Showing posts with label CERITA PENDEK. Show all posts
Sepenggal Cerita Nisa
Khairunnisa
berdiri memberi jarak dua kakinya, membiarkan angin meniup semua sisi roknya
yang menutup hingga mata kaki. Dia terkadang menutup mata agak lama, merasakan
bunyi lalu lintas sore di sekeliling yang terkadang lebih sunyi daripada
kegundahan yang meluap-luap di hatinya. Kemudian ia seperti tenggelam saat
memandangi aliran Sungai Code yang di bawah sana mengalir dengan sisa-sisa
pesan dari pegunungan.
Pertigaan ini
adalah kesukaan Khairunnisa. Dengan berdiri menghadap ke barat selama satu jam
di atas tanggul itu ia bisa melihat Jembatan Kleringan yang baru saja rampung
sejak dua tahun terakhir, dengan puncak-puncak pagarnya yang berbentuk bunga
teratai dan dipolesi cat hijau zamrud
berlis kuning emas.
Di waktu sore
sampai tengah malam, perlintasan ini dibumbui puluhan pasang muda-mudi yang
memarkir sepeda motor mereka persis di bahu jalan kemudian bercengkerama
tentang romansa remaja. Di utara, perkampungan Code yang tersohor itu berjajar
masih padat, dengan serambi-serambi rumah semipermanen seperti gardu penjaga
atas aliran air yang tak pernah benar-benar tinggi. Satu-dua lampu kekuningan
sudah menyala di bawah sana, pertanda kehidupan tahap kedua setiap harinya baru
saja dimulai, saat anak-anak kembali lapar setelah seharian bermain-main di
tanggul. Agak ke selatan, desiran halus butir-butir air pecah di udara, terkena
sisa sinar matahari dan menghasilkan rupa mejikuhubiniu,
menyusul semburan keras pemancur pada kolam Tugu Adipura yang tingginya sekira
lima belas meter. Tatkala satu dari enam belas pancuran air itu menyemprot
lebih tinggi dari yang lainnya di puncak tugu, para pengendara sepeda motor di
jalan menikung-dan-menanjak di bawahnya sampai menutup mata dan mengira apakah
hujan benar-benar turun di bulan Juni yang berdebu.
Khairunnisa
melonggarkan lipatan dua lengan di dadanya. Napasnya terasa agak sesak. Bukan
cuma karena sudah hampir setengah jam ia berdiri seperti itu, tapi juga karena
asap polusi dan sisa abu vulkanik yang terbang dari aspal terlalu sering ia
hirup. Maka ia longgarkan posisi kakinya, menyeka jilbab di kepalanya, sampai
akhirnya menyadari bahwa sejak setengah jam itu ia sebenarnya hanya
terbengong-bengong, bukannya memikirkan isi surat yang hampir hancur teremas di
tangan kanannya. Ia angkat lagi kertas merah muda itu ke dekat matanya, mencoba
mengingat apa yang telah dibacanya dari sana, dan menghela napas panjang. Untuk
sesaat lagi ia ingin menikmati lembayung senja dengan sapuan udara dingin yang
mulai turun. Nanti saat mendapatkan jawaban untuk langkah selanjutnya, mungkin
ia akan melempar remasan kertas itu ke air.
Surat itu
tiba saat jamaah isya baru saja bubar dari masjid-masjid. Khairunnisa
mendapatinya tergeletak di depan pintu kamar kosnya, dekat sepatu hak rata warna
coklat. Saat ia ketahui surat itu ditujukan padanya –nampak dari tulisan
namanya yang tertera di bagian depan amplop—ia cepat-cepat masuk kamar dan
menunci pintu dari kamar. Surat itu tertanggal 29 Mei, yang berarti baru saja ditulis ketika diletakkan di depan
pintunya. Dengan rukuh masih dikenakan, ia menjatuhkan badan ke kasur lantainya
dan membaca isi surat itu.
Assalamualaikum, Nisa.
Rasa-rasanya terlalu banyak gengsi
aku, sampai tidak berani mengatakan ini langsung kepadamu. Rasa-rasanya terlalu
angkuh pula, karena aku hanya berani mengatakan ini lewat surat dan bukannya
lewat cara yang lebih beradab.
Nisa, aku minta, andainya kamu tidak
keberatan, jangan terlalu dekat –atau kalau bisa, jangan dekat-dekat Azril
lagi. Aku takut... kamu tahu... aku belum siap untuk semua yang belum bisa aku
ungkapkan. Kiranya kehidupanku dan Azril berjalan biasa-biasa saja, setelah
duka yang kami alami. Teruskan saja hidupmu, dan kami akan teruskan hidup kami.
Dan aku berterima kasih untuk enam minggu kebersamaan yang menyenangkan.
Hormat, Rofik.
Kebersamaan
yang dimaksud Rofik itu sebenarnya tidak persis enam minggu. Akhir Maret waktu
itu, ketika Khairunnisa tak sengaja menginjak kaki seseorang di dalam kerumunan
sebuah Pameran Pendidikan Inggris di Hotel Novotel, pusat kota. Saking sesaknya
ruangan kecil itu siang jam dua belas itu, Khairunnisa tak bisa bernapas dan
harus beberapa kali keluar dari kerumunan untuk sekadar mencari napas segar di
tangga. Dalam usahanya kesekian kali itulah, dia tersandung dan menabrak
seseorang yang baru datang. Laki-laki itu, satu-satuya yang membawa anak kecil
di acara sedemikian gengsi itu, langsung jadi pusat perhatian.
Khairunnisa lalu
meminta maaf karena telah nyaris membuat laki-laki itu jatuh, dan membuat
anaknya nampak takut. Rofik memafkan, dan mereka kemudian terlibat dalam
obrolan asyik soal kampus-kampus di Inggris yang mungkin jadi khayalan atau
kenyataan bagi mereka, sampai hal remeh-temeh tentang sedikit keseharian
mereka.
Azril, anak
Rofik yang masih kelas satu SD, banyak menyimak saja, tapi tak bisa
menyembunyikan rasa senangnya setiap kali diberi permen dan dicubit oleh
Khairunnisa. Mungkin di mata anak itu, perempuan lincah ini mirip sosok orang
yang pernah menyusuinya. Akhirnya begitu saja, Rofik dan Khairunnisa membangun
kontak pelan-pelan setelah itu.
“Ada
risikonya... dekat dengan seorang duda.”
Khairunnisa
mendengarkan peringatan kakak kelas yang juga teman satu indekosnya itu, suatu
Magrib di akhir bulan. Waktu itu, ia dan Rofik mulai sering bertemu untuk
sekadar makan siang dan atau mengingatkan pesan singkat yang lupa terjawab.
“Kamu tahu,
seorang yang pernah beristri sejatinya masih punya sisa kehidupan dari masa
lalunya. Apalagi, Mas Rofik anaknya masih kecil. Mungkin...,” ujar kakak
kelasnya yang dituakan itu, “dia ramah karena masih bersedih, dan merasa kamu
mungkin klop dengan anaknya. Belum tentu, ia benar-benar mencari seseorang.
Tiga bulan itu waktu berkabung yang masih singkat, ketenangan hati dan pikiran
seorang lelaki biasanya butuh waktu pendek, tapi ini tidak berlaku buat semua
lelaki juga. Jadi, kamu tetap harus jaga jarak.”
“Tapi Mas
Rofik sama sekali tidak ada niat untuk dekati aku, Kak.”
“Mungkin
memang dia belum tertarik. Terus... kenapa dia ajak-ajak kamu makan siang
segala sampai berapa kali tu... enam?”
“Lima kali.”
“Itu lima
kali saja sudah terbilang sering. Nisa, kamu itu masih ada tugas belajar di
kampus. Kakak tidak ragukan kecantikanmu, sikap lembutmu, penyayang sama
anak-anak, lelaki normal –apalagi yang dewasa- pasti akan mengidolakan
perempuan saleh seperti kamu.”
“Mas Rofik...
dia baik sebagai teman. Saya jarang ketemu laki-laki yang menunjukkan
persahabatan yang berjarak –tapi akrab seperti yang ditunjukkan Mas Rofik.”
“Itu bentuk
kebingungan laki-laki.”
“Mungkin,
tapi... apakah saya harus putuskan silaturahim begitu saja?”
“Itu terserah
kamu, Dik. Tegaslah mengambil keputusan.”
Tapi
keputusan yang dibilang tegas itu tak pernah benar-benar tiba. Khairunnisa di
minggu-minggu berikutnya malah terlibat makin dekat dengan Rofik dan anaknya.
Meski naluri kewanitaannya yang luhur masih menjaga untuk tidak bersentuhan
atau berboncengan atau... saling tatap terlalu lama, ia mulai merasa
kedekatannya nyaman sebagai teman yang mengerti fungsi hubungan sosial yang
syaratnya jelas dan tidak rumit.
“Orang
bertemu, berkaitan, dan menikah. Mungkin, setiap manusia perlu tahu bagaimana
prosesnya dipertemukan oleh takdir.”
Rofik seperti
menggumam sendiri suatu sore di kafe ayam goreng tepung tempat mereka bertiga
duduk satu meja.
“Kamu tidak
malu, Nisa?” Rofik tiba-tiba bertanya.
“Malu kenapa
Mas?”
Rofik tidak
membalas dengan kata-kata, melainkan memancing perempuan itu untuk menyadari
sekeliling. Dari semua meja di kafe makan itu, hanya meja mereka yang diisi
bertiga bak keluarga. Yang lain ada yang berdua pasangan, ada yang berempat
atau berenam rombongan sambil tertawa cuek, bahkan ada yang sendirian dengan
airmuka agak canggung dan terganggu.
“Oh...
sebenarnya. Rada aneh juga sih. Saya
seperti...”
“Hm....”
“Tapi jangan
khawatir, Mas. Aku dan Hafidz kan kayak kakak adik, jadi...”
“Sungguh?”
Jawaban
Khairunnisa berhenti di situ.
Bahkan sampai
beberapa hari setelah sajian makan sore itu, Khairunnisa masih menikmati
kebahagiaannya yang misterius. Separuh isi pikiran menggugat keyakinannya soal
seberapa dekat batas yang ia pilih untuk hubungan visual laki-laki dan
perempuan. Tapi bagian pikirannya yang lain menyuruhnya menunggu perintah atau
permintaan yang jelas dari seorang laki-laki dewasa. Untuk selebihnya, ia
merasa naluri keibuannya dilatih begitu saja. Azril anak lucu yang tidak
terbantahkan.
Tapi setelah
surat itu tiba di genggamannya, ia jadi tahu jawabannya.
Sebenarnya ia
sudah sering membaca dan mendengar kisah-kisah perempuan yang terjebak dalam
sisi perasaan yang terasah tapi harus berhenti karena ingatan soal siapa diri
dan di mana posisinya. Meski begitu ia menikmati saja banyak momen di
minggu-minggu belakangan ini. Baginya, Rofik adalah profil laki-laki
menyenangkan, terlepas dari bagaimana akhirnya ia mengambil keputusan penting
itu. Mungkin juga, ia tak cukup berani untuk menabrak aturan umum dan mendesak
perasaannya lebih jauh.
Ia lemparkan
tangan kanannya ke belakang, dengan harapan kertas di genggaman itu bisa
terlempar lebih jauh ke depan sana, kemudian hanyut oleh aliran air Code sampai
ke Laut Selatan. Tapi ia urungkan niat itu. Kertas itu ia buka kembali, kemudian
ia remas, dan masukkan ke saku kardigannya. Ia melompat turun dari tanggul
dengan dua kaki mendarat bersamaan. Kemudian tanpa ia sangka, sebuah sepeda
motor yang ia kenali melintas.
“Kak
Nisaaaaa...!” suara teriakan kecil itu. Azril menjauh dibawa laju sepeda motor
ke tengah keramaian.
Khairunnisa
tersenyum tanpa suara. Seiring senja yang menarik diri di ufuk sana.
Anak Perantau
Anak itu berhenti di bawah sebuah tembok. Tembok itu setinggi dua kali tinggi badannya, kira-kira sedikit melewati tinggi pohon pepaya yang sudah berbuah. Anak itu membenarkan tali tas yang menekan pundaknya, mendongakkan kepala dan membaca tulisan bercoret cat tembok. Ia memiringkan kepalanya, berusaha mengerti apa rupa bentuk bacaan yang dilihatnya itu: meliuk, runcing di mana-mana dan penuh warna semprotan yang keperakan.
"Rantau Sesat", bacanya pada akhirnya. Ia paham pernah beberapa kali membaca tulisan serupa lekuk runcing dan berwarna-warni itu tapi tak semua yang bisa dibacanya. Tapi yang satu ini kiranya tak terlalu sulit.
"Itu artinya tidak semua orang tahu cara merantau," terdengar perkataan seseorang dari arah belakang. Anak itu menoleh dan mendapati orang ini sudah tersenyum padanya, menghadap tembok yang sama.
Anak itu tersenyum, belum berani membalas.
"Dari mana dek?" tanya orang di samping itu.
"Mamasa," jawab anak itu.
"Di mana itu?"
"Sulawesi Barat, iye'. Setengah hari dari Makassar naik mobil."
"O," orang itu mengangguk saja sehingga kembali keheningan membawa angin menyapu tembok itu sampai puncak gedung.
"Kau tahu, tidak semua orang tahu cara merantau," ujar orang itu pada akhirnya.
"Cara merantau? Apa ada cara merantau?"
Orang itu tersenyum. "Tentu saja, itu tentang bagaimana kau memahami tempat yang kau tuju."
"Maksudnya?"
"Orang-orang berdatangan ke kota ini, membawa koper-koper mereka dan menjajal kamera-kamera mereka. Dari ratusan ribu orang yang mendarat di sini setiap hari, aku tidak yakin bahkan setengah dari mereka tahu apa yang benar-benar mereka cari di sini. Apa yang kota ini benar-benar punya untuk kehidupan mereka."
Anak itu mulai berpikir orang di sampingnya mungkin sedang stres. Atau bahkan orang gila. Bicaranya terlalu tinggi dan tak setepipun ia mengerti arahnya. Dari bahasanya, mungkin orang ini seorang dosen, setidak-tidaknya guru. Bajunya kemeja yang sudah tua dan nampaknya rutin dipakai. Celananya khaki dan sepatunya disemir teratur meski ditempeli debu di mana-mana. Sorot matanya tajam meski kelopaknya kecil. Dalam posisi wajah yang agak ditundukkan guna menyeimbangkan posisi matanya menembus bagian atas bingkai kacamata sempit yang bertengger begitu saja di hidungnya, orang ini benar-benar nampak bosan dengan rutinitas yang begitu-begitu saja.
"Saya tidak mengerti, Pak."
Pertanyaan itu tidak sempat terjawab, karena orang itu sudah tidak di sana. Anak itu melihat sekeliling, melihat ke arah pintu-pintu yang tertutup di kejauhan, dan mengintip di sela-sela lalu lintas jalan sempit di belakangnya.
**
Anak itu membuka pintu dan mengira ia akan mendapatkan sesuatu yang bagus di hari pertama kuliahnya. Tiga puluhan mahasiswa menyertainya di ruangan yang dingin secara tidak relevan itu --karena hari musim hujan dan semua AC menyala di suhu rendah.
"Tugas pertama kalian adalah menjelaskan mengapa kalian datang ke kota ini," ujar dosen pembuka.
Anak itu terkejut karena dosen itu ternyata adalah orang yang beberapa hari yang lalu menyapanya di tepian selokan.
"Kalian harus tahu, merantau ke kota ini ada tujuannya, dan kalian harus temukan itu. Kalau tidak, lebih baik kalian tinggalkan kota ini."
"Mengapa harus begitu, Pak? Kami sudah membayar mahal-mahal untuk belajar di sini, untuk tinggal di kota ini," protes seorang mahasiswi.
"Iya! Dan saya kira itu adalah pilihan kami, Pak," tambah mahasiswa lainnya. Banyak mahasiswa lain diam saja karena mungkin terlalu abai, malu-malu, atau mungkin bukan perantau dari mana-mana. Hanya sekelompok muda yang mencari suasana baru di bagian kota yang tak pernah berubah.
"Memang benar," balas dosen itu. "Kalian semua kemari sebagai perantau atas pilihan sendiri. Mungkin beberapa dari kalian dibiayai oleh orang tua yang begitu giat dan menggadaikan macam-macam barang. Atau oleh beasiswa yang persyaratannya akan mengekang kalian sepanjang masa dewasa kalian nanti. Tapi ketahuilah, ada banyak hal di kota ini yang akan memaksa kalian pulang nanti. Kalian harus tahu, apa yang benar-benar kalian ingin temukan di sini.
Di pojok belakang, anak itu menggenggam tangannya. Pikirannya melayang jauh ke belakang, di masa kanak-kanaknya. Ia mengingat masa remajanya yang penuh kegamangan karena bahkan untuk bergaul ia harus menahan diri yang tegang di depan cermin. Anak itu berpikir perkataaan bapak ini ada benarnya. Ia sendiri belum tahu, apa yang ia lakukan di kota itu.
**
"Kau kuliah sajalah, jangan bekerja. Apalagi Malaysia itu jauh. Tidak ada potongan kau jadi perantau seperti paman dan bibimu. Cari yang pasti-pasti sajalah, pergi saja ke Semarang. Itu tidak terlalu jauh dan kau bisa pulang kapanpun di akhir bulan."
"Tapi merantau itu mencari kehidupan, Pak," ibu mengambil pihak berseberangan. Duduk di sisi anaknya, berhadapan dengan suaminya sendiri. "Seperti Tuan Kirman, sekarang dia sudah haji, bangun rumah. Bikin peternakan, saya kira Adri juga bisa seperti mereka. Anak ini kemauannya besar. Apa kita mau bengkokkan cita-citanya begitu?"
"Tidak, Semarang saja."
Anak itu tidak bisa apa-apa. Ia memang tak pernah bisa mengambil pendapat di tengah-tengah kekuatan didikan seperti itu. Maka ia membiarkan saja ibu dan bapaknya bersilang pendapat sampai sore, sementara ia kembali ke kamarnya dan menatap foto Merlion dalam-dalam.
Investor Masjid
*
TOTOK ABIDIN merupakan
orang paling canggih di kampung Karangwuni. Canggih, adalah istilah yang sering
digunakan masyarakat biasa untuk menyebut orang-orang dengan pendidikan tinggi,
punya keahlian tertentu yang berguna, dan pastinya mau mengajarkan banyak hal. Akan
tetapi meski Totok menyadari dirinya punya kelebihan yang mungkin akan berguna
bagi pembangunan dusun atau kelurahan, ia sendiri masih mengira-ngira apa yang
sebetulnya ia inginkan.
Kesehariannya yang tak rutin dan pekerjaannya yang tak
menentu terus-menerus membuatnya berpikir apakah sebutan ‘canggih’ itu pantas
ia dapatkan. Sejenak ia singkirkan kegundahan itu jauh-jauh karena ada tugas
penting yang harus ia selesaikan sebelum hari Selasa minggu berikutnya, yang
berarti tenggatnya tinggal empat hari.
“Pembangunan masjid akan
dimulai sesuai target,” kata ketua Takmir. Seorang laki-laki tua, beruban yang
ke mana-mana harus ditemani tongkat jalan. Tutur katanya tak lagi lancar tapi
selalu mengundang keheningan. “Kiranya semua bagian kerja sudah mulai tahapan,
termasuk Mas Totok ya, bikin baliho.”
Totok mengangguk, berirama
dengan anggukan orang-orang di lantai tengah masjid yang berlantai semen kasar
itu. Selembar karpet dari anyaman plastik rasanya sudah terlalu lama mengalas
tiap duduk atau sujud kening mereka. Beberapa sesepuh bahkan akan membawa terus
bekas hitam di jidat-jidat mereka yang beradu dengan tali-tali plastik tikar
yang merapuh nyaris putus di sana-sini.
Musala At Tanwir segera
bertransformasi menjadi Masjid Bertingkat. Orang-orang akan bertanya setiap
kali melihat gambar rancangan masa depan bangunan ibadah itu yang lebih mirip
studio agama. Berlantai dua dengan tangga tunggal yang lebar dari halaman depan
ke lantai atasnya, empat sudut dinding yang akan dilengkapi tiap-tiapnya menara
khas Makkah, dan jendela-jendela dengan kisi kaca berwarna akan membiaskan
cahaya-cahaya matahari jadi semacam cahaya hias di saf-saf setiap zuhur. Totok
pun membayangkan itu, dan ia berpikir pasti mewujudkan itu akan menguras banyak
sekali tenaga.
Dan juga uang.
Desain baliho untuk
permintaan sumbangan pembangunan akan dibuat sesederhana mungkin, pikir Totok.
Yang penting ada nama masjid, nomor registrasi IMB, tanda tangan ketua takmir
dan dua baris ayat dari hadis Rasulullah yang kiranya bisa menggugah hati
nurani orang yang lewat di jalan untuk berhenti dan menyerahkan sejumlah infak.
“Warna hijau dong yang dominan,
biar religius begitu kan,” kata seorang muda berkulit hitam. Fikri ditugaskan
untuk membantu Totok mewujudkan baliho itu. Lebih tepatnya, diminta untuk
menyediakan ruang kerja di kamar kosnya, seperangkat komputer beraplikasi
desain dan alat cetak dami, dan tentu sedikit uang jikalau ada hal-hal yang
penting untuk difotokopi. Rumor yang mengatakan Fikri anak seorang petambang
timah di Bangka Belitung sudah cukup bagi dewan takmir untuk mempercayakan
hal-hal semcam itu kepada anak muda ini. Lagipula, ia 11-12 saja dengan Totok.
Hanya setahun lebih muda dan sedikit lebih cerewet.
“Iya, memang hijau, diberi
lis kuning saja bagaimana?” Totok coba menerka jalan pikiran Fikri sembari
mereka menatap tajam ke desain awal di dalam CorelDraw komputer. Loading
beberapa kali tapi mereka lancar saja.
“Yo bisa. Gambar desainnya
dibuat besar di tengah agak ke bawah. Nah, hadis Rasulullah itu ditaruh di atas
saja, iya, kanan sedikit, di situ. Stop.” Fikri mulai dengan lihai, menggunakan
kuasa abstraknya untuk mengarahkan tangan dan pikiran Totok untuk bergerak
mengganti tata letak dan mencoba-coba warna teks yang cocok.
Dua jam di depan komputer, desain
baliho itu jadi. Sore hari berikutnya mereka serahkan daminya dalam ukuran
kuarto ke Haji Badawi selaku ketua takmir untuk konsultasi. Sering kali orang
tua punya pendapat sendiri yang kalau sudah tidak cocok dengan apa yang
dikerjakan anak muda, tetaplah akan didahulukan. Totok dak mau ambil risiko dan
mengatakan bahwa dami desain harus dikonsultasikan dulu. Kalau dewan takmir
sudah setuju baru dibawa ke percetakan.
“Em … rasanya sudah bagus,
Nak. Warnanya apik,” Haji Badawi nampak senang. Pikirannya sekadar mengagumi
betapa teknologi bisa membantu banyak hal. Totok dan Fikri mengangguk-angguk
bangga dan saling melihat.
“Tapi … bagian ini …,” ujar
Haji Badawi lagi. “Mestinya bisa diganti lebih … ‘wah’ begitu.”
Totok terheran, ia melihat
ke arah Fikri yang hanya tersenyum masam dan menggeleng. Sikap tubuh Haji
Badawi tiba-tiba berubah kurang puas, lebih tepatnya mengharap lebih. Totok
langsung menyadari kalau mereka tidak akan memakai desain ini langsung ke
percetakan. Sesuatu harus diganti. Maka kemudian ia bertanya kepada ketua
takmir itu apa yang perlu diperbaiki dari desain baliho.
“Di sini … ditulis Sumbangan Anda adalah pahala jariyah yang
tak akan putus. Rasanya sudah biasa, mungkin perlu diganti … apa begitu.”
Tiba-tiba Fikri menyeletuk.
“Wah, Nuwun Sewu, Pak Haji,” lagaknya berbahasa Jawa. “Tadi saya sudah bilang
ke Mas Totok ini, bahwa kata-kata pahala
jariyah itu sudah kelewat kuno. Dipakai di banyak masjid. Persaingan
pencarian dana pembangunan ketat sekali di Yogya sini. Kita harus tulis yang
menarik, tapi kata Mas Totok, sudah cukup begitu saja. Menurut saya sih, ada
kata-kata yang lebih modis begitu, Pak?”
Haji Badawi nampaknya
tertarik. Sejenak ia memandang ke Totok yang tampak kikuk sendiri dan berada di
posisi yang salah. “Bagaimana itu?”
“Coba begini, Pak.” Fikri
mulai menjelaskan. “Tadi saya kasih saran ke Mas Totok, kalau kata-kata pahala jariyah itu diganti saja dengan Investasi Hidup Mati begitu.”
“Investasi? Seperti …
bisnis?” tanya Haji Badawi memastikan.
“Lha nggih, Pak. Saya pernah lihat, masjidnya sekarang bagus, di daerah
Giwangan sana. Di balihonya itu dulu ditulisnya Siapkan rumah Anda di Surga, pembangunan masjid ini adalah investasi
bagi Anda di akhirat. Apik, modern, berkelas dan tak sasarannya jelas.
Penyumbang-penyumbangnya kebanyakan orang kota, dari Jakarta, Surabaya. Dalam
dua tahun saja, masjidnya jadi bertingkat dua, lengkap dengan tamannya!”
Haji Badawi menggosok
dagunya. Totok sendiri merasa sudah tak punya senjata lagi, membiarkan
keputusan berada di ketua takmir saja. Bukankah tujuan mereka ke mari memang
untuk meminta masukan dan keputusan?
Keheningan menyeruak di
teras masjid itu. Haji Badawi melihat ke dua pemuda di depannya itu secara
bergantian. Fikri mengangguk-angguk bangga sementara Totok kembali menerapkan
pandangan dan analisisnya ke gambar desain yang digelar di lantai. Investasi? Pikirnya dalam hati.
**
Tiga-empat jamaah tua saling
bercanda dalam perjalanan mereka menyusuri gang. Seorang dari mereka tiba-tiba
mengalihkan perhatian karena melihat sesuatu yang baru. Ia menunjukkan kepada
teman-teman seperjalanannya apa yang kini berdiri di di pinggir jalan inspeksi
yang menghubungkan lalu lintas padat dan gang tempat musala berdiri. “Woh, apik baliho anyare ki!” kata
seorang itu dengan mengatakan bahwa pengumuman infak baru musala dusun sangat
menarik perhatian.
Di baliho yang membuat para
pengendara melirik itu, kini terpasang kata-kata mentereng seperti investasi, donasi, dan manajemen.
Sebuah desain rancang bangun dengan empat menara bergaya Arab tetap dipakai.
Hadis dicetak lebih tebal dengan bayangan hitam yang makin menonjolkan
kepentingan agamisnya. Juga sebuah foto ulama terkenal yang sering nampang di
televisi. Ulama itu membuka tangannya dan melebarkan senyum. Orang-orang yang
melihat pasti akan langsung tahu mengapa mereka harus menyumbang musala itu,
dan apa yang akan mereka dapatkan.
Totok datang belakangan
dengan tergesa-gesa. Ia baru saja harus berurusan dengan tiga proposal desain
dan empat surat lamaran pekerjaan yang nampaknya belum menghasilkan apa-apa
sejauh ini. Para jamaah yang menyadari kedatangannya langsung menepuk pundak
pemuda itu bangga dan berterima kasih. Ia dijabat dan dipromosikan sebagai “yang
paling canggih”. Totok merendah dan mengatakan desain baliho itu lebih banyak
diidekan oleh Fikri dan pemasangannya dibantu banyak pemuda takmir lainnya.
Tetap saja ia dikawal bak pahlawan sampai
ke saf magrib.
Lima bulan berlalu dan
pembangunan masjid itu sangat progresif. Menjanjikan. Baru saja pagi ini sudah
ada kiriman dua puluh lima sak semen kualitas baik dan dua truk besar pasir
kasar yang ditumpahkan di sebuah sudut di samping. Haji Badawi nampak merangkap
sebagai mandor lokal proyek dan memastikan podium ceramah tidak dipindahkan,
mengingatkan para tukang untuk membangun dinding baru mengikuti arah kiblat,
dan memastikan mereka menikmati sajian makanan dan minuman ringan yang disediakan
kelompok ibu-ibu dusun.
“Mas Totok,” panggilnya ke
arah orang yang berdiri di pagar masjid pagi itu. Mereka segera menepi ke dekat
sebuah pintu yang belum jadi, menjauh dari orang-orang. Totok sendiri
bertanya-tanya dalam hati ada apa gerangan sampai ketua takmir berbicara berbisik-bisik.
“Proyek pembangunan masjid
kita kan lancar ini … sumbangan mengalir masuk,” kata Haji Badawi yang nampak
wajahnya lebih bersih dan pakaiannya lebih wangi. Tongkatnya masih ia bawa-bawa
hanya saja sikap tubuhnya lebih berwibawa. Mungkin ia telah berbicara dengan
banyak orang dan menyadari kemampuan negosiasinya banyak terasah bulan-bulan
belakangan ini, pikir Totok. Tapi ia tak mau ambil pusing. Ia fokus pada apa
yang ingin diungkapkan orang yang dihormatinya itu.
“Alhamdulillah, Pak. Berkat
usaha semua.”
Haji Badawi mengangguk
mantap. “Tapi, begini, Nak Totok … nanti sore sibuk tidak? Saya mau minta
tolong lagi dicetakkan anu … untuk kepentingan musala.”
“Baliho, Pak?”
“Bukan,” sanggah Haji
Badawi. Ia seperti menyusun kata-katanya dan dengan mata meyakinkan meneruskan
kalimatnya. “Surat, surat permohonan. Ya … semacam proposal begitu. Kita mau
mengundang Pak Walikota untuk meresmikan masjid kita ini naninya kalau sudah
jadi. Bulan desember kan rencananya. Saya minta tolong Nak Totok bikin proposal
dan surat undangan itu.”
Totok mengangguk. Ia memang
biasa membuat surat dan proposal, dan mungkin lebih cepat selesai lebih baik
daripada menunda yang akan mengakibatkan rutinitasnya mencari pekerjaan
terganggu. Proposal dan surat bisa ia ketik di tengah malam jelang tidur dan
selesai dalam satu malam.
“Em … kalau bisa, tolong di
surat tulis bahwa saat ini investasi masjid kita sudah lancar.”
Totok lagi-lagi terkejut
karena baru pertama kalinya ia mendengar ketua takmir itu berbicara terasa
sangat akrab dengan kata investasi.
Seakan-akan semua proses yang terjadi di dusun itu seperti membangun ruko.
Mencari investor dan orang-orang menyanjung setiap penyumbang sebagai donatur,
investor.
“Dan … tulis siapa-siapa
saja yang menyumbang masjid kita ini. Ini daftarnya untuk dimasukkan.”
Totok langsung memprotes
sembari meminta maaf dengan mengatakan bahwa orang-orang yang tertulis di nama
itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Apalagi meyakini kalau mereka pernah
menyumbang sejumlah uang untuk pembangunan masjid.
“Mereka menyumbang langsung
lewat saya, sebagian lewat bendahara umum. Sudah tulis saja, kan bagus kalau
wali kota nanti meresmikan masjid kita. Sumbangan masa depan akan lebih lancar.
Nanti nama masjid juga kemungkinan akan diubah, tergantung nama penyumbang
terbanyak. Tapi itu akan diputuskan di rapat bersama dewan takmir dan para
investor nantinya. Ya, tolong ya. Nanti kalau sudah jadi taruh saja surat dan
proposalnya di rumah saya.” Kemudian ketua takmir itu berlalu.
**
Fikri mengunyah kue dengan
lahap tanpa banyak bicara. Di sampingnya terduduk dalam diam Totok Abidin,
pemuda ‘canggih’ yang pikirannya tidak keruan. Mereka dilindungi oleh
serangkaian tenda yang menuutp Gang Kelinci di dekat jalan inspeksi yang juga
mulai macet dijajari kendaraan dinas. Masjid Nukman Aljabbari sudah jadi dengan
empat menaranya yang membuat pengunjung terkagum-kagum. Dua warung kelontont
persis di depan masjid bahkan merelakan halaman-halaman rumah mereka untuk
dijadikan tempat parkir sepeda motor yang dijaga oleh empat pemuda yang menggenggam
uang-uang kertas seribuan.
Dekorasi telah rampung dan para pejabat sudah duduk
di kursi-kursi terhormat. Sementara puluhan orang berpakaian klimis dan
bersepatu mengkilap duduk di barisan lain yang ditulisi para investor. Ketua Takmir memberi sambutan dan disambut tepuk
tangan para jamaah. Saat tiba saatnya wali kota berjalan menuju mimbar dan
disoraki dengan kata-kata semacam terima
kasih dan maju pilkada lagi, Pak! ,
ia menciptakan keheningannya sendiri saat berpidato.
Totok berhenti mengunyah.
Dalam sambutan itu, ia melihat sang orator beberapa kali menyebut keinginannya
maju jadi wali kota lagi dan berkali-kali mengedipkan mata, dan mengangguk
kepada Haji Badawi yang langsung membalas. Menyebutkan beberpaa nama investor yang membuat orang saling pandang sangking herannya.
Totok tak tahan mendengar
bisik-bisik dari beberapa warga di barisan belakang tempatnya duduk. Ada yang
menyinggung soal uang besar, ada yang
dianggap asal menuduh ketua takmir ambil
untung dari proyek, dan ada yang sekadar meminta mereka semua diam dan
menyimak. Totok mengangguk pada akhirnya. Ia lantas tersenyum, karena saat
pandangannya ia coba arahkan ke tempat lain, baliho itu berdiri di sana. Dalam
hati ia bertanya, ke mana gerangan ulama mentereng yang tangannya terbuka di
baliho itu?
