambar-gambarmu itu. Ya Allah, untungnya hape-ku masih kalkulator begini."
Megi mengeluarkan telepon genggamnya  yang memang lebih mirip kalkulator. Katanya itu hadiah dari sebuah produk makanan ringan, tak seorangpun percaya.
"Iya kamu pakai itu dulu aja, nanti kalau sudah akhir masa puber baru boleh pakai yang begini-beginian."
"Hehehh.... Aku emoh ah kalau diedit-edit fotonya jadi gambar syur begitu. Saru."
"Iya jangan. Lagian siapa yang mau lihat gambarmu...."
"Ih sembarangan, aku punya cowok tahu!"
"Mas Yoga yang ngojekin tiap hari itu? Ha ha ha...."
"Atau Baron yang selalu ngajak kamu berantem mesra itu?"
"Sembarangan. Aku punya cowok," Megi menerawang ke langit-langit. "di dalam bayanganku. Mungkin, di dalam diriku. Ha ha ha...."
"Ngawur!"

----------------------------------
Ilustrasi: freepik.com.

*
Friday, November 8, 2013
Ditulis oleh Fandi Sido

Baca juga:

Memuat ...

Lingkar baca

Linikala

- Copyright © BUKU FANDY - Hak cipta dilindungi Undang-undang. - Desain Blogger oleh Johanes Djogan -