Showing posts with label CERITA BERSAMBUNG. Show all posts

Megi dan Gambar 'Syur'



*

Hari Kamis, waktu yang selalu panas di Gang Kamboja. Pikir-pikir di kepala Megi, mungkin ia tidak akan sempat menghadiri acara ulang tahun temannya. Sinar matahari yang terlalu panas mungkin akan melunturkan keteguhan hatinya sampai ke tanah. Bukan apa-apa, dia cuma tidak percaya diri. Pikir-pikirnya terlalu banyak berputar pada "apa aku akan nyambung tidak ya dengan obrolan mereka?" dan "apakah nanti si Baron datang tidak ya ke situ? Kan malu."

Tapi ada satu kegalauan yang paling sering mampir di kepala Megi. Di situ di bawah jendelanya, ia bercermin. Pecahan cermin berbentuk segi banyak itu sudah lama terduduk di pinggiran kusen. Ibunya bahkan sudah beberapa kali menegur kalau-kalau ia bisa tersayat pinggiran tajam atau cerminnya jatuh ke kasur yang terhampar tepat di bawahnya, pas saat ia tidur siang. Tapi Megi punya alasan lain untuk itu: "Kalau seseorang masuk lewat jendela, kakinya bisa putus!" Kalau sudah begitu ibunya diam dan berlalu menelan kekalahan. Tapi sumber kegalauan Megi bukanlah cermin. Bukan. Cermin itu sudah ada di sana saat ia menduduki kamar itu pertama kali. Kegalauannya adalah soal benda lain yang ada di kasurnya: telepon genggam.
Ia tatap telepon genggamnya lama-lama, memiringkan kepala --yang membuatnya mengukur keberuntungan entah pakai batasan apa--, kemudian menggeleng cepat. Ia tidak ingat, kenapa ia bisa begitu.

Dulunya Megi orang yang cuek. Cuek sekali, bahkan. Ia tidak pernah memperhatikan dandanannya. Ia tak pernah membawa rambutnya untuk dipotong di seorang profesional. Hitung-hitungan hariannya cuma habis paling-paling sampai sandal yang putus, potongan tempe hasil umpan mancing yang bisa dihibahkan ke ibu untuk makan malam, dan atau anak laki-laki mana lagi yang tadi sore lari pulang sambil menangis kemudian melaporkan asbab benjol yang dialaminya di kepala dan kaki. Bagi Megi dandanan adalah kungkungan. Wajahnya berat saat dipaksa memakai bedak. Badannya pegal-pegal kalau harus membawa tas-tas plastik atau barang-barant tidak penting lainnya. Singkat kata, ia pejalan kaki telanjang. Ke mana-mana tak ingin susah.

Tapi sifat cuek  itu tidak lantas menjauhkan Megi dari orang-orang. Ia akrab dengan banyak anak, dengan sekelompok mahasiswa, bahkan dengan kepala desa. Ia jarang merasa... kalau pembawaannya yang ceria dan tidak pernah melihat masalah malah disenangi orang-orang. Mungkin teman-teman sebaya kecilnya memang belum melihat  masalah itu apa, dan orang-orang dewasa itu merasa senang jika satu-dua jam saja bisa melupakan masalah-masalah hidup mereka pas bercanda bersama Megi di warung makan. Jadi begitulah, Megi kenyang banyak di jalan-jalan dan bukan di rumahnya. Ia tak pernah merasa hilang walaupun tidak membawa bekal apa-apa. 
Sifat cuek Megi mulai luntur saat usianya masuk sebelas. Di lingkungannya yang bertingkat-tingkat, ia melihat banyak jenis orang, berupa macam anak. Dan di pikirannya, ia paling tidak bisa kalau harus bergaul dekat dengan anak orang kaya, anak orang berpunya. Ia bukannya iri, hanya merasa "bagaimana begitu", melakukan penyesuaian-penyesuaian sosial yang dikatanya "seperti berpura-pura."


Pikiran-pikiran tahun-tahun lalu itu masih membayangi Megi. Sama seperti hari ini, ketika ia harus memaksakan dandanannya lebih rapi, lebih wangi, dan gaya bicaranya lebih sempurna untuk bertemu sekelompok teman dari kalangan atas. Setelah turun dari motor seorang mahasiswa yang rela mengantarnya dengan imbalan dicomblangi dengan tetangga nantinya, Ia masuk ke rumah itu bahkan harus melepas sandal dan kemudian ditegur  dan kembali memakai alas kakinya itu. Rumah itu dua tingkat dengan balkon dalam yang ditopang tangga berputar. Khas rumah-rumah "istana idaman" yang dibangun pengusaha kelas menengah yang ingin diakui sebagai kelas tinggi. Teman yang mengundang, Siska, penampilannya coba sedikit mengimbangi. Hanya kemeja lengan panjang kasual yang lengannya digulung sampai siku, dipadu jins biru yang lebih nampak putih dan dengan tas kecil yang menggantung di pundak. Megi agak heran juga kenapa tas dibawa-bawa dalam rumah begitu.


"Ini hape, Megi. Aduh ya Alloh, kamu kayak enggak punya hape aja." Siska memukul paha Megi sedikit genit. 
Teman satu ini, dalam pengamatan Megi beberapa bulan terakhir, agak-agaknya memiliki kelainan jiwa. Lebih suka gaya tomboi sepertinya ketimbang gaya putri princess seperti kebanyakan anak orang kelas atas palsu. Megi tersenyum kambing, mengangguk hormat kemudian menyambar dua tahu markodel yang bertepung tebal, dikunyahnya sampai habis. 
"Aku enggak simpan hape di tas. Di saku sini," balas Megi sambil menepuk sisi pinggul kirinya yang menonjol berbentuk kotak.
Mendengar itu Siska mengangguk, seperti tahu atau sok tahu. Kemudian perbincangan mereka ke sana- ke mari sampai tamu akhirnya mulai sepi. Siska beberapa kali harus pamit dari kursi itu karena melayani teman-teman tamu yang lain dan atau menemui satu-dua keluarga yang membawa anak laki-laki mereka dengan maksud sangat agresif yang, Siska tidak suka.

Siska baru berteman dekat dengan Megi satu atau dua tahun terakhir. Megi sendiri lupa. Pertemuan itu terjadi saat seorang anak perempuan turun dari mobil mewahnya dan berakhir dengan muka cemberut di tengah kantor kelurahan. Merasa tidak disambut apa-apa --memang hanya ada dua petugas berseragam PNS di situ: satunya sibuk dengan mesin ketik sementara lainnya khusyuk memasukkan bulir-bulir mi ayam ke mulutnya. Memang jam sebelas waktu itu, jam makan siang yang dimajukan satu jam seperti biasa, meski berakhir satu jam lebih lama dari waktu seharusnya. Kantor Kelurahan Deresan Caturtunggal tidak pernah ramai kecuali saat persiapa Posyandu dan atau pilkades-pilkada. 
Hari-hari senggang begini, Siska melipat dua lengannya di depan dada dan mulai menelepon orang di dalam mobil, menyuruhnya ikut campur.
Barulah saat seorang berbadan kekar dan berkaca mata hitam masuk dengan tok tok bunyi sol sepatu ke tegel putih kusam itu, kedua PNS mengangkat muka, mengangguk hormat bercampur centil. Siska menyampaikan maksudnya bahwa akan mengurus KTP, dan harus cepat karena pertama ia harus segera membawa KTP-nya yang jadi itu ke Polres dalam waktu dua hari untuk penerbitan SIM mobil, dan kedua karena warga di situ seharusnya kenal siapa ayahnya. Pengawal berkaca matanya berdeham, dan seperti tersambar petir kedua PNS saling tukar kertas dan berkas, menjatuhkan pulpen sampai kikuk luar biasa. Walhasil, pengurusan itu kelar dalam sepuluh menit saja. Angka ukuran umur minimal disamarkan sedemikian rupa.
Sekeluarnya dari Kantor Kelurahan, Siska tersandung sesuatu dan nyaris terjatuh. Saat akan mencari tahu apa yang menyandungnya, kepalanya sudah langsung pusing dan pandangannya gelap. Sesaat sebelumnya ia melihat sebuah benda bulat meluncur dan melambung ke arahnya, sebelum akhirnya kedua matanya pegal luar biasa, seperti dipukul keras ke dalam. Ia terjatuh di lengan raksasa si pengawal.
"Woi!, Siapa itu?" kata si Pengawal ke arah lapangan di samping kantor. Itu lapangan voli yang dipakai untuk main olahraga apa saja --terkadang untuk ajang berkelahi.
"Saya, Pak. Saya, Pak!" kata seorang anak laki-laki kecil berlari ke arah dua orang tamu kantor itu. Setelah memperkenalkan diri sebagai Megi, anak ini tertawa cekikikan melihat muka terkejut dua orang di depannya, terlebih anak cewek rapi yang masih kesakitan memegang dahinya.

"Oh! Jadi kamu cewek to!" kata si pengawal. "Ayo  cepat, minta maaf ke Mbak Siska."
"Maaf, Siska."
"Mbak, Mbak Siska, panggilnya yang hormat tho," ujar Siska dengan air muka masih masam. "Kan kamu yang salah." 
"Lo, memangnya kamu sudah ada suami? Sudah tua?"
"Beluuumm...!"
"Kalau begitu jangan mau dipanggil Mbak. Non saja, tapi itu kalau kamu orang Jakarta."
"Aku orang Jawa."
"Ya sudah. Jangan mau. Aku minta maaf, Siska. Kalau mau, aku bayar kesakitanmu itu dengan traktir makan nasi telur, di warung itu." Megi, berani-beraninya, menawarkan anak orang kaya itu makan nasi telur. 
Setelah berpikir lama dan saling pandang dengan pengawalnya, Siska menerima tawaran itu. Pun, karena pengawalnya yang lebih lapar dari mereka berdua. Dua piring porsi sayur dengan telur dadar habis bersama dua jus suplemen yang disusui. Siska memutuskan berteman dengan Megi sejak itu, apalagi sejak tahu kalau traktiran nasi telur tidak sedikitpun dibayar oleh Megi. Dasar, anak itu berhutang sana-sini.

Di rumah Siska sore itu, tiba-tiba datang Rustam, si pengawal yang kini sudah ditumbuhi jenggot belepotan di dagunya. Ia pernah bilang kalau itu terinspirasi sebuah film bajak laut yang keren. Keren apanya, pikir Megi. Malah mirip penjaga Merapi. 
Rustam datang membawakan telepon genggam majikan mudanya. Siska mengambil telepon genggam itu dan langsung memperlihatkan sesuatu kepada Megi yang kekenyangan. Praktis di jelang malam ini tamu-tamunya sudah pulang. Memang mereka merasa tidak akan kenyang di tempat ini --karena makanannya cuma sedikit dan mereka tidak bisa makan dengan cara kampung yang bisa menggasak apa saja sampai ke dalam perut dan saku-saku tas yang sengaja dikosongkan. Nampaknya keluarga Siska paham tabiat orang kampung yang ditakutkan rakus dan oportunis.

Megi melihat layar telepon genggam itu kemudian tercengang. "Wow! Itu kamu?"
Siska mengangguk. Pun di belakangnya tersenyam-senyum si Rustam dengan malu. Ditegur untuk jangan mengintip, pengawal itu kikuk setengah mati, nampak bodoh di balik otot-ototnya yang ditutup seragam safari hitam.

"Aplikasi edit foto, Gi. Aku masukin fotoku, potong sedikit, terus program ini olah jadi karikatur lucu. Ada banyak pilihan gaya dan pakaiannya. Nah, aku pilih yang ini barusan. Bagus enggak?"

Tapi Megi menggeleng-geleng. "Seksi...," jawabnya yang tidak nyambung sama sekali dengan pertanyaan.
"Memang seksi. Ini kan cuma kartun. Lagipula cuma kepalaku yang asli, yang lainnya kan bikinan komputer."
"Ya tapi tetap saja. Memangya kamu mau jadi bayang-bayang di kepala laki-laki berpakaian begitu aslinya? Lagipula, ini sama bentuk badanmu yang asli tidak jauh bedanya. Cocok di sini karena memang kepala kamu bisa dipakaikan bentuk badan beginian. Pakai baju renang begini aduh. Ini syur, Siska. Syur!"
"Syur...." Rustam menambahi, tanpa sadar..
"Rustam!"
Pengawal itu berlalu keluar.
"Bagus sih, Sisk. Cuma tidak cocok sama aku," ujar Megi tersenyum. Biar bagaimanapun ia harus menyenangkan temannya. Semua kepalsuan busana yang ia sendiri kenakan sekarang perlahan-lahan mulai terasa ringan. Kalau dengan Siska, ia bisa jadi sendiri. Toh, temannya yang satu ini bisa menerima pendapat apapun, termasuk yang pahit. Apalah, namanya juga minta pendapat, Megi tidak akan segan-segan berbicara apa adanya pendapat dirinya.

"Memang sih, ayahku juga marah waktu lihat ini. Makanya aku juga tidak suka kalau Rustam yang lihat, Ha ha ha...."
"Kita bukan anak-anak lagi, Siska."
"Ya, aku tahu. Berapa sih kamu, Tiga belas ya?"
"Iya, dan kamu sudah tujuh belas. Sudah boleh nonton film syur!" Megi kemudian tertawa.
"Hus! Ya pernah sih...." Siska ikut ketawa, bahkan lebih lepas.

Perbincangan mereka kembali menggeliat ke sana-ke mari. Megi mencoba aplikasi itu beberapa kali dengan foto Siska, melihat beberapa pose kartun badan sampai kaki yang seksi, bahkan melihat potret-potret laki-laki berotot perut kencang sambil menelan ludah, ternganga melihat muka senyum-senyum sahabatnya. Mereka pindah dari ruang tamu ke kamar, ke beranda lantai dua di samping, samping kolam renang, cuma untuk melihat-lihat kartun itu. Megi terbawa suasana juga akhirnya. Pendapat kontranya beberapa saat lalu melayang entah ke mana.

"Aku antar pulang, Megi," kata Siska saat masuk waktu Magrib. Mereka berdua terbaring di sofa setelah menghabiskan dua mangkuk sup buah yang lebih banyak nangkanya.
"Memang harus. Aku capek makan ini, dan capek lihat gambar-gambarmu itu. Ya Allah, untungnya hape-ku masih kalkulator begini."
Megi mengeluarkan telepon genggamnya  yang memang lebih mirip kalkulator. Katanya itu hadiah dari sebuah produk makanan ringan, tak seorangpun percaya.
"Iya kamu pakai itu dulu aja, nanti kalau sudah akhir masa puber baru boleh pakai yang begini-beginian."
"Hehehh.... Aku emoh ah kalau diedit-edit fotonya jadi gambar syur begitu. Saru."
"Iya jangan. Lagian siapa yang mau lihat gambarmu...."
"Ih sembarangan, aku punya cowok tahu!"
"Mas Yoga yang ngojekin tiap hari itu? Ha ha ha...."
"Atau Baron yang selalu ngajak kamu berantem mesra itu?"
"Sembarangan. Aku punya cowok," Megi menerawang ke langit-langit. "di dalam bayanganku. Mungkin, di dalam diriku. Ha ha ha...."
"Ngawur!"

----------------------------------
Ilustrasi: freepik.com.

*
Friday, November 8, 2013
Ditulis oleh Unknown

Lima Belas Menit

Ilustrasi (depositphotos.com)

Kau hanya memerlukan istirahat pendek untuk sebuah kerja keras dalam waktu yang lama. Begitu ungkapan yang kuterima di setiap jam dua belas siang. Di jam-jam matahari persis di tengah langit, aku biasanya mengeluh tentang kaki yang terlalu panas di dalam sepatu. Tentu saja aku berhak mengeluh itu, karena dua kakiku terbungkus kulit bertali selama delapan jam sejak matahari terbit. Dan saat jam pulang sekolah dan debu-debu beterbangan di pinggir jalan, satu-satunya cara mengembalikan kesejukan adalah dengan merendam jari-jari kaki telanjang di sebuah baskom berisi air dingin dari kolam mandi.

Kelurahan tempat kami tinggal tidak begitu besar. Lingkup dusunnya hanya terdiri dari delapan RT dan dua RW. Suara pengumuman kerja bakti setiap jumat terdengar pagi tadi dan kini sebagian warga laki-laki sudah kembali ke rumah-rumah mereka demi semangkuk sup berkuah bening berisi sayur rebung atau buah kelor. Di rumah biasanya tersedia sayur santan yang bumbunya tiap hari sama: bawang putih, merica dan bawang merah. Ini adalah bumbu perkasa untuk jenis sayur apapun, jenis lauk apapun. 

Jelang makan siang adalah waktu transisi rumah. Adik-adik biasanya sedang galau-galaunya meratapi nasib mereka sepulang sekolah dengan baju basah keringat atau buku yang ketinggalan. Sementara Ibu lebih suka diam saja kalau sedang tidak membolak-balik saku celana di baskom cucian, berharap ada lima ribu rupiah yang lupa dikeluarkan.

Di hari Jumat yang pendek bapak tidur telentang di atas bangku kayu panjang. Separuh tungkainya melayang di udara lantaran bangku datar setinggi lutut itu tidak cukup panjang menopang seluruh tubuhnya yang sudah kadung menjuntai. Maka dengan sedikit taktik digeserlah kursi plastik untuk menopang dua tumit, dan jadilah sebuah pemandangan penuh cerita alam mimpi, di mana dua tangan seperti mengirim pesan-pesan mimpi itu ke dalam saraf otaknya melalui ubun-ubun yang mengkilap.

Lima belas menit berlalu.

Kata dokter, tidur lima belas menit hingga setengah jam antara jam 12 hingga jam 1 siang mengembalikan fungsi fokus di saraf-saraf otak, meluapkan kebugaran baru. Tidur siang yang dalam bahasa Inggris disebut napping juga disebut-sebut sebagai faktor penting bagi kesehatan jantung. Tentunya juga, semua orang membutuhkan ini ketika mengalami kurang tidur di malam hari sebelumnya. Entah bagaimana awalnya, tidur lima belas menit di siang hari ini sudah jadi kebiasaan sehari-hari bapak dan ibu. Lima belas menit, dan kami anak-anaknya biasanya merasa waktu itu lama sekali.

Kota Bintang tak begitu ramai di  malam hari. Satu-satunya penghibur bagi warganya adalah lalu lalang lalu lintas yang sebagian besarnya diramaikan kaum muda. Anak-anak seusia sekolah yang lebih senang bermain dengan motor dan teman mereka ketimbang buku-buku atau televisi jadi pemandangan akrab sejak sore hari. Biasanya di jam empat atau lima sore gadis-gadis belia yang baru saja menginjak masa-masa akhir pubertas duduk di depan rumah --biasanya hanya berjarak dua atau tiga meter dari tepian aspal jalan-- dan membelai rambut mereka. Berharap ada remaja laki-laki yang melintas dengan sepeda motor di jalan itu dan melirik mereka pertanda ketertarikan. Kalau sedang tidak ingin menarik perhatian, biasanya para gadis itu sudah duduk mengangkang di atas sadel motor dan membiarkan angin membelai rambut mereka dari arah ombak pantai. Saat malam tiba, keriuhan jalan pindah ke pusat-pusat jajanan. 

Di sepanjang pantai yang dulu hanya dijajari perahu-perahu penangkap ikan, kini bertransformasi menjadi warung terbuka dengan meja-meja pendek. Orang-orang yang kebanyakan dari mereka remaja memang paling suka duduk meleseh di jalan itu, berbincang atau saling menertawakan rekan mereka yang hanya beberapa meter dari meja itu. Bangunan-bangunan semipermanen dari kayu yang disediakan pemerintah daerah disebut sebagai "kafe pantai", penghidup bagi belasan keluarga yang menjual jajanan untuk kawula muda yang sedang coba memahami diri mereka. Bisnis ini berkembang pesat, dan di rumah, bapak masih diam saja tentang apa yang berubah di bisnis kabupaten ini sejak dua puluh lima terakhir.



Thursday, March 7, 2013
Ditulis oleh Unknown

JOURNO: Prolog








Terdengar TERIAKAN.

Debu terbang tak jelas arah saat bahkan angin seperti tak mau mendekat. Gaya fisika dari hentakan kaki-kaki menerbangkan butiran pasir dan sampah yang mengikutinya. Menghindar kemudian jatuh, seperti nasib belasan pemuda tanggung berkulit gelap itu. Mereka berteriak dan saling memaki. Berhadap-hadapan di dua hektar tanah sengketa bertuliskan WASA, perusahaan kontraktor yang enggan meneruskan proyek pembangunan mal. Ratusan warga berkerumun dan sebagiannya lari menyelamatkan diri.

Dua kubu yang bertikai adalah preman bayaran melawan warga kampung Parai. Mereka punya senjata yang berbeda di tangannya. Kelompok preman yang dikawal lelaki berdarah Maluku mengayun-ayunkan badik sementara warga penantang membawa balok dan batu beragam bentuk dan ukuran. Dari bedanya senjata-senjata itu, satu hal sama di benak mereka: tanah ini harus dimenangkan.

Bentrokan pecah persis saat matahari menyentuh tengah langit. Pemimpin kelompok Ambon berteriak dan mengacungkan badiknya menghadap ke langit. Saat kedua kelompok ini berteriak dan akhirnya saling maju dari ujung satu ke ujung lahan lainnya, kamera mulai merekam.

Satu kamera jarak jauh kemudian menyorot ke arah yang salah. Bukan ke lapangan, melainkan ke serambi sebuah rumah panggung bercat biru langit yang luntur. Mengarah ke sudut tenggara lapangan itu, di antara pohon-pohon asam. Di balkon setengah terbuka dan beratap seng, duduk memeluk lutut seorang lelaki tua berkopiah miring. Tubuhnya yang ringkih membungkuk hanya dibalut dengan singlet putih kumal, lalu di pundaknya terlilit sarung biru menyilang sampai bawah, seperti baru lepas dari lipatannya. Lelaki tua itu mengangkat tanganya yang menjepit lintingan tembakau di dalam gulungan kertas, membuka bibirnya sampai akhirnya menengadahkan kepala menembak udara dengan asap pekat pembawa kenikmatan. 

Bunyi benda keras sudah beradu di bawah sana, dan mungkin saja darah sudah tertumpah.

Lelaki di balkon itu meneguk kopi pahitnya dari cangkir seng bermotif loreng biru. Nikmat tanpa sisa. Kamera satu di sisi selatan lapangan ini terus menyorot tiap langkahnya, entah apa pikiran wartawan itu. Ia rekam setiap gerak jari dan bibir dari lelaki tua di balkon, mengabaikan pertikaian yang ricuh di depannya. Beberapa kali ia pindahkan kamera ke tempat aman, menyorot dari banyak sudut pandang.

Kemudian terdengar jeritan dari tengah lapangan. Belasan juru foto dan reporter perempuan lari tunggang-langgang. Dua pemuda tergeletak di lapangan. Polisi yang baru tiba lantas mengeluarkan tembakan berkali-kali. Seorang tertembus peluru di kaki, seorang lain tertembus benda tajam di perutnya.

Badik itu terlempar ke tanah.

Dan di balkon itu, lelaki tua sudah menghilang. Langkah-langkah kaki kecilnya hati-hati namun tegas. Tidak begitu cepat tapi tidak juga santai. Tangannya beberapa kali diangkat untuk sekadar memperbaiki posisi kopiah atau lilitan sarung di pundak. Kakinya telanjang saat melangkah memasuki lapangan bertanah merah itu. Polisi berhasil meredam massa namun dua orang yang terluka masih tergeletak di atas tanah.

Saat pertikaian selesai, dua korban dari dua kubu berbeda ini justru saling pandang. Mengisi pikiran-pikiran mereka dengan pertanyaan mengapa dan mengapa. Menyadari betapa sakitnya terluka. Untuk beberapa saat itu, mereka melupakan perbedaan.

Lelaki tua itu melangkah makin cepat sambil mengawasi polisi. Kemudian saat sudah berhasil terselip di antara kerumunan orang, ia cepat-cepat membungkuk. Badan ringkihnya ternyata banyak membantu di antara badan-badan besar yang berani di titik kejadian itu. Dua korban cepat diangkat dan dipinggirkan, polisi langsung menggaet beberapa orang. Sementara lelaki tua itu, dengan cepat mengembangkan sarungnya, melepasnya dari pundak lalu menggulungya cepat-cepat di pinggang. Ia lalu berlari kecil ke arah dua korban dibawa, kemudian dengan gesit mengganti arah dan berbelok ke arah rumahnya. Tangga ditapaki dan dengan cepat sosok itu menghilang ke dalam rumah.

Kamera terus merekam. Saat akhirnya warga mulai dikumpulkan dan awak media menggelayut mengejar narasumber, kamerawan itu justru mendekatkan perantinya ke balkon rumah. Tapi di saat-saat terakhir sebelum menginjakkan kaki di halaman rumah itu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

"Rio."

Kamerawan itu menghentikan langkahnya kemudian perlahan membalik badan. Di hadapannya telah berdiri seorang laki-laki muda berjanggut tipis, berseragam sama dengannya. Ia mengenalnya sebagai Ben, jurnalis junior yang baru seminggu bekerja mendampinginya sebagai reporter lapangan.

"Kau mau ke mana?"

Rio tak menjawab. Ia gugup dan berusaha menyusun kata-katanya. Ben berusaha menghalau orang-orang yang berkerumun, berusaha keluar dari jalan setapak sempit di pinggir lapangan. Kabel beberapa kali tersandung sampai akhirnya harus diangkat lebih tinggi dari kepala. Ben menahan terus posisi itu saat napasnya mulai terengah-engah. 

"Rio!" Ben mulai kesal karena rekannya tak kunjung memberikan jawaban.
"Ah? Iya."
"Apa yang kau rekam barusan? Ayo ke sana. Kita perlu wawancara polisi dan beberapa orang.'
"Tunggu."
"Tunggu apa? Sebentar lagi kita tersambung ke saluran langsung. Meli dan Wisnu sudah bekerja. Ayo."
"Ben, tunggu."
Akhirnya junior itu pasrah. Meski lebih muda dan kurang pengalaman, ia tak pernah merasa Rio mengguruinya apalagi membawanya pada arah keputusan yang salah. Maka dari itu untuk sejenak, ia melemaskan pundak dan mendengarkan rekannya. Hati-hati dan tak punya waktu lama.

"Ben," kata Rio setelah mereka berteduh di bawah pohon. Ben mengawasi sekeliling sambil menyimak apa yang ingin disampaikan. 
"Aku merekam tingkah laku aneh seseorang di rumah ini," sambung Rio sambil mengarahkan pupilnya ke kiri atas. Kepalanya berputar sedikit kemudian kembali. Ben menyimak tapi pertanyaan di benaknya tak kunjung terjawab.
"Laki-laki tua di rumah ini, ada sesuatu dengannya."
Ben memiringkan kepala karena Rio justru berusaha menunjukkan hasil rekaman. Kamera itu dilepas dari kabelnya untuk kemudian diangkat setinggi dada.

Ben mendekat. Gambar itu mulai terputar dan lintingan rokok mulai terlihat di layar lipat kecil. "Apa ini?"
"Lihat saja dulu. Aku merekam setiap detik yang dilakukannya."
Ben mulai mengerti, merapalkan pandangannya ke layar, saat tiba-tiba telepon genggamnya berdering keras. Ia langsung membalas dengan anggukan dan permintaan maaf.

"Ayo. Tidak ada waktu lagi."

Ben langsung menarik lengan rekannya untuk bangkit, mengambil alih kamera dan berjalan cepat menembus tanah lapang itu sekali lagi, saat debu-debu nyaris mendarat kembali. Udara pengap dan suhu langsung mengucurkan keringat. Di pinggir lapangan itu ibu-ibu berdiri menutup mulut dengan telapak tangan. Anak-anak kecil berlari di belakang wartawan sambil tersenyum mengobati rasa penasaran mereka terhadap perangkat rekam yang menurut mereka menyimpan keajaiban.

Rio melangkah kesal di belakang Ben. Tangan kirinya memegangi mikrofon yang tadinya sempat terjatuh. Mereka akhirnya menjauh dari bangunan rumah panggung di sudut tenggara, menuju utara dan langsung mengikuti sesi wawancara.

Di balik pintu yang gelap, laki-laki tua itu mengeluarkan badik dari lilitan sarung. Matanya mengikuti setiap langkah yang bergerak di luar sana, memperhatikan tulisan di belakang seragam kamerawan yang melangkah, kemudian menghisap habis asap beracun dari rokok di sela jarinya. Darah mengalir di sisi besi kemudian menetes ke lantai papan.

*

Kantor PERIOD.

Redaktur harian terbesar itu duduk menopang dagunya dengan dua tangan yang saling merapat. Jemarinya saling kait dan pikirannya tertuju pada satu hal. Layar televisi menayangkan petikan wawancara dari Kapolsek Rappocini yang menjelaskan perkara pertikaian itu.

Redaktur itu diam tak terganggu. Selama beberapa menit, ia mencari sesuatu yang belum ditemukannya. Kemudian saat pundaknya ditepuk untuk sebuah panggilan, ia bangkit lalu menuju ujung lain dari meja oval itu.

"Sudah kau temukan? ... Bagus. Bagus. Tunggu perintah selanjutnya."

Gagang telepon itu diletakkan dengan bunyi yang tegas. Diikuti ketukan-ketukan ujung kuku saat bunyi dari televisi direndahkan. Redaktur itu mengelus-elus perut buncitnya, melonggarkan ikatan dasi di lehernya, kemudian dengan ringan mengangkat lengannya yang membawa layar telepon genggam hitamnya menghadap langsung ke mata.

Aku butuh bantuanmu untuk menemui seseorang. Balas segera. Pesan itu terkirim dengan satu sentuhan jari.

*

Di tempat lain, di sebuah gang sempit yang berair. Empat laki-laki berjas hitam berjalan dengan begitu rapi. Merapatkan kancing mereka sambil memastikan tak ada yang mengikuti. Dari satu sisi lantai dua bangunan kiri belakang, seorang wanita paruh baya menggeleng kesal kemudian menutup kerai jendelanya. Tikus-tikus berjinjit membawa remah keju lalu kabur ke balik bak-bak sampah yang berjejer di belakang restoran The View.

Sebuah koper terjinjing dan sebuah pintu terbuka. Dalam sekejap mereka langsung menaiki limosin itu, menutup pintu kemudian melaju.

Lampu-lampu berwarna emas menghiasi Tower Bridge dan London Eye di kejauhan. Mobil itu berbelok ke arah selatan Abbey saat kabinnya mulai senyap.

Satu dari empat orang berjas membuka koper di pangkuannya.

"Ini, seperti yang Anda minta, Tuan. Lengkap dengan keping data cadangannya."

Koper itu dibuka dan kini terpampang dua kepingan mengkilap berukuran standar, sebuah telepon genggam bertombol banyak dan sebotol cairan berwarna biru terang. Ketiga benda itu terselip di lubang perekat yang memungkinkannya tidak bergerak bahkan jika kotak itu mengalami guncangan.

Seorang pria tua, berkulit putih yang di kerah jasnya menggelantung lipatan kulit, merapatkan kacamata saat matanya memerhatikan ketiga benda itu dengan saksama. Pandangannya awas dan selalu memerhatikan keempat pemuda berjas yang mengantarkan benda ini kepadanya. Saat kembali bangkit dan bersandar di jok, pria tua itu tersenyum. Salah seorang pemuda berjas membalasnya, seorang muda berjanggut dengan senyum lebar, muka arab sebenar-benarnya.

"Kalian sudah berjasa bagi hubungan diplomasi dua negara. Terorisme hari ini seperti kanker, kau tahu?" Ada keheningan beberapa detik lagi saat pria tua itu menatap mata keempat pemuda berjas di depannya. Serupa tatapan seorang guru kepada mahasiswa bimbingannya.

"Ketiga benda ini, adalah kunci yang berisiko. Kalau jatuh ke tangan yang salah ...," Pria itu mengangkat pundaknya seperti tak ingin meneruskan kalimat. Pandangannya dilempar keluar jendela saat mereka melintas searah Thames. Cahaya berkilau dan berganti memasuki kabin itu, seperti kilat-kilat cerita masa lalu yang membawa kota itu pada peradaban yang di beberapa sisinya menjauh dari perasaan manusia.

Malam menggelayut perlahan. Begitu tenang, dan remaja bercanda di taman-taman. Kafe-kafe mulai dijejali wisatawan yang ingin mengabadikan megahnya Menara Elizabeth. Kilatan-kilatan kamera bersahutan saat tiba-tiba terdengar ledakan hebat.

Tengah jalan 5 Hugh jelang halaman utara Westminster, limosin itu meledak. Pintunya terhempas dan keempat rodanya terlepas. Orang-orang di pinggir jalan menjerit dan berlari. Sirene terdengar dari kejauhan.

*




Monday, October 15, 2012
Ditulis oleh Unknown

Lorem Ipsum 3


(Episode sebelumnya....)

Tak banyak yang dilakukan Cyntia di ruangan kantornya sepanjang hari itu. Ia hanya membolak-balik bacaannya tentang para korban. Belum ada secuilpun petunjuk yang mencuat. Jarinya beberapa kali mengelus kening yang terasa licin meski tak berkeringat. Di dalam benaknya berputar-putar banyak pikiran serta bayangan yang seakan samar namun berwarna sama. Pemuda itu, Hendrik, bersikeras bahwa hanya ada tujuh buku milik ayahnya. Tak percaya dengan adanya buku kedelapan. Adalah wajar bagi seorang pemuda yang ditinggalkan ayahnya dengan cara seperti itu untuk meminta jaminan kerahasiaan semua informasi yang disampaikannya. Namun bagi Cyntia, itu saja tidak memberi petunjuk apa-apa. Semuanya semakin rumit, dan menggeliat dengan liarnya bahwa kasus-kasus kriminal ini saling berkaitan. Nugraha sedang menghadiri rapat yang sempat terhenti setelah sesi pertama. Kepercayaan tetaplah kepercayaan, dan gadis muda bawahannya dianggap cukup untuk itu.

Dua jam yang lalu mereka bertiga masih berdiskusi di ruang tunggu. Hendrik, pemuda yang mengaku anak Profesor Hargo, serius melindungi sang mendiang dari sorotan publik. Tentu saja masuk akal. Reputasi sang profesor di dunia akademik dan pergaulan populer tak pantas ditutupi dengan aib kematian yang belum tentu kejelasannya. Mendengar seorang filantropis terkenal melakukan aksi bunuh diri bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Hendrik, dengan sorotan mata tajamnya, meyakinkan kedua jurnalis itu bahwa dia akan menuntut balas kepada semua pihak yang menyebabkan ayahnya mati.

"Maaf, mas Hendrik. Tapi kalau boleh saya tanya. Menurut Anda ada kaitan kematian ayah Anda dengan kasus-kasus kematian lainnya yang sama-sama meninggalkan eksemplar buku di TKP?"

Pemuda itu terdiam. Matanya langsung terlempar ke arah jari-jari tangannya yang saling menggelayut satu sama lain. Lututnya merapat. Gestur seperti ini berkebalikan dengan penampilannya dua menit sebelumnya. Dari sikapnya yang mendadak itu, Nugraha merasakan ada sesuatu yang menghinggapi pikiran anak itu.

"Aku tidak tahu. Pokoknya, aku tidak mau peduli dengan semua hal lain, hanya kematian ayah."
"Tapi bisa jadi kematian ayah Anda tidak seperti kelihatannya." Cyntia menyela dengan sigap. "Apakah menurut Anda tidak aneh jika tujuh kasus bunuh diri di banyak tempat yang berbeda namun memiliki kesamaan kesan di TKP, adalah sebuah kebetulan? Bagaimana bisa Anda tidak memperhatikan buku-buku di dalam foto para korban?" Gadis itu semakin bersemangat.
Hendrik mengangkat wajahnya. Matanya menyorot tajam mata Cyntia, seakan-akan menghunus pedang menangkis serangan dan siap menyerang balik.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang Ayah. Kalian tidak tahu apa-apa!" Pandangan pemuda itu beredar di antara Cyntia dan Nugraha.
Hendrik mendorong lututnya hingga ia berdiri. Tangannya menggamat tas yang langsung naik ke pundaknya.

"Tidak ada gunanya aku membahas ini dengan kalian. Permisi." Pemuda itu bergegas keluar ruangan.
Nugraha mengangguk yang langsung memberi isyarat kepada Cyntia untuk mengejarnya.
"Hendrik, tunggu!"
Namun langkah anak itu semakin cepat. Tak terkejar.
"Kenapa kau mau menceritakan ini kepada kami? Kenapa tidak ke polisi?" Cyntia memanfaatkan logika berpikirnya yang terus berbicara dengan tanya selama beberapa saat sejak pemuda itu melangkah ke dalam ruangan tadi.
Hendrik berhenti di ujung koridor.

"Kau terlanjur menumpahkan risiko. Sebagian dari cerita tentang kematian ayahmu sudah kau beritahukan kepada kami, tapi tidak ke polisi. Pasti ada sebabnya, bukan?"

Pemuda itu kembali melangkah, kini semakin cepat. Ia menghilang di sudut koridor, meninggalkan Cyntia yang mematung beberapa meter di belakangnya. Bagi gadis itu, pada akhirnya tak ada gunanya menuntut sesuatu dari seseorang yang di awal-awal justru menawarkan. Cepat atau lambat, pemuda itu akan kembali, pikiranya.

***

Tujuh buku untuk tujuh korban. Satu buku kedelapan. dan Seorang pemuda anak sang profesor. Semuanya adalah bingkai. Dan suatu ketika bingkai-bingkai itu akan menyatu menunjukkan gambar yang sebenarnya terpampang.


Dalam kelelahan dan derai hujan yang terhempas oleh penyeka air di kaca mobilnya, gadis itu menelepon seseorang untuk ketemu. Atasannya memberi waktu lebih untuk berfokus pada masalah hari ini, sekaligus menyiapkan diri untuk tur terbesar dalam karirnya. Tur jurnalistik keliling Nusantara yang bertujuan menguak misteri terbesar dari satu hal yang paling sederhana.

Lorem Ipsum


Kata di dalam buku-buku itu tetaplah sama. Misteri di belakangnya adalah kunci untuk misteri selanjutnya.
Menjelang sore hari, ia sudah menunggu di sebuah kafe pinggir jalan dengan payung cokelat bergaya Skandinavia. Seorang pemuda mengenakan jaket kain lengkap dengan penutup kepala berjalan mendekat. Cyntia melambaikan tangan kemudian memanggil. Dua coklat panas sudah dipesan.
"Ada apa kau memanggilku? Tidak biasanya...," tanya pemuda itu segera setelah duduk.
"Aku ada kasus."
Tapi pemuda itu tersenyum meremehkan.
"Kau memang selalu ada kasus kan."
"Tapi yang ini beda, Noe."
Pemuda itu menggosok-gosok dagunya, pertanda penasaran sekaligus curiga.
"Oke, anggap saja aku tertarik. Ada apa?"
Cyntia lalu merogoh kertas keluar dari tasnya. Kertas bergambar lengkap dengan tulisan ilustrasi itu kini tergelar lebar di atas meja. Gelas-gelas sejenak dipinggirkan.
"Menurutmu  ini apa?"
Noe menegakkan badan agar matanya lebih dekat ke kertas berwarna kekuningan itu. Seketika keningnya mengkerut dan tangannya pindah ke kepala. Pandangannya berubah tajam, lalu tiba-tiba lunglai. Ia tersenyum.
Kertas itu bergambar beberapa hasil scan foto mayat korban "bunuh diri" beserta satu korban kedelapan yang menampilkan buku-buku yang mirip. Ada coretan di sana-sini yang berisi peta pemikiran orang yang berusaha memecahkannya, dan setidaknya ada lima tulisan tebal dengan kata aneh yang muncul sejak awal. Dua kata aneh itu yang paling menarik perhatian Noe.
"Cyntia... Cyntia...." pemuda itu lalu menggeleng.
"Kau selalu terlibat dalam kasus besar. Apa tidak kau sadari tujuan dari kasus ini?"
Cyntia menggeleng.
Noe lalu menunjuk sesuatu di kertas itu.
"Yang ini," katanya kemudian. "Adalah Kalimantan." Jari telunjuknya berada tepat di atas foto wanita setengah baya sang pedagang emas asal Singkawang. Darah bersimbah di sekeliling kepala dan perutnya.
"Perhatikan. Posisi mayatnya dengan kedua tangan terkulai ke samping dan telapak di samping kepala menunjukkan utara. Utara, perhatikan. Dan di mana buku itu berada? Lihat ini." Noe menunjuk gambar itu, tepat di bagian telunjuk korban. Di ujung jauh jari telunjuk yan gmenghadap ke atas itu, tertuju sebuah suku kata dari serangkaian frasa aneh yang muncul sejak awal.

"sum"

Bagian itu adalah akhir dari frasa.
Telunjuk Noe lalu berpindah ke sebuah foto anak kecil yang mati dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya tergantung lurus di bawah seutas tali akar.
"Ini anak yang terbunuh di Medan. Medan berada di Sumatera."
Di bawah ibu jari kaki anak itu, buku tebal sampul hitam itu tergeletak. Sebuah suku kata tertunjuk lurus.

"lor", bagian awal dari frasa.


Cyntia terkejut. Ditatapnya mata Noe dengan takjub.
"Astaga! Aku tidak menyadarinya sedikitpun!"
"Santai dulu. Kita harus mengurai ini satu demi satu." Noe lalu meneguk coklat cairnya yang mulai mendingin. Hujan turun semakin deras.

"Yang ini pasti Jawa." Cyntia menebak. Noe membalasnya dengan anggukan.
"Ujung jari adalah petunjuk dari korban selanjutnya yang berada, kemungkinan besar, di sebuah pulau yang berbeda dengan tempat korban terkini dibunuh. Setiap suku kata mewakili sebuah pulau. Yang jika disatukan..."

Cyntia mengutak-atik gambar itu dengan cepat. Pikirannya bekerja sekejap untuk memaksakan segala logikanya keluar membaca gambar demi gambar, beserta letak ujung jari dari setiap korban. Noe hanya bisa melihatnya sambil mengunyah kentang goreng yang ia comot dari piring di sudut meja. Baginya, bermitra dengan wanita seperti Cyntia adalah setengah kemudahan. Ia hanya harus menelurkan pikiran dan ide pemantik untuk kemudian membiarkan gadis itu menemukan kembali jalan pikirannya. Bagaimanapun ia belum memikirkan untuk terlibat dalam masalah ini lebih dalam.

"Aku harus keliling Indonesia!" Cyntia menyampaikan kesimpulannya dengan tergesa-gesa.

"Ya, kalau memang harus seperti itu. Aku yakin kematian sang profesor adalah bagian dari petunjuk."

(bersambung... )

Ilustrasi: teddy-o-ted.com.
Wednesday, January 18, 2012
Ditulis oleh Unknown

Lorem Ipsum 2

(Episode sebelumnya...)



"Maaf aku belum sempat memberitahumu tentang kata itu." kata Nugraha sambil menarik kursi plastik di depannya.
Suasana kafe pinggir jalan seperti ini memang selalu didambakan insan profesional untuk menyegarkan pikiran mereka. Melepaskans sejenak roh yang panas dan mengalirkan darah segar ke otak. Kafe Mutia di sudut persimpangan Jenderal Sudirman itu selalu memanjakan orang-orang di Jakarta. Bukan cuma karena posisinya yang strategis, tapi juga suasana romansanya yang sarat dedaunan rimbun merambat dan suara lonceng bambu yang menenangkan. Nugraha mengambil posisi duduknya, berhadapan dengan Cyntia yang duduk di sisi lainnya.

"Kata?" komentar Cyntia sambil menyeruput jus melonnya melalui sedotan melengkung.

"'Lorem Ipsum'. Inspektur Susno menamakan kasusnya dengan itu. Ketujuh buku, delapan sama yang barusan, berciri sama, meski isinya berbeda-beda dalam penyajian tulisan. Semua tentang jurnal perjalanan keliling Indonesia yang pernah melalui banyak daerah. Di dalam tujuh buku yang pernah aku baca atas izin inspektur, ada beberapa nama yang sepertinya adalah warga kampung setempat, daerah-daerah yang pernah didatangi oleh penulisnya."

"Siapa penulis buku-buku itu?" tanya Cyntia sambil melipat lengannya di atas meja.
"Entahlah, Cyn," jawab Nugraha sambil menghela napas. "Yang jelas, meninggalnya delapan orang ini pasti ada kaitannya dengan buku itu. Meski polisi menetapkan belum ada tersangka, tapi  tetap saja aku merasa ada yang ganjil."

"Sebentar...," Cyntia menginterupsi sambil mengangkat telunjuknya. "Dari berkas yang kubaca tadi, ada satu korban yang jelas-jelas dibunuh. Meninggal dengan luka sobek bekas senjata tajam."

"Anabelle? Pedagang emas asal Singkawang itu?"
Cyntia mengangguk.

"Itupun polisi belum tahu tersangkanya. Tentu saja di depan wartawan media kriminal mereka mengaku sudah mengetahui dan sedang dalam pengejaran tersangka. Tapi pengakuan pribadi inspektur Susno kepadaku, mereka belum sejauh itu."

"Jadi semuanya tetap misteri ya...." Cyntia kembali jatuh dalam pikirannya.
"Anyway, Cyntia. Bukan seharusnya ini menjadi urusanmu, masalah kriminal ini. Kau santai dulu sejenak. Nikmati suasana di sini. Lagipula, aku senang kau bisa enjoy berangkat bersamaku dan tidak terlalu kaku."

Cyntia melirik Nugraha penuh selidik.
"Cyntia, ayolah. Kita berteman sudah lama. Jadi kalau di luar begini, jangan kau terlalu sering panggil aku dengan 'pak'. Itu memberi kesan aku jauh lebih tua," timpalnya sambil tersenyum.
Cyntia balas tersenyum.

"Justru aku yang berterima kasih karena sudah dilibatkan secara profesional dan personal dalam hal ini, Nugraha. Tenang saja. Di luar sini, aku bahkan berani memiinta kamu membayar makanan dan minuman."

"Hahaha.... itu juga boleh." Nugraha menggerak-gerakkan telunjuknya.

Suasana cair sejenak, dan mereka menyantap kentang goreng dan beberapa kerupuk di meja itu. Cyntia nampak lebih rileks sementara Nugraha tetap tenang seperti biasanya. Ia tahu betul bahwa tanggung jawabnyalah untuk menjaga suasana tetap nyaman agar rekan kerjanya bisa berpikir lebih jernih.

"Ngomong-ngomong, Lorem Ipsum itu.... aku sering ketemu kata itu di internet." Cyntia mengungkapkan pikirannya kembali.
"Iya. Itu kata yang tidak berasal dari induk bahasa manapun. Sebagian kalangan dunia mengatakan bahwa lorem ipsum berasal dari Bahasa Latin, tapi sebetulnya asal muasal kata itu sendiri tidak begitu jelas. Satu sumber mengatakan bahwa seorang profesor Bahasa Latin dari Hampden-Sydney College di Virginia pernah mendapatkan sumber yang dianggapnya akurat saat berusaha mencari makna dari sebuah kata latin yang paling tidak dikenal, yaitu "concectetur". Nah, Profesor ini berusaha bertahun-tahun hingga akhirnya menemukan kata itu tertuang di dalam naskah de Finibus bonorum et Malorum atau yang dikenal dengan "Sisi Ekstrem dari Kebaikan dan Kejahatan", karya sastrawan terkenal, Cicero dari tahun 45 Masehi. Baris pertama dari Lorem Ipsum, yang bunyinya :"Lorem Ipsum dolor sit amet", berasal dari salah satu bagian naskah yang disebut sebagai 1.10.32. Selanjutnya hingga 200 tahun setelahnya, lorem ipsum dipakai sebagai penanda model penempatan kalimat pada sebuh halaman tulis, yang sekarang banyak dipakai di desain-desain program web dan blog."

Cyntia menyimak setiap uraian Nugraha. Ia tak bergeming sedikitpun.
"Dari mana kamu tahu semua itu?" komentarnya kemudian.

"Well, masih banyak yang perlu kamu tahu tentang aku, Cyntia." Nugraha mengedipkan satu matanya.

"Lalu, apa rencana kita setelah ini?"
"Yang jelas, kamu aku tugaskan membuat reportase lengkap tentang semua ini. Seharusnya ini bisa jadi berita feature, tapi entah siapa sumber nyata yang bisa kita liput. Untuk sementara kita biarkan teman-teman dari Redaksi Kriminal mengasah beritanya sambil kita belajar dari sana. Tujuan utama kita hanya buku-buku misterius itu."

"Yang jelas itu tentang Indonesia," komentar Cyntia.
"Bisa iya, bisa juga tentang Nusantara purba."

Cyntia menghela napas. "Jadi, kalau begitu aku juga ditugaskan membaca tulisan-tulisan tentang James Richardson Logan?"

"Kalau perlu, tapi aku yakin kamu bisa melakukan ini. Cyntia, dengarkan ini." Nugraha mendekatkan dirinya ke Cyntia.

"Ini akan menjadi berita perjalanan jelajah Nusantara terbaik. Media-media lain bersaing untuk mendapatkan informasi. Syukurnya kita punya inspektur yang bisa membantu kita dengan buku-buku itu. Manfaatkan sebaik-baiknya. Mengerti?" Tiba-tiba pandangannya berubah tajam. Cyntia diam sejenak.
"Saya mengerti, Pak."
Melihat reaksi rekannya itu, Nugraha tersenyum.

***


Dalam perjalanan pulang sore itu Cyntia berusaha menenangkan diri. Radio yang memutar lagu Starlight karya Muse membuatnya bisa sedikit bersenandung dan menggerak-gerakkan kepala. Kemacetan dan suhu ekstrem membuatnya sedikit gerah. Beberapa kali ia harus meneguk cairan ion dalam kemasan botol itu untuk menyegarkan pikirannya. Lalu saat berhenti di tengah antrean kendaraan, ia dikejutkan oleh selebaran yang tiba-tiba ditempelkan di kaca depan mobilnya. Ia memperhatikan isi selebaran yang terpasang menghadap pengemudi itu.

Lagi-lagi kata itu. Ada apa denganku hari ini?
Tulisan di selebaran berwarna merah hasil fotokopian itu berbunyi Lorem Ipsum. Pertunjukan di teater utama Fakultas Seni dan Budaya UI. Waktunya tertanggal hari ini, tepatnya malam ini.

Cyntia lalu meraih selebaran itu dengan tangannya melalui pintu. Sejenak ia mencari tahu siapa penyebar informasi itu, hingga ia melihat beberapa mahasiswa berkeliling membagikan selebarn informasi teater mahasiswa itu.

"Diangkat dari kisah nyata, jurnal perjalanan Nusantara yang tersembunyi...." kata-katanya mengikuti apa yang tertulis di selebaran itu.

Cyntia bergegas pulang, namun kemacetan belum berakhir. Ia memilih menghabiskan waktu dengan musik. Selebaran itu terlipat rapi di dasbornya.

***

"Halo...? Nugraha? Bisa keluar malam ini?"
Cyntia sudah berdandan rapi sebagaimana layaknya pemudi penggemar teater. Kemampuannya menyesuaikan gaya memang selalu dipuji. Kali ini setelan celana jins ketat dipadu dengan kaos dan rompi bergaya santai yang terbuat dari katun dan beberapa asesori di leher dan pergelangan tangannya membuat Cyntia nampak bak seorang siswi perguruan tinggi yang hedon. Ia mondar-mandir di halaman depan rumah kontrakannya.

Telepon ditutup. Cyntia lalu bersiap-siap, mengunci rumah, lalu berangkat dengan mobil Sirion andalannya.

Suasana malam kota Jakarta lebih lembab, meski udaranya masih hangat. Hujan lokal di beberapa daerah kota membuat jalanan nampak kontras basah dan sebagian lainnya kering. Mobil itu melaju membelah jalan-jalan poros yang tak pernah sepi, mewakili urat-urat nadi kota metropolitan yang terus bernapas.

Perjalanan hampir satu jam itu kemudian membawanya menembus gerbang masuk Fakultas Seni UI. Di kawasan parkir, setelah turun dari mobil dan mengambil tiket dari petugas parkir, ia merogoh telepon genggamnya yang bergetar.

"Halo? Nugraha? Oo... gitu. Ya. Tidak apa-apa. Biar saya laporkan lagi besok. Bye."

Cyntia berjalan memasuki auditorium. Setelah membeli satu tiket, ia mendapatkan tempat duduk di barisan tengah, sehingga dari posisinya ia dapat melihat jelas panggung berukuran dua kali panjang lapangan bulutangkis itu.

Pertunjukan dimulai.

Adegan menunjukkan seorang pria paruh baya yang mendarat di sebuah kampung yang ditata mirip Nias, lengkap dengan batu loncatnya.

"Halo, kampung Nias orang pemegang adat." kata tokoh berambut pirang itu.
Lalu beberapa tokoh lain menghampiri dan menunduk di depannya.

"Di mana hadiah untuk saya?" kata tokoh pirang itu lagi. Gayanya yang nampak berkuasa membuat tokoh-tokoh lain mengikut kemanapun ia melangkah. "Negeri ini akan dibangun oleh orang-orang luar dengan bantuan kalian. "Beritahu kami rahasia tempat ini...."

Cyntia memperhatikan adegan demi adehan. Beberapa kali ia mencatat poin-poin yang dikiranya penting. Di buku tulis mininya yang bergambar kartun gadis peselancar itu, ia menulis beberapa kata, seperti:

"Logan", "Nias", "Dayak", "Bugis", "Tiongkok", "Karimunjawa", dan "Rahasia di balik nama".

Adegan-adegan berikutnya tak begitu menarik perhatian Cyntia. Ia beberapa kali menguap dan nyaris jatuh dalam tidur. Tapi ia melewati malam itu dengan beberapa hal yang ditangkapnya.

"Lalu penyampaian pesan akan dilewatkan atas buku-buku dan nama-nama!" Tokoh itu kembali berteriak. Efek cahaya, suara, dan sedikit asap menandai klimaks pertunjukan ini.

Cyntia lagi-lagi mencatat.

Dua jam kemudian, ia sudah kembali di dalam mobilnya.

***

Cyntia terbangun dari tidurnya. Matanya sayup-sayup melihat kain jendelanya yang berkibar ditiup angin pagi dari lubang-lubang di sampingnya. Hari Minggu terkadang menjadi kesempatan baginya untuk bersantai, namun telepon ia harus terbangun lebih cepat. Telepon genggamnya bergetar di atas meja. Ia meraihnya dengan malas.

"Cyntia! Syukurlah kamu sudah bangun." kata suara di seberang sana.
"Ya iya lah aku sudah bangun. Pagi-pagi sekali. Ini hari minggu. Ada apa?"
"Cyntia, ada pemuda yang menghubungi nomor teleponku dini hari tadi. Ia mengaku sebagai anak dari Profesor itu."

Cyntia terkejut. Ia lalu bangkit dan duduk di kasurnya.

"Anaknya? Maksudmu Prof. Cipto? Almarhum?"
"Iya. Datang ya. Jam sembilan. Aku tunggu di ruangan redaksi."
"Jam berapa? Halo?" Telepon terputus.
Pagi itu Cyntia bergegas. Kembali ia memacu mobilnya membelah jalan-jalan kota menuju kantornya di kawasan Palmerah Selatan. Setelah melewati dua lantai yang lengang, ia menaiki tangga menuju lantai tiga. Saat berjalan melewati koridor berpendingin ruangan itu, ia berpapasan dengan seorang pemuda.

"Mbak Cyntia Megasari ya?" sapa pemuda itu.
Cyntia mengangkat wajah lalu mendapati sosok itu, pemuda jangkung dengan pakaian tak begitu rapi. Dari penampilannya itu Cyntia bisa menebak ia masih mahasiswa atau pekerja lapangan. Pemuda itu mengenakan kemeja merah bermotif kotak dengan lengan panjangnya yang digulung hingga ke siku serta kancing-kancingnya tidak saling terkait menampilkan langusn kaos bergambar aneh yang dipakai di dalamnya. Pandangannya melirik ke bawah, lalu melihat penampilan santai pemuda itu dengan celana sobek di bagian lutut bertopang sneaker bertali.
Pandangannya kembali menatap wajah pemuda itu yang tirus dengan tulang-tulang pipi menonjol dan senyuman ramah cenderung polos.

"Iya, betul. Siapa ya?" sambut Cyntia sambil membalas jabat tangan pemuda itu.
"Saya Hendrik, anaknya Pak Hargo."
"O... Hendrik. Saya Cyntia. Turut berduka ya. Sabar dan tabah," hibur Cyntia sambil tersenyum.

Mereka lalu duduk berdua di bangku panjang di depan ruang redaksi. Tak lama kemudian, Nugraha keluar dari ruangan itu.

"Eh, sudah sampai. Terlalu cepat, datangnya Cyntia," komentarnya. "Maaf semalam saya tidak  bisa datang."
"Tidak apa-apa. Saya tadi tidak dengar persis disuruh datang jam berapa, Pak. Jadi segera saja saya ke sini." "Mari, kita langsung ngobrol di dalam saja." Nugraha mempersilakan masuk.

Cyntia lalu bangkit dari kursinya, lalu sesaat ia menangkap momen menyadari tingkah laku serta perhatian aneh yang diberikan Hendrik, pemuda yang baru memperkenalkan diri kepadanya. Hendrik begitu memberi ruang bagi Cyntia. Ia memperhatikan Cyntia bangkit dari kursi, lalu mengikuti dari belakang. Melihat itu, Nugraha yang sudah mafhum dengan sikap seksual anak muda sejank bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Hendrik.

"Bisa tolong rahasiakan pertemuan ini?" pinta Hendrik tiba-tiba saat mereka baru hendak duduk di sisi sebuah meja pertemuan.

"Tentu," kata Nugraha.
"Saya mohon, tolong kembalikan buku-buku ayah saya. Biar saya yang menyimpannya. Itu adalah karya-karya ayah yang pertama berdasarkan pengalaman sendiri." Kini nada suaranya sungguh memohon.

"Maksudmu, buku-buku apa? Yang ada di kepolisian?"
"Ya. Tujuh buku bergambar Nusantara itu ditulis oleh Ayah saya. Profesor dulu orang yang kolot meski kecerdasannya tak tertandingi di fakultas. Tapi kecerdasan membuatnya jarang bersosialisasi. Perjalannya selama dua bulan ke 26 provinsi yang diulang beberapa kali dalam sepuluh tahun terakhir membuatnya sungguh mencintai buku-buku itu."

"Lalu buku kedelapan?" tanya Cyntia tiba-tiba. Kini mereka bertiga sudah duduk mengelilingi meja berkaki rendah.

"Buku kedelapan? Saya tidak pernah mendengar ada buku kedelapan," kata Hendrik terkejut.
"Almarhum Profesor ditemukan dengan satu buku yang sama dengan ketujuh buku di kepolisian. Jadi semua ada delapan buku."
"Tidak mungkin." protes Hendrik. "Saya yang mengurus penulisan serta penjilidan buku-buku ayah. Bukunya hanya ada tujuh, dan itu adalah sumber harta...." kata-katanya terputus.

"Harta?" potong Nugraha dengan pandangan menyelidik.

"Itu...." Hendrik tertunduk. Tangannya saling meremas. "Itu bagian dari rahasia keluarga kami. Maaf."

Nugraha mengangguk. Cyntia melirik kedua orang di depannya bergantian. Di benaknya, semua masalah ini bertambah kompleks. Kini seorang pemuda yang mengaku sebagai anak dari salah satu korban, datang membawa fakta yang mengejutkan. 

Mengapa ada delapan buku kalau anak ini mengaku hanya menyaksikan tujuh? Apakah sebelumnya profesor pernah menulis buku yang sama?


(bersambung....)

Friday, August 5, 2011
Ditulis oleh Unknown

Lorem Ipsum 1





Lelaki tua itu mengutak-atik halaman bukunya. Di kamar perpustakaan  itu cahaya remang tersebar dari lampu pijar bercorong yang digantung di tengah ruangan. Ia lalu mengeluarkan sebuah buku tua dari barisan tingkat ketiga rak di bagian belakang ruang itu. Ia menatap buku itu sejenak, mengamati sampulnya yang bergambar peta Indonesia. Pandangannya digeser sedikit ke bagian pojok kanan bawah, lalu ia tersenyum puas.


Langkahnya terseret perlahan dengan tongkat berjalannya menepuk-nepuk lantai kayu itu. Beberapa serangga kayu berlarian saat kakinya yang berbalut kaos kaki penghangat melangkah menuju meja kerja di dekat jendela. Ia lalu menutup kerai jendela, menyamarkan suara serangga-serangga dan lolongan anjing tengah malam yang sebelumnya menyeruak ke kamarnya. Kini sedikitpun angin tak mengalir ke dalam kamar itu. Lampu berhenti berayun. Semuanya tenang.


Buku tebal itu lalu diletakkan di atas meja. Lelaki itu menyingkirkan kerta-kertas premi asuransi pensiun dan beberapa surat pribadi yang baru diterimanya. Buku itu kini terbuka tepat di tengah-tengah meja.

Lelaki itu lalu membuka sampulnya yang kaku. Cahaya berwarna kuning terpantul dari kertas buku itu lalu menyentuh lensa kacamatanya. Ia menghela napas, lalu sejenak menenangkan diri. Setelah sampul terbuka, muncullah frasa itu di hadapannya kini. Apa yang tertulis di halaman pertama, tepat setelah sampul buku berketebalan lebih dari 400 halaman itu, membuat seorang lelaki tua berbisik tidak karuan. matanya dipejamkan, rambutnya berulang kali diseka, jari-jarinya dikepalkan.

"
Lorem Ipsum."

Kata tulisan tangan itu adalah satu-satunya rangkaian huruf di halaman pertama buku itu. Kini, setelah menenangkan diri dan meneguk air minum dari gelas berkaki di mejanya, lelaki itu membuka halaman-demi halaman berikutnya.

Ia lalu kembali menutup buku itu segera, menatap sampulnya yang bergambarkan peta Kepulauan Nusantara gaek, saat Malaka dan Timor-timur masih dianggap Tanah Air. Ia amati setiap bagian gambar itu.
Betapa setiap inci dari peta memperbesar skala realitas struktur kehidupan.

***

Cyntia kehabisan ide. Dibolak-baliknya lembar-lembar buku tulis mininya. Usahanya selama dua jam terakhir untuk menyusun sebuah artikel tentang hubungan hobi jelajah dengan spiritualitas belum memunculkan ide tulisan apapun di benaknya. Ia menyeruput kopi es bergelas plastik itu sampai habis, lalu menghentakkannya di meja. Kakinya yang saling silang menjulur ke depan, bertumpu di atas sebuah kursi di sampingnya, kini ditarik turun. Dengan sigap pun ia merapikan rambutnya, menghela napas, lalu berdiri saat ia melihat seseorang berjalan mendekatinya.

"Pak Nugraha," sapa Cyntia sambil mengangguk dan tersenyum. Sama sekali ia tak menyangka redakturnya yang dikenal kalem itu sampai menjumpainya di taman belakang kantor tempat dirinya biasa bersantai dengan para satpam dan petugas kebersihan.

"Cyntia, sudah dihabiskan kopinya?" sapa Nugraha singkat. Sikapnya memang dikenal sigap, tak suka basa basi, dan memperhatikan detil.

Setelah sempat berbalik dan melihat gelas kopinya yang terjatuh di meja aluminium berbentuk lingkaran itu, Cyntia kembali menatap atasannya. "Sudah, Pak."

"Bagus. Tolong kamu baca ini. Nanti kasih aku pandanganmu. Seseorang ditemukan meninggal di rumahnya pagi ini."

Terheran, Cyntia protes. "Maaf, pak. Tapi, bukannya pembunuhan itu urusannya...."
"Redaksi kriminal. Tapi apa yang diduga motifnya bisa jadi bahan materi berita sekaligus pelajaran buat redaksi kita. Bersiap-siaplah." Nugraha lalu berlalu.

Di tangan Cyntia kini, terpegang bundel berbentuk map berisi beberapa kertas. Di sampul map itu terdapat gambar Kepulauan Nusantara. Merasa mendapatkan angin segar setelah idenya buntu selama dua jam terakhir. Cyntia duduk lalu membuka map itu. 
Apa yang tertulis di berkas-berkas itu membuatnya terkejut. Air mukanya berubah suram.

Map itu berisi beberapa berita kematian misterius yang terjadi di satu sektor Jakarta Selatan selama tujuh tahun terakhir. Cyntia membuka halaman demi halaman, mencermati foto-foto korban satu per satu.
Ini tokoh politik yang terkenal itu. "Ditemukan tewas di dalam sumur dengan posisi kepala di bawah." Ia berbisik kepada diri sendiri.

"Anabelle, 25. Pengusaha emas asal Singkawang. Tewas dengan bekas luka senjata tajam di tiga bagian tubuhnya."
Yang ini anak kecil lima tahun. Apa hubungannya?

Kebingungan dengan apa yang baru saja dibacanya, ia lalu bergegas merapikan kembali map itu. Tapi baru saja ia mau menutupnya, pandangannya menangkap simbol aneh di berupa anagram di pojok atas sebuah foto korban. Dalam foto itu, di samping kepala mayat korban, tergeletak sebuah buku bergambar Kepulauan Nusantara. Ia lalu membuka foto-foto lain. Di semua foto itu, terselip bayangan gambar sedikit bagian yang ia tahu adalah buku, sama dengan apa yang ada di foto yang lain. Ia membuka-buka lagi semua foto, meyakinkan dirinya, tangannya mulai gemetar. Lalu ia terjatuh di kursinya. Semua foto itu menampilkan buku tebal tua, bergambar sama pada sampulnya. Dan semua korbannya tewas secara tidak wajar.

Koridor lantai tiga Kantor Kompas Gramedia nampak lengang. Hari kerja di minggu selepas musim lebaran memang selalu seperti ini. Sebagian pegawai dan jurnalis yang berasal dari luar Jakarta belum kembali. Mereka terbawa suasana kehangatan keluarga dengan bermudik. Tradisi elok yang hanya dimiliki Kepulauan Nusantara sejak dulu. Cyntia sendiri harus melawan rasa melankolisnya dan mengejar logikanya yang senantianya menyadarkannya tentang dua hal yang paling dicintainya: pekerjaan sebagai jurnalis, dan hobi sebagai penjelajah Nusantara.

"Eh, Cyntia.... Kau sudah di sini rupanya." Suara itu menyadarkan Cyntia dari lamunannya. Ia sontak berdiri dari kursi tunggu di depan kantor redaktur. Nugraha berjalan keluar dan menyapanya. "Sudah mengerti maksud saya tadi? Hubungannya?"
"Sudah, Pak. Saya bertanya-tanya kenapa..."
"Iya saya mengerti. Ayo. Kita bicarakan di mobil."
"Kita mau kemana, Pak?"
"Ke TKP."

Di dalam mobil yang melaju membelah kota Jakarta itu, Cyntia lagi-lagi tenggelam dalam lamunannya. Ia membayangkan bagaimana bisa profil anak kecil masuk ke sebuah berkas korban pembunuhan yang tidak terungkap. Ia mengangkat alis, beberapa kali menyadarkan pikirannya sendiri. Ia lalu tersenyum.

"Karimun Jawa masih tenteram ya, Cyntia."
"Hm?"
"Karimun Jawa..." Nugraha berusaha membangun topik pembicaraan. Selama lima belas menit terakhir perjalanan mereka terjebak dalam diam. Nugraha memang dikenal sebagai orang yang bersimpati, meski ia seringkali menunjukkannya dengan caranya sendiri yang oleh banyak rekannya dianggap ortodoks. Di mata bawahannya, ia beberapa kali bahkan dicandai bahwa sebaiknya ia bekerja di London, karena gayanya yang khas para pejabat kelas tinggi di Eropa. Santun tapi tak bertele-tele, berbicara hanya untuk hal-hal yang penting, dan kata-katanya terpilih.

"Karimun Jawa masih eksotis, Pak. Selain masalah terumbu karang yang berkurang dan pekerjaan warga yang masih monoton, semuanya apik sebagai objek wisata." Cyntia berkomentar melayani sodoran topik yang ia tahu sebenarnya hanya untuk membangkitkan semangatnya.

Nugraha tersenyum.

"Sepertinya kau benar-benar tertarik dengan kasus ini ya, Cyntia."
Cyntia menatap atasannya itu dengan sigap. Benaknya pada nyatanya masih meraba-raba hal apa yang akan ditemuinya dengan awal perjalanan ini.
"Well, kurasa kita sudah sampai."

Mobil SUV berwarna gelap itu lalu diarahkan oleh petugas parkir berseragam rompi oranya dengan beberapa sempritannya. Nugraha turun dari mobil, diikuti Cyntia. Beberapa pedagang asongan langsung menghampiri mereka, menawaran minuman dingin.

"Es teh?" Nugraha menawarkan kepada Cyntia. Tapi Cyntia menggeleng sambil tersenyum.
Mereka lalu berjalan ke arah halaman sebuah rumah putih berpagar tinggi. Rumah itu bertingkat tiga dengan gaya lebih mirip istana kecil. Taman luasnya ditutupi rumput halus dan dihiasi sebuah kolam air mancur. Nugraha dan Cyntia butuh hampir setengah menit agar sampai di ambang pintunya. Di atas pintunya, tertulis "Puri Hargo".

Mereka memijakkan kaki di teras keramik rumah itu, menunduk melewati garis polisi, menyapa beberapa bripda yang berjaga, lalu masuk melalui pintu utama. 



"Inilah rumah Profesor Cipto Hargowinoto. Profesor sejarah UI, pensiun, seorang filantropis."

"Ada apa, Cyntia?" tanya Nugraha saat melihat rekannya berhenti melangkah.
"Tidak apa-apa, Pak. Ini baru pertama kali saya ke TKP kriminal."
Nugraha tersenyum, lalu menggamat tangan Cyntia.
"Eh, Pak..."
"Sudah, tidak-apa-apa."

Ruang utama rumah itu ditata rapi. Furniturnya nampak klasik meski tak begitu padat. Hanya ada empat kursi panjang berbalut kain Turki, meja berkaki pendek, dan empat lukisan besar. Di tengah-tengah ruangan menghadap koridor belakang, berdiri tangga melingkar menuju lantai dua. Nugraha dan Cyntia berkeliling mengamati rumah itu sejenak. Beberapa petugas forensik memperhatikan mereka, meski tahu bahwa mereka adalah peliput. Kamera Nikon dengan lensa berukuran sedang tergantung di leher Cyntia, dan kartu identitas PERS-nya pun masih kelihatan jelas meski terhimpit di antara ujung bawah kaos dan bagian paha celana jins-nya.

"Ha... Pak Nugraha!"
Seorang berseragam polisi menyambut mereka berdua. Orang ini  masih kelihatan tinggi sebagaimana Nugraha mengingatnya, perut agak tambun, dengan senyuman nampak ramah dengan kumis tebal terbelah.
"Pak Susno," balas Nugraha sambil menyambut tangan inspektur.
"Apa kabar Kompas?"
"Baik, Pak. Kok sudah jarang main ke kantor?"
"Ya... Saya cuma datang ke kantor media karena dua hal: diundang wawancara, atau kalian ada kasus." balas inspektur dengan nada bercanda.
Nugraha tertawa, sementara Cyntia hanya tersenyum.
"Oh iya, Pak. Kenalkan ini jurnalis yang saya bawa. Cyntia, ini..."
"Inspektur Susno, bareskrim Polri. Pensiun tahun 2013 mendatang kan Pak?"
Inspektur dan Nugraha terkejut mendengar tebakan Cyntia itu. 

"Baik. Kalau begitu... Pak, Bisa di mana kita bisa wawancara?" tanya Nugraha kepada inspektur mengembalikan fokus.
"O, sini mari. Silakan. Maaf karena forensik baru saja membawa mayat. TKP masih tertutup."

Mereka bertiga lalu menuju sebuah ruangan di bagian belakang, melewati tangga melengkung, berjalan menembus koridor ke arah dapur.

"Jadi dugaan sementara bunuh diri ya," tanya Nugraha saat mereka sudah duduk bersama di sebuah meja dapur.

"Iya, tidak ada tanda-tanda penganiayaan, bunuh diri," jawab inspektur Susno sambil mengeluarkan tiga air mineral berkemasan gelas dan menaruhnya di meja.
"Bagaimana dengan buku itu, Pak? Disita juga?"
"Hahaha.... Pak Nugraha. Anda ini jurnalis jelajah sih ya, jadi kurang mengerti. Saya mafhum." Nada bicara inspektur mendadak berubah agak menyindir. Nugraha membalasnya dengan tersenyum, sementara Cyntia menahan tawanya.
"Istilah 'disita' hanya jika berhubungan dengan tersangka. Kita belum ada tersangka. Bukunya dibawa untuk investigasi saja."
"Tapi sempat difoto kan, Pak? Bukunya?"
"Em... itu. Coba saya tanyakan." Inspektur Susno lalu memanggil salah satu petugasnya, yang kemudian datang membawa kamara hitam berukuran sedang, mirip dengan yang dibawa Cyntia.
"Nah, ini dia... foto korban."
Nugraha berdiri lalu mencondongkan badannya, melihat layar kamera yang ditunjukkan oleh inspektur. Cyntia ikut memeriksa.

"Ini.... Mirip dengan foto-foto itu," komentar Cyntia sambil melihat ke arah Nugraha.
"Memang, posisinya sama. Tapi kita belum bisa menyimpulkan ada kaitannya atau tidak dengan kasus Lorem Ipsum." jawab inspektur.
"Lorem Ipsum?" Cyntia bertanya balik.
Inspektur menatapnya serius. "Jadi mbak ini belum tahu ya? Nugraha, Anda belum cerita?"
Nugraha berdecak. "Saya baru mau ceritakan."
"Mbak penjelajah Nusantara kan? Sudah dapat penghargaan baru-baru ini dari Kementerian Pariwisata?" tanya inspektur dengan nada ragu.
"I.. iya, Pak."
"Nah! Kalau begitu kasus ini cocok. Polisi butuh pandangan rasional juga, meskipun tidak tersistem dalam BAP ataupun berkas hukum nantinya. Sebagaimana kalian ketahui. Dia ini adalah korban kedelapan. Dan pak tua ini satu-satunya korban bunuh diri yang sidik jarinya ditemukan di buku yang tergeletak di sampingnya.
"Berarti semua korban sebelumnya, buku-buku yang tergeletak di samping kepala mereka, ada di kepolisian?"
"Ya, bukunya ada tujuh. Dengan ini berarti delapan. Semuanya sama. Bersampul tebal, bergambar Kepulauan Nusantara. Isinya berisi catatan-catatan perjalanan di setidaknya dua puluh provinsi dan belasan pulau perbatasan." inspektur menjelaskan.
"Tapi dengan ditemukannya mayat kedelapan ini, kasusnya jadi makin panjang. Padahal kasus ini sudah kami tutup satu bulan yang lalu."

Cyntia menatap layar monitor di kamera itu sekali lagi. Gambar yang dilihatnya itu, seorang kakek berpakaian tertutup dengan rompi terbuat dari wol yang nampak bersih. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Buku itu, tergeletak di atas sebuah meja kayu.

"Maaf, pak. Korban bunuh dirinya dengan cara apa?" Cyntia bertanya, memotong pembicaraan ringan antara Nugraha dan inspektur.
"Gantung diri," jawab inspektur singkat.
"Sayang sekali profesor sekaya beliau tinggal tidak bersama kaluarganya. Menyedihkan mati tanpa seorang keluargapun mendampingi." Nugraha berkomentar ringan.



Saat mereka meninggalkan rumah itu, Cyntia kembali tenggelam dalam pikirannya.
Jelajah Nusantara, Buku catatan perjalanan, Lorem Ipsum, bunuh diri berantai. Apa hubungannya?

(bersambung...)



*Ilustrasi: teddy-o-ted.com.
Thursday, August 4, 2011
Ditulis oleh Unknown

Surat Tak Terkirim (1)

Satria berlari sekencang mungkin. Rambutnya yang halus tertiup angin dan menutupi keningnya yang basah karena keringat. Tali sepatunya mulai kendor. Kaosnya basah, punggungnya berkeringat. Ayam-ayam berlompatan saat kakinya mulai berayun cepat membelah jalan setapak, sebelum berbelok ke gang lainnya. Orang-orang di dekat situ berteriak, mengumpat. Pasar di pinggir kota itu seketika menjadi riuh dan ramai karena sekelompok orang berkejaran ini.

Napas Satria makin cepat. Nyaris tertahan ludah di tenggorokannya, ia masih berlari. Pandangannya mulai kabur. Dilambai-lambaikan tangan kirinya kepada sekerumunan orang di depannya yang nampak kaget dan berteriak, mereka lalu menyingkir.

“Mingggiiirr….!” Satria berteriak serak.

Ia tersandung, hampir jatuh, tapi berhasil menyeimbangkan tubuh lalu berlari lagi. Nampak cahaya lebih terang di depan, jalan besar dengan lalu lintas padat di pagi jam kerja ini. Persiapan Waisak di Kota Denpasar memang selalu ramai. Pejalan kaki pun mulai mengisi bahu-bahu jalan. Mereka nampak tersenyum, menikmati hangatnya matahari April yang hangat, ketika tiba-tiba beberapa di antara mereka terkejut ketika punggungnya didorong dari belakang. Satria berlari membelah kerumunan orang, dengan tergopoh-gopoh, berlari ke arah utara menyusuri ubin-ubin trotoar berwarna merah itu. Lengan kanannya masih merapat di tubuhnya memeluk komputer lipat yang sedari tadi terus ia jaga.

Sementara itu, di tengah gang di belakangnya, di kerumunan pasar empat orang dengan jaket kulit cokelat dan setelan jins berbalut sepatu kulit warna gelap mengejar dengan garang. Mereka melompati kotak-kotak es tempat penyimpanan ikan yang sebagian sudah tumpah. Jalanan berbatu itu menjadi licin, salah seorang di antara keempat orang itu terjatuh saat kakinya menginjak ikan tongkol besar yang menggelepar di atas jalan. Dipukulilah ia oleh seorang ibu pembeli di situ, sebelum berhasil meloloskan diri lalu kembali berlari. Tak senyum sedikitpun.

Satria berlari memotong jalan aspal yang padat itu. Ia tiba-tiba menahan laju larinya saat sebuah BMW hampir saja menabraknya. Ternyata Ardi yang mengendarai BMW itu.

“Ayo cepat naik!” seru Ardi.

Satria pun melihat ke arah gang dekat pasar. Dua orang sudah berlari keluar dari sana, melihatnya.

Satria lalu melompat masuk ke BMW berwarna biru tua itu. Lalu ckiiiitt….! Mobil itu melaju pergi, membelah keramaian lalu lintas, menerobos lampu merah.

Sirene berbunyi. Satuan lalu lintas Denpasar yang persis bersiaga di perempatan itu segera menyalakan mobilnya. Pengejaran yang sesungguhnya akhirnya dimulai.

“Laptopnya?” Ardi bertanya ke Satria yang berusaha mengatur napas di sampingnya.

“Ini. Masih ada.” Satria membalas, nafasnya terdengar berat. Ia menelan ludah.

Ardi lalu menyadari kejaran mobil polantas di belakangnya. Sesaat ia bisa melihat biru-merah lampu mobil highway patrol itu dari cermin kecil tepat di depan kepalanya.

“Jalan mana yang mengarah ke pelabuhan?” tanya Ardi saat tangannya sibuk mengendalikan mobil itu. Suara klakson kendaraan bersahutan di luar sana. Lalu lintas Hari Senin pagi memang terlalu padat bagi mereka untuk memaksakan berlama-lama dalam pengejaran ini.

“Mana aku tahu!” Keluar saja dulu dari sini. Cari persembunyian.” Satria berteriak. Ia kehabisan akal, kehabisan tenaga.

“God, I don’t like Monday that much!” Ardi mengumpat pada dirinya sendiri.

Lalu BMW itu berbelok ke kiri, lalu menerobos sebuah gang kecil yang menanjak. Seekor kucing menjerit lalu melompat tak karuan. Debu beterbangan.



(Silakan baca lanjutan cerita ini di Kompasiana.)

Tuesday, August 2, 2011
Ditulis oleh Unknown

Baca juga:

Memuat ...

Lingkar baca

Linikala

- Copyright © BUKU FANDY - Hak cipta dilindungi Undang-undang. - Desain Blogger oleh Johanes Djogan -