Showing posts with label CERITA PENDEK. Show all posts
Sepenggal Cerita Nisa
Khairunnisa
berdiri memberi jarak dua kakinya, membiarkan angin meniup semua sisi roknya
yang menutup hingga mata kaki. Dia terkadang menutup mata agak lama, merasakan
bunyi lalu lintas sore di sekeliling yang terkadang lebih sunyi daripada
kegundahan yang meluap-luap di hatinya. Kemudian ia seperti tenggelam saat
memandangi aliran Sungai Code yang di bawah sana mengalir dengan sisa-sisa
pesan dari pegunungan.
Pertigaan ini
adalah kesukaan Khairunnisa. Dengan berdiri menghadap ke barat selama satu jam
di atas tanggul itu ia bisa melihat Jembatan Kleringan yang baru saja rampung
sejak dua tahun terakhir, dengan puncak-puncak pagarnya yang berbentuk bunga
teratai dan dipolesi cat hijau zamrud
berlis kuning emas.
Di waktu sore
sampai tengah malam, perlintasan ini dibumbui puluhan pasang muda-mudi yang
memarkir sepeda motor mereka persis di bahu jalan kemudian bercengkerama
tentang romansa remaja. Di utara, perkampungan Code yang tersohor itu berjajar
masih padat, dengan serambi-serambi rumah semipermanen seperti gardu penjaga
atas aliran air yang tak pernah benar-benar tinggi. Satu-dua lampu kekuningan
sudah menyala di bawah sana, pertanda kehidupan tahap kedua setiap harinya baru
saja dimulai, saat anak-anak kembali lapar setelah seharian bermain-main di
tanggul. Agak ke selatan, desiran halus butir-butir air pecah di udara, terkena
sisa sinar matahari dan menghasilkan rupa mejikuhubiniu,
menyusul semburan keras pemancur pada kolam Tugu Adipura yang tingginya sekira
lima belas meter. Tatkala satu dari enam belas pancuran air itu menyemprot
lebih tinggi dari yang lainnya di puncak tugu, para pengendara sepeda motor di
jalan menikung-dan-menanjak di bawahnya sampai menutup mata dan mengira apakah
hujan benar-benar turun di bulan Juni yang berdebu.
Khairunnisa
melonggarkan lipatan dua lengan di dadanya. Napasnya terasa agak sesak. Bukan
cuma karena sudah hampir setengah jam ia berdiri seperti itu, tapi juga karena
asap polusi dan sisa abu vulkanik yang terbang dari aspal terlalu sering ia
hirup. Maka ia longgarkan posisi kakinya, menyeka jilbab di kepalanya, sampai
akhirnya menyadari bahwa sejak setengah jam itu ia sebenarnya hanya
terbengong-bengong, bukannya memikirkan isi surat yang hampir hancur teremas di
tangan kanannya. Ia angkat lagi kertas merah muda itu ke dekat matanya, mencoba
mengingat apa yang telah dibacanya dari sana, dan menghela napas panjang. Untuk
sesaat lagi ia ingin menikmati lembayung senja dengan sapuan udara dingin yang
mulai turun. Nanti saat mendapatkan jawaban untuk langkah selanjutnya, mungkin
ia akan melempar remasan kertas itu ke air.
Surat itu
tiba saat jamaah isya baru saja bubar dari masjid-masjid. Khairunnisa
mendapatinya tergeletak di depan pintu kamar kosnya, dekat sepatu hak rata warna
coklat. Saat ia ketahui surat itu ditujukan padanya –nampak dari tulisan
namanya yang tertera di bagian depan amplop—ia cepat-cepat masuk kamar dan
menunci pintu dari kamar. Surat itu tertanggal 29 Mei, yang berarti baru saja ditulis ketika diletakkan di depan
pintunya. Dengan rukuh masih dikenakan, ia menjatuhkan badan ke kasur lantainya
dan membaca isi surat itu.
Assalamualaikum, Nisa.
Rasa-rasanya terlalu banyak gengsi
aku, sampai tidak berani mengatakan ini langsung kepadamu. Rasa-rasanya terlalu
angkuh pula, karena aku hanya berani mengatakan ini lewat surat dan bukannya
lewat cara yang lebih beradab.
Nisa, aku minta, andainya kamu tidak
keberatan, jangan terlalu dekat –atau kalau bisa, jangan dekat-dekat Azril
lagi. Aku takut... kamu tahu... aku belum siap untuk semua yang belum bisa aku
ungkapkan. Kiranya kehidupanku dan Azril berjalan biasa-biasa saja, setelah
duka yang kami alami. Teruskan saja hidupmu, dan kami akan teruskan hidup kami.
Dan aku berterima kasih untuk enam minggu kebersamaan yang menyenangkan.
Hormat, Rofik.
Kebersamaan
yang dimaksud Rofik itu sebenarnya tidak persis enam minggu. Akhir Maret waktu
itu, ketika Khairunnisa tak sengaja menginjak kaki seseorang di dalam kerumunan
sebuah Pameran Pendidikan Inggris di Hotel Novotel, pusat kota. Saking sesaknya
ruangan kecil itu siang jam dua belas itu, Khairunnisa tak bisa bernapas dan
harus beberapa kali keluar dari kerumunan untuk sekadar mencari napas segar di
tangga. Dalam usahanya kesekian kali itulah, dia tersandung dan menabrak
seseorang yang baru datang. Laki-laki itu, satu-satuya yang membawa anak kecil
di acara sedemikian gengsi itu, langsung jadi pusat perhatian.
Khairunnisa lalu
meminta maaf karena telah nyaris membuat laki-laki itu jatuh, dan membuat
anaknya nampak takut. Rofik memafkan, dan mereka kemudian terlibat dalam
obrolan asyik soal kampus-kampus di Inggris yang mungkin jadi khayalan atau
kenyataan bagi mereka, sampai hal remeh-temeh tentang sedikit keseharian
mereka.
Azril, anak
Rofik yang masih kelas satu SD, banyak menyimak saja, tapi tak bisa
menyembunyikan rasa senangnya setiap kali diberi permen dan dicubit oleh
Khairunnisa. Mungkin di mata anak itu, perempuan lincah ini mirip sosok orang
yang pernah menyusuinya. Akhirnya begitu saja, Rofik dan Khairunnisa membangun
kontak pelan-pelan setelah itu.
“Ada
risikonya... dekat dengan seorang duda.”
Khairunnisa
mendengarkan peringatan kakak kelas yang juga teman satu indekosnya itu, suatu
Magrib di akhir bulan. Waktu itu, ia dan Rofik mulai sering bertemu untuk
sekadar makan siang dan atau mengingatkan pesan singkat yang lupa terjawab.
“Kamu tahu,
seorang yang pernah beristri sejatinya masih punya sisa kehidupan dari masa
lalunya. Apalagi, Mas Rofik anaknya masih kecil. Mungkin...,” ujar kakak
kelasnya yang dituakan itu, “dia ramah karena masih bersedih, dan merasa kamu
mungkin klop dengan anaknya. Belum tentu, ia benar-benar mencari seseorang.
Tiga bulan itu waktu berkabung yang masih singkat, ketenangan hati dan pikiran
seorang lelaki biasanya butuh waktu pendek, tapi ini tidak berlaku buat semua
lelaki juga. Jadi, kamu tetap harus jaga jarak.”
“Tapi Mas
Rofik sama sekali tidak ada niat untuk dekati aku, Kak.”
“Mungkin
memang dia belum tertarik. Terus... kenapa dia ajak-ajak kamu makan siang
segala sampai berapa kali tu... enam?”
“Lima kali.”
“Itu lima
kali saja sudah terbilang sering. Nisa, kamu itu masih ada tugas belajar di
kampus. Kakak tidak ragukan kecantikanmu, sikap lembutmu, penyayang sama
anak-anak, lelaki normal –apalagi yang dewasa- pasti akan mengidolakan
perempuan saleh seperti kamu.”
“Mas Rofik...
dia baik sebagai teman. Saya jarang ketemu laki-laki yang menunjukkan
persahabatan yang berjarak –tapi akrab seperti yang ditunjukkan Mas Rofik.”
“Itu bentuk
kebingungan laki-laki.”
“Mungkin,
tapi... apakah saya harus putuskan silaturahim begitu saja?”
“Itu terserah
kamu, Dik. Tegaslah mengambil keputusan.”
Tapi
keputusan yang dibilang tegas itu tak pernah benar-benar tiba. Khairunnisa di
minggu-minggu berikutnya malah terlibat makin dekat dengan Rofik dan anaknya.
Meski naluri kewanitaannya yang luhur masih menjaga untuk tidak bersentuhan
atau berboncengan atau... saling tatap terlalu lama, ia mulai merasa
kedekatannya nyaman sebagai teman yang mengerti fungsi hubungan sosial yang
syaratnya jelas dan tidak rumit.
“Orang
bertemu, berkaitan, dan menikah. Mungkin, setiap manusia perlu tahu bagaimana
prosesnya dipertemukan oleh takdir.”
Rofik seperti
menggumam sendiri suatu sore di kafe ayam goreng tepung tempat mereka bertiga
duduk satu meja.
“Kamu tidak
malu, Nisa?” Rofik tiba-tiba bertanya.
“Malu kenapa
Mas?”
Rofik tidak
membalas dengan kata-kata, melainkan memancing perempuan itu untuk menyadari
sekeliling. Dari semua meja di kafe makan itu, hanya meja mereka yang diisi
bertiga bak keluarga. Yang lain ada yang berdua pasangan, ada yang berempat
atau berenam rombongan sambil tertawa cuek, bahkan ada yang sendirian dengan
airmuka agak canggung dan terganggu.
“Oh...
sebenarnya. Rada aneh juga sih. Saya
seperti...”
“Hm....”
“Tapi jangan
khawatir, Mas. Aku dan Hafidz kan kayak kakak adik, jadi...”
“Sungguh?”
Jawaban
Khairunnisa berhenti di situ.
Bahkan sampai
beberapa hari setelah sajian makan sore itu, Khairunnisa masih menikmati
kebahagiaannya yang misterius. Separuh isi pikiran menggugat keyakinannya soal
seberapa dekat batas yang ia pilih untuk hubungan visual laki-laki dan
perempuan. Tapi bagian pikirannya yang lain menyuruhnya menunggu perintah atau
permintaan yang jelas dari seorang laki-laki dewasa. Untuk selebihnya, ia
merasa naluri keibuannya dilatih begitu saja. Azril anak lucu yang tidak
terbantahkan.
Tapi setelah
surat itu tiba di genggamannya, ia jadi tahu jawabannya.
Sebenarnya ia
sudah sering membaca dan mendengar kisah-kisah perempuan yang terjebak dalam
sisi perasaan yang terasah tapi harus berhenti karena ingatan soal siapa diri
dan di mana posisinya. Meski begitu ia menikmati saja banyak momen di
minggu-minggu belakangan ini. Baginya, Rofik adalah profil laki-laki
menyenangkan, terlepas dari bagaimana akhirnya ia mengambil keputusan penting
itu. Mungkin juga, ia tak cukup berani untuk menabrak aturan umum dan mendesak
perasaannya lebih jauh.
Ia lemparkan
tangan kanannya ke belakang, dengan harapan kertas di genggaman itu bisa
terlempar lebih jauh ke depan sana, kemudian hanyut oleh aliran air Code sampai
ke Laut Selatan. Tapi ia urungkan niat itu. Kertas itu ia buka kembali, kemudian
ia remas, dan masukkan ke saku kardigannya. Ia melompat turun dari tanggul
dengan dua kaki mendarat bersamaan. Kemudian tanpa ia sangka, sebuah sepeda
motor yang ia kenali melintas.
“Kak
Nisaaaaa...!” suara teriakan kecil itu. Azril menjauh dibawa laju sepeda motor
ke tengah keramaian.
Khairunnisa
tersenyum tanpa suara. Seiring senja yang menarik diri di ufuk sana.
Anak Perantau
Anak itu berhenti di bawah sebuah tembok. Tembok itu setinggi dua kali tinggi badannya, kira-kira sedikit melewati tinggi pohon pepaya yang sudah berbuah. Anak itu membenarkan tali tas yang menekan pundaknya, mendongakkan kepala dan membaca tulisan bercoret cat tembok. Ia memiringkan kepalanya, berusaha mengerti apa rupa bentuk bacaan yang dilihatnya itu: meliuk, runcing di mana-mana dan penuh warna semprotan yang keperakan.
"Rantau Sesat", bacanya pada akhirnya. Ia paham pernah beberapa kali membaca tulisan serupa lekuk runcing dan berwarna-warni itu tapi tak semua yang bisa dibacanya. Tapi yang satu ini kiranya tak terlalu sulit.
"Itu artinya tidak semua orang tahu cara merantau," terdengar perkataan seseorang dari arah belakang. Anak itu menoleh dan mendapati orang ini sudah tersenyum padanya, menghadap tembok yang sama.
Anak itu tersenyum, belum berani membalas.
"Dari mana dek?" tanya orang di samping itu.
"Mamasa," jawab anak itu.
"Di mana itu?"
"Sulawesi Barat, iye'. Setengah hari dari Makassar naik mobil."
"O," orang itu mengangguk saja sehingga kembali keheningan membawa angin menyapu tembok itu sampai puncak gedung.
"Kau tahu, tidak semua orang tahu cara merantau," ujar orang itu pada akhirnya.
"Cara merantau? Apa ada cara merantau?"
Orang itu tersenyum. "Tentu saja, itu tentang bagaimana kau memahami tempat yang kau tuju."
"Maksudnya?"
"Orang-orang berdatangan ke kota ini, membawa koper-koper mereka dan menjajal kamera-kamera mereka. Dari ratusan ribu orang yang mendarat di sini setiap hari, aku tidak yakin bahkan setengah dari mereka tahu apa yang benar-benar mereka cari di sini. Apa yang kota ini benar-benar punya untuk kehidupan mereka."
Anak itu mulai berpikir orang di sampingnya mungkin sedang stres. Atau bahkan orang gila. Bicaranya terlalu tinggi dan tak setepipun ia mengerti arahnya. Dari bahasanya, mungkin orang ini seorang dosen, setidak-tidaknya guru. Bajunya kemeja yang sudah tua dan nampaknya rutin dipakai. Celananya khaki dan sepatunya disemir teratur meski ditempeli debu di mana-mana. Sorot matanya tajam meski kelopaknya kecil. Dalam posisi wajah yang agak ditundukkan guna menyeimbangkan posisi matanya menembus bagian atas bingkai kacamata sempit yang bertengger begitu saja di hidungnya, orang ini benar-benar nampak bosan dengan rutinitas yang begitu-begitu saja.
"Saya tidak mengerti, Pak."
Pertanyaan itu tidak sempat terjawab, karena orang itu sudah tidak di sana. Anak itu melihat sekeliling, melihat ke arah pintu-pintu yang tertutup di kejauhan, dan mengintip di sela-sela lalu lintas jalan sempit di belakangnya.
**
Anak itu membuka pintu dan mengira ia akan mendapatkan sesuatu yang bagus di hari pertama kuliahnya. Tiga puluhan mahasiswa menyertainya di ruangan yang dingin secara tidak relevan itu --karena hari musim hujan dan semua AC menyala di suhu rendah.
"Tugas pertama kalian adalah menjelaskan mengapa kalian datang ke kota ini," ujar dosen pembuka.
Anak itu terkejut karena dosen itu ternyata adalah orang yang beberapa hari yang lalu menyapanya di tepian selokan.
"Kalian harus tahu, merantau ke kota ini ada tujuannya, dan kalian harus temukan itu. Kalau tidak, lebih baik kalian tinggalkan kota ini."
"Mengapa harus begitu, Pak? Kami sudah membayar mahal-mahal untuk belajar di sini, untuk tinggal di kota ini," protes seorang mahasiswi.
"Iya! Dan saya kira itu adalah pilihan kami, Pak," tambah mahasiswa lainnya. Banyak mahasiswa lain diam saja karena mungkin terlalu abai, malu-malu, atau mungkin bukan perantau dari mana-mana. Hanya sekelompok muda yang mencari suasana baru di bagian kota yang tak pernah berubah.
"Memang benar," balas dosen itu. "Kalian semua kemari sebagai perantau atas pilihan sendiri. Mungkin beberapa dari kalian dibiayai oleh orang tua yang begitu giat dan menggadaikan macam-macam barang. Atau oleh beasiswa yang persyaratannya akan mengekang kalian sepanjang masa dewasa kalian nanti. Tapi ketahuilah, ada banyak hal di kota ini yang akan memaksa kalian pulang nanti. Kalian harus tahu, apa yang benar-benar kalian ingin temukan di sini.
Di pojok belakang, anak itu menggenggam tangannya. Pikirannya melayang jauh ke belakang, di masa kanak-kanaknya. Ia mengingat masa remajanya yang penuh kegamangan karena bahkan untuk bergaul ia harus menahan diri yang tegang di depan cermin. Anak itu berpikir perkataaan bapak ini ada benarnya. Ia sendiri belum tahu, apa yang ia lakukan di kota itu.
**
"Kau kuliah sajalah, jangan bekerja. Apalagi Malaysia itu jauh. Tidak ada potongan kau jadi perantau seperti paman dan bibimu. Cari yang pasti-pasti sajalah, pergi saja ke Semarang. Itu tidak terlalu jauh dan kau bisa pulang kapanpun di akhir bulan."
"Tapi merantau itu mencari kehidupan, Pak," ibu mengambil pihak berseberangan. Duduk di sisi anaknya, berhadapan dengan suaminya sendiri. "Seperti Tuan Kirman, sekarang dia sudah haji, bangun rumah. Bikin peternakan, saya kira Adri juga bisa seperti mereka. Anak ini kemauannya besar. Apa kita mau bengkokkan cita-citanya begitu?"
"Tidak, Semarang saja."
Anak itu tidak bisa apa-apa. Ia memang tak pernah bisa mengambil pendapat di tengah-tengah kekuatan didikan seperti itu. Maka ia membiarkan saja ibu dan bapaknya bersilang pendapat sampai sore, sementara ia kembali ke kamarnya dan menatap foto Merlion dalam-dalam.
Investor Masjid
*
TOTOK ABIDIN merupakan
orang paling canggih di kampung Karangwuni. Canggih, adalah istilah yang sering
digunakan masyarakat biasa untuk menyebut orang-orang dengan pendidikan tinggi,
punya keahlian tertentu yang berguna, dan pastinya mau mengajarkan banyak hal. Akan
tetapi meski Totok menyadari dirinya punya kelebihan yang mungkin akan berguna
bagi pembangunan dusun atau kelurahan, ia sendiri masih mengira-ngira apa yang
sebetulnya ia inginkan.
Kesehariannya yang tak rutin dan pekerjaannya yang tak
menentu terus-menerus membuatnya berpikir apakah sebutan ‘canggih’ itu pantas
ia dapatkan. Sejenak ia singkirkan kegundahan itu jauh-jauh karena ada tugas
penting yang harus ia selesaikan sebelum hari Selasa minggu berikutnya, yang
berarti tenggatnya tinggal empat hari.
“Pembangunan masjid akan
dimulai sesuai target,” kata ketua Takmir. Seorang laki-laki tua, beruban yang
ke mana-mana harus ditemani tongkat jalan. Tutur katanya tak lagi lancar tapi
selalu mengundang keheningan. “Kiranya semua bagian kerja sudah mulai tahapan,
termasuk Mas Totok ya, bikin baliho.”
Totok mengangguk, berirama
dengan anggukan orang-orang di lantai tengah masjid yang berlantai semen kasar
itu. Selembar karpet dari anyaman plastik rasanya sudah terlalu lama mengalas
tiap duduk atau sujud kening mereka. Beberapa sesepuh bahkan akan membawa terus
bekas hitam di jidat-jidat mereka yang beradu dengan tali-tali plastik tikar
yang merapuh nyaris putus di sana-sini.
Musala At Tanwir segera
bertransformasi menjadi Masjid Bertingkat. Orang-orang akan bertanya setiap
kali melihat gambar rancangan masa depan bangunan ibadah itu yang lebih mirip
studio agama. Berlantai dua dengan tangga tunggal yang lebar dari halaman depan
ke lantai atasnya, empat sudut dinding yang akan dilengkapi tiap-tiapnya menara
khas Makkah, dan jendela-jendela dengan kisi kaca berwarna akan membiaskan
cahaya-cahaya matahari jadi semacam cahaya hias di saf-saf setiap zuhur. Totok
pun membayangkan itu, dan ia berpikir pasti mewujudkan itu akan menguras banyak
sekali tenaga.
Dan juga uang.
Desain baliho untuk
permintaan sumbangan pembangunan akan dibuat sesederhana mungkin, pikir Totok.
Yang penting ada nama masjid, nomor registrasi IMB, tanda tangan ketua takmir
dan dua baris ayat dari hadis Rasulullah yang kiranya bisa menggugah hati
nurani orang yang lewat di jalan untuk berhenti dan menyerahkan sejumlah infak.
“Warna hijau dong yang dominan,
biar religius begitu kan,” kata seorang muda berkulit hitam. Fikri ditugaskan
untuk membantu Totok mewujudkan baliho itu. Lebih tepatnya, diminta untuk
menyediakan ruang kerja di kamar kosnya, seperangkat komputer beraplikasi
desain dan alat cetak dami, dan tentu sedikit uang jikalau ada hal-hal yang
penting untuk difotokopi. Rumor yang mengatakan Fikri anak seorang petambang
timah di Bangka Belitung sudah cukup bagi dewan takmir untuk mempercayakan
hal-hal semcam itu kepada anak muda ini. Lagipula, ia 11-12 saja dengan Totok.
Hanya setahun lebih muda dan sedikit lebih cerewet.
“Iya, memang hijau, diberi
lis kuning saja bagaimana?” Totok coba menerka jalan pikiran Fikri sembari
mereka menatap tajam ke desain awal di dalam CorelDraw komputer. Loading
beberapa kali tapi mereka lancar saja.
“Yo bisa. Gambar desainnya
dibuat besar di tengah agak ke bawah. Nah, hadis Rasulullah itu ditaruh di atas
saja, iya, kanan sedikit, di situ. Stop.” Fikri mulai dengan lihai, menggunakan
kuasa abstraknya untuk mengarahkan tangan dan pikiran Totok untuk bergerak
mengganti tata letak dan mencoba-coba warna teks yang cocok.
Dua jam di depan komputer, desain
baliho itu jadi. Sore hari berikutnya mereka serahkan daminya dalam ukuran
kuarto ke Haji Badawi selaku ketua takmir untuk konsultasi. Sering kali orang
tua punya pendapat sendiri yang kalau sudah tidak cocok dengan apa yang
dikerjakan anak muda, tetaplah akan didahulukan. Totok dak mau ambil risiko dan
mengatakan bahwa dami desain harus dikonsultasikan dulu. Kalau dewan takmir
sudah setuju baru dibawa ke percetakan.
“Em … rasanya sudah bagus,
Nak. Warnanya apik,” Haji Badawi nampak senang. Pikirannya sekadar mengagumi
betapa teknologi bisa membantu banyak hal. Totok dan Fikri mengangguk-angguk
bangga dan saling melihat.
“Tapi … bagian ini …,” ujar
Haji Badawi lagi. “Mestinya bisa diganti lebih … ‘wah’ begitu.”
Totok terheran, ia melihat
ke arah Fikri yang hanya tersenyum masam dan menggeleng. Sikap tubuh Haji
Badawi tiba-tiba berubah kurang puas, lebih tepatnya mengharap lebih. Totok
langsung menyadari kalau mereka tidak akan memakai desain ini langsung ke
percetakan. Sesuatu harus diganti. Maka kemudian ia bertanya kepada ketua
takmir itu apa yang perlu diperbaiki dari desain baliho.
“Di sini … ditulis Sumbangan Anda adalah pahala jariyah yang
tak akan putus. Rasanya sudah biasa, mungkin perlu diganti … apa begitu.”
Tiba-tiba Fikri menyeletuk.
“Wah, Nuwun Sewu, Pak Haji,” lagaknya berbahasa Jawa. “Tadi saya sudah bilang
ke Mas Totok ini, bahwa kata-kata pahala
jariyah itu sudah kelewat kuno. Dipakai di banyak masjid. Persaingan
pencarian dana pembangunan ketat sekali di Yogya sini. Kita harus tulis yang
menarik, tapi kata Mas Totok, sudah cukup begitu saja. Menurut saya sih, ada
kata-kata yang lebih modis begitu, Pak?”
Haji Badawi nampaknya
tertarik. Sejenak ia memandang ke Totok yang tampak kikuk sendiri dan berada di
posisi yang salah. “Bagaimana itu?”
“Coba begini, Pak.” Fikri
mulai menjelaskan. “Tadi saya kasih saran ke Mas Totok, kalau kata-kata pahala jariyah itu diganti saja dengan Investasi Hidup Mati begitu.”
“Investasi? Seperti …
bisnis?” tanya Haji Badawi memastikan.
“Lha nggih, Pak. Saya pernah lihat, masjidnya sekarang bagus, di daerah
Giwangan sana. Di balihonya itu dulu ditulisnya Siapkan rumah Anda di Surga, pembangunan masjid ini adalah investasi
bagi Anda di akhirat. Apik, modern, berkelas dan tak sasarannya jelas.
Penyumbang-penyumbangnya kebanyakan orang kota, dari Jakarta, Surabaya. Dalam
dua tahun saja, masjidnya jadi bertingkat dua, lengkap dengan tamannya!”
Haji Badawi menggosok
dagunya. Totok sendiri merasa sudah tak punya senjata lagi, membiarkan
keputusan berada di ketua takmir saja. Bukankah tujuan mereka ke mari memang
untuk meminta masukan dan keputusan?
Keheningan menyeruak di
teras masjid itu. Haji Badawi melihat ke dua pemuda di depannya itu secara
bergantian. Fikri mengangguk-angguk bangga sementara Totok kembali menerapkan
pandangan dan analisisnya ke gambar desain yang digelar di lantai. Investasi? Pikirnya dalam hati.
**
Tiga-empat jamaah tua saling
bercanda dalam perjalanan mereka menyusuri gang. Seorang dari mereka tiba-tiba
mengalihkan perhatian karena melihat sesuatu yang baru. Ia menunjukkan kepada
teman-teman seperjalanannya apa yang kini berdiri di di pinggir jalan inspeksi
yang menghubungkan lalu lintas padat dan gang tempat musala berdiri. “Woh, apik baliho anyare ki!” kata
seorang itu dengan mengatakan bahwa pengumuman infak baru musala dusun sangat
menarik perhatian.
Di baliho yang membuat para
pengendara melirik itu, kini terpasang kata-kata mentereng seperti investasi, donasi, dan manajemen.
Sebuah desain rancang bangun dengan empat menara bergaya Arab tetap dipakai.
Hadis dicetak lebih tebal dengan bayangan hitam yang makin menonjolkan
kepentingan agamisnya. Juga sebuah foto ulama terkenal yang sering nampang di
televisi. Ulama itu membuka tangannya dan melebarkan senyum. Orang-orang yang
melihat pasti akan langsung tahu mengapa mereka harus menyumbang musala itu,
dan apa yang akan mereka dapatkan.
Totok datang belakangan
dengan tergesa-gesa. Ia baru saja harus berurusan dengan tiga proposal desain
dan empat surat lamaran pekerjaan yang nampaknya belum menghasilkan apa-apa
sejauh ini. Para jamaah yang menyadari kedatangannya langsung menepuk pundak
pemuda itu bangga dan berterima kasih. Ia dijabat dan dipromosikan sebagai “yang
paling canggih”. Totok merendah dan mengatakan desain baliho itu lebih banyak
diidekan oleh Fikri dan pemasangannya dibantu banyak pemuda takmir lainnya.
Tetap saja ia dikawal bak pahlawan sampai
ke saf magrib.
Lima bulan berlalu dan
pembangunan masjid itu sangat progresif. Menjanjikan. Baru saja pagi ini sudah
ada kiriman dua puluh lima sak semen kualitas baik dan dua truk besar pasir
kasar yang ditumpahkan di sebuah sudut di samping. Haji Badawi nampak merangkap
sebagai mandor lokal proyek dan memastikan podium ceramah tidak dipindahkan,
mengingatkan para tukang untuk membangun dinding baru mengikuti arah kiblat,
dan memastikan mereka menikmati sajian makanan dan minuman ringan yang disediakan
kelompok ibu-ibu dusun.
“Mas Totok,” panggilnya ke
arah orang yang berdiri di pagar masjid pagi itu. Mereka segera menepi ke dekat
sebuah pintu yang belum jadi, menjauh dari orang-orang. Totok sendiri
bertanya-tanya dalam hati ada apa gerangan sampai ketua takmir berbicara berbisik-bisik.
“Proyek pembangunan masjid
kita kan lancar ini … sumbangan mengalir masuk,” kata Haji Badawi yang nampak
wajahnya lebih bersih dan pakaiannya lebih wangi. Tongkatnya masih ia bawa-bawa
hanya saja sikap tubuhnya lebih berwibawa. Mungkin ia telah berbicara dengan
banyak orang dan menyadari kemampuan negosiasinya banyak terasah bulan-bulan
belakangan ini, pikir Totok. Tapi ia tak mau ambil pusing. Ia fokus pada apa
yang ingin diungkapkan orang yang dihormatinya itu.
“Alhamdulillah, Pak. Berkat
usaha semua.”
Haji Badawi mengangguk
mantap. “Tapi, begini, Nak Totok … nanti sore sibuk tidak? Saya mau minta
tolong lagi dicetakkan anu … untuk kepentingan musala.”
“Baliho, Pak?”
“Bukan,” sanggah Haji
Badawi. Ia seperti menyusun kata-katanya dan dengan mata meyakinkan meneruskan
kalimatnya. “Surat, surat permohonan. Ya … semacam proposal begitu. Kita mau
mengundang Pak Walikota untuk meresmikan masjid kita ini naninya kalau sudah
jadi. Bulan desember kan rencananya. Saya minta tolong Nak Totok bikin proposal
dan surat undangan itu.”
Totok mengangguk. Ia memang
biasa membuat surat dan proposal, dan mungkin lebih cepat selesai lebih baik
daripada menunda yang akan mengakibatkan rutinitasnya mencari pekerjaan
terganggu. Proposal dan surat bisa ia ketik di tengah malam jelang tidur dan
selesai dalam satu malam.
“Em … kalau bisa, tolong di
surat tulis bahwa saat ini investasi masjid kita sudah lancar.”
Totok lagi-lagi terkejut
karena baru pertama kalinya ia mendengar ketua takmir itu berbicara terasa
sangat akrab dengan kata investasi.
Seakan-akan semua proses yang terjadi di dusun itu seperti membangun ruko.
Mencari investor dan orang-orang menyanjung setiap penyumbang sebagai donatur,
investor.
“Dan … tulis siapa-siapa
saja yang menyumbang masjid kita ini. Ini daftarnya untuk dimasukkan.”
Totok langsung memprotes
sembari meminta maaf dengan mengatakan bahwa orang-orang yang tertulis di nama
itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Apalagi meyakini kalau mereka pernah
menyumbang sejumlah uang untuk pembangunan masjid.
“Mereka menyumbang langsung
lewat saya, sebagian lewat bendahara umum. Sudah tulis saja, kan bagus kalau
wali kota nanti meresmikan masjid kita. Sumbangan masa depan akan lebih lancar.
Nanti nama masjid juga kemungkinan akan diubah, tergantung nama penyumbang
terbanyak. Tapi itu akan diputuskan di rapat bersama dewan takmir dan para
investor nantinya. Ya, tolong ya. Nanti kalau sudah jadi taruh saja surat dan
proposalnya di rumah saya.” Kemudian ketua takmir itu berlalu.
**
Fikri mengunyah kue dengan
lahap tanpa banyak bicara. Di sampingnya terduduk dalam diam Totok Abidin,
pemuda ‘canggih’ yang pikirannya tidak keruan. Mereka dilindungi oleh
serangkaian tenda yang menuutp Gang Kelinci di dekat jalan inspeksi yang juga
mulai macet dijajari kendaraan dinas. Masjid Nukman Aljabbari sudah jadi dengan
empat menaranya yang membuat pengunjung terkagum-kagum. Dua warung kelontont
persis di depan masjid bahkan merelakan halaman-halaman rumah mereka untuk
dijadikan tempat parkir sepeda motor yang dijaga oleh empat pemuda yang menggenggam
uang-uang kertas seribuan.
Dekorasi telah rampung dan para pejabat sudah duduk
di kursi-kursi terhormat. Sementara puluhan orang berpakaian klimis dan
bersepatu mengkilap duduk di barisan lain yang ditulisi para investor. Ketua Takmir memberi sambutan dan disambut tepuk
tangan para jamaah. Saat tiba saatnya wali kota berjalan menuju mimbar dan
disoraki dengan kata-kata semacam terima
kasih dan maju pilkada lagi, Pak! ,
ia menciptakan keheningannya sendiri saat berpidato.
Totok berhenti mengunyah.
Dalam sambutan itu, ia melihat sang orator beberapa kali menyebut keinginannya
maju jadi wali kota lagi dan berkali-kali mengedipkan mata, dan mengangguk
kepada Haji Badawi yang langsung membalas. Menyebutkan beberpaa nama investor yang membuat orang saling pandang sangking herannya.
Totok tak tahan mendengar
bisik-bisik dari beberapa warga di barisan belakang tempatnya duduk. Ada yang
menyinggung soal uang besar, ada yang
dianggap asal menuduh ketua takmir ambil
untung dari proyek, dan ada yang sekadar meminta mereka semua diam dan
menyimak. Totok mengangguk pada akhirnya. Ia lantas tersenyum, karena saat
pandangannya ia coba arahkan ke tempat lain, baliho itu berdiri di sana. Dalam
hati ia bertanya, ke mana gerangan ulama mentereng yang tangannya terbuka di
baliho itu?
Konsensus
Tuan Badar, yang duduk paling jauh, mulai berdeham-deham. Sepertinya ia sudah lama menahan kencingnya dan atau kehausan atau bosan. Sementara satu-satunya wanita di ruangan itu, Nona Prisia, tak banyak bergerak. Meskipun tangannya sendiri sudah gatal untuk merogoh ponsel yang terus berpendar-pendar di dalam tas di bawah meja. Deru kendaraan terdengar sangat jauh. Itu masuk akal karena mereka sedang berada tiga puluh meter dari permukaan tanah, di lantai 17 Gedung Puri Kumala.
Pemimpin rapat akhirnya menarik punggungnya dari sandaran.
"Aku sudah tahu kalian tidak pernah setuju denganku. Aku bahkan tahu kalau Pak Doni sudah lama menyewa pembunuh untuk menghabisiku. Betul begitu kan?"
Semua yang diruangan itu, kecuali pembicara, tentunya, terperanjat. Yang disebut sebagai Pak Doni ini, pria kurus dengan kacamata bundar menggantung di kepalanya yang botak, menunduk kemudian perlahan mengangkat wajahnya yang menyeringai.
"Bapak ... Bapak bicara apa? Aduh, mana saya punya keberanian untuk berniat seperti itu, Pak." Tangannya saling memijat di atas meja.
"Anda tidak perlu berniat terlalu lama. Hanya butuh sedetik momen kan, untuk kemudian berpikir bahwa aku bukanlah orang yang terlalu menyenangkan. Meski aku minta maaf atas pembatalan promosimu enam bulan lalu itu, aku tak yakin kau akan memberiku kesempatan hidup lebih lama."
Beberapa dari mereka saling berbisik. Doni kembali menunduk, yang merupakan isyarat jelas bahwa apa yang barusan didengarnya hampir benar. Hatinya berkecamuk tapi ia tak ingin meluapkannya begitu ceroboh.
Pemimpin rapat berdeham kesekian kali. "Lalu Andrew, direktur termuda di perusahaan ini," ujarnya. Pandangannya yang seperti burung hantu dari balik kacamata kotak yang bahkan untuk menutupi cekungan matanya saja tidak cukup itu menohok dengan jelas bagi siapapun yang menatap. Orang ini tak perlu berkata banyak untuk menunjukkan kekuasaannya. Di tengah-tengah situasi krisis yang seperti ini, mau tidak mau ia harus memberikan kepercayaan kepada tujuh orang yang masih bertanggung jawab menjalankan roda bisnis. Ia sendiri punya rencana, tapi itu tak mendesak dan bisa dilakukan lain kali saat semua hal sudah lebih baik.
Sementara untuk Andrew, pemuda berkulit putih itu, Limba merangkai kalimatnya dengan hati-hati. Anak ini adalah ahli waris dari mendiang rekan bisnisnya. Dan ia merasa masih berutang budi. Meski di dalam situasi ini ia tahu semua yang di ruangan itu harus duduk sama tinggi.
"Ayahmu adalah penggerak yang efektif bagi perusahaan. Efisien, disiplin dan sangat hati-hati. Kurasa sedikit banyak bakat bisnis dan manajemennya diturunkan kepadamu."
Anak muda itu mengangguk hormat.
"Hanya saja," lanjut Limba. "Buah yang datang dari pohon yang kuat, belum tentu semanis yang dikira. Ada ulat, ada cuaca, dan ada hal-hal tak terduga yang bisa membuatnya justru jadi benalu bagi pohon itu. Lebih baik jatuh ke tanah dan membusuk."
Andrew menatap Limba dengan sengit. Ia berpikir orang tua ini sudah mengendus rencana yang ia susun tiga bulan terakhir agar posisinya pindah dari Direktur Pemeliharaan Aset ke Direktur Keuangan, jabatan yang diidamkannya sejak mendengar nama perusahaan ini. Anak ini segera menduga bahwa satu dari enam orang yang membantunya melancarkan aksi kudeta ini mungkin membocorkan sesuatu. Kalau tidak, mana mungkin Direktur Utama bisa berkata sedemikian menohok?
"Dan Pak Mulya, Prisia dan Pak Lubis, aku tak tahu apa yang kalian sedang susun di ruang pelatihan selama seminggu terakhir. Tapi aku punya perasaan kurang mengenakkan dengan banyaknya kertas fotokopi rencana pengeluaran dan hasil audit aset kita selama lima tahun terakhir. Aku juga tak suka menerima panggilan-panggilan telepon dari wartawan yang menanyakan hal-hal yang sama sekali tak pernah, dan tak ingin kudengar. Sepertinya seseorang dari gedung ini akan digiring ke balik jeruji, aku mengendus bau yang kurang mengenakkan. Aku tak tahu apa yang kalian rencanakan, tapi kupikir semua orang di ruangan ini sedang memegang belati di balik baju masing-masing."
Keheningan menyeruak ke ruangan itu. Turun dari langit-langit dan membuat dada mereka sesak.
"O, ini permainan Tuhan untuk menguji kesetiaan kita pada satu dan yang lainnya. Permainan, ini, bapak-bapak. Akan mengeluarkan para iblis dari hati kita, dan perebutannya jadi lebih seru. Pemenangnya adalah yang berhasil mencapai bilik yang memenjarakan sang malaikat dan melepaskannya dari sana."
Tiba-tiba seseorang dari mereka, direktur ketujuh, Dorma Simanungkalit, bersuara. Pelan, namun tegas.
"Saya rasa ... konsensus ini tak bisa dimulai dengan kecurigaan-kecurigaan, Pak Limba. Maaf, bapak-bapak, nona. Tapi menurut saya apa yang jadi pertarungan kita pada momen ini bukanlah melihat apa yang sedang terjadi kemarin-kemarin atau menerka-nerka apa yang akan menimpa kita besok. Kita perlu menyadari kondisi krisis perusahaan ini. Untuk nasib lima belas ribu karyawan, rasanya pertarungan kita adalah soal melawan ego. Bukan menyiapkan dendam."
"Kurasa Pak Dorma betul," kata direktur yang lain. "Saya sendiri, terus terang, punya misi pribadi sejak menjabat perusahaan ini. Saya sejak awal ingin menduduki posisi Pak Andrew dan belajar marketing secara rahasia dengan Pak Limba, yang sayangnya tak berlangsung lama karena Pak Limba menghentikan program mentoringnya tiba-tiba. Saya kira Bu Prisia dan Pak Yogi pun punya motif yang sama. Siapa yang tahu, tak ada yang benar-benar bisa menerka jalan pikiran seseorang. Hanya bergurau, bahwa semua setia pada satu tujuan. Maka, kalau kita ingin menjauhkan semua misi pribadi itu sejenak, kita bisa berbuat lebih untuk para karyawan, buruh, dan siapapun yang keberlangsungan hidupnya terancam jika perusahaan ini ditutup. Maaf, saya bicara terlalu banyak, sejak tadi tertahan."
Limba menggaruk jenggotnya. Tak bisa menyembunyikan persetujuannya untuk dua pernyataan barusan. Meski ia sendiri masih mengelus jenggot dengan harapan sebuah kunci bisa ia temukan tentang siapa pengkhianat sebenarnya, ia masih berpikir logis.
"Kita butuh konsensus ini untuk membeli waktu kita, Pak." Prisia menambahkan singkat.
Keheningan kembali menggantung. Limba mengedarkan pandangannya saat tiba-tiba pintu diketuk. Sebuah surat baru saja diantarkan masuk oleh penjaga dan diterima oleh sang direktur utama. Ia meletakkan surat itu kemudian maju melipat dua lengannya di meja.
"Aku tahu kehidupan bisnis tak pernah mudah. Penuh intrik dan politik. Kita sendirilah yang jarang menyadari. Aku mungkin saja mati besok atau salah satu dari kalian akan pulang dengan rasa malu setelah rapat ini berakhir. Aku sendiri pasti akan melepaskan jabatan ini. Dan ... aku kira malam ini kita bisa mencapai mufakat yang melegakan. Keuangan akan dirampingkan, mau tidak mau sebagian karyawan tingkat menengah akan dirumahkan. Dan kalau bapak-bapak tidak keberatan, tolong tunda dulu semua niat buruk kita sampai minimal tiga tahun ke depan."
Semua orang di ruangan itu terkekeh, perbincangan menjadi lebih cair. Mereka saling pandanga dengan bangga bahwa permasalahan bisa diselesaikan secara cerdas dan perasaan bisa saling dipertemukan secara dewasa.
Pada akhirnya saat rapat itu ditutup dan perusahaan itu siap melanjutkan hidupnya kembali, sang direktur utama membuka surat yang baru saja tiba. Ruangan itu sudah sepi dan hanya tersisa dua orang pembantu yang lalu lalang membereskan sisa pertemuan.
Surat itu tanpa kepala dan nama pengirim. Kalimat yang paling jelas tertera di badan pesan itu hanyalah Untuk tahun-tahun kepemimpinan yang membunuh ratusan jiwa kebebasan. Salam hormat, DK.
Saat mencicipi kue berminyak penutup hari, direktur utama itu meninggal dunia dengan mulut berbusa.
Di tujuh mobil berbeda, ketujuh orang direktur saling menelepon dan melakukan "rapat lanjutan" mereka jelang pagi itu.
Bibir-bibir itu saling berbisik dan tersenyum.
"Mufakat telah dilaksanakan. Dewan Kebebasan merampungkan tugasnya."
Ketujuh mobil itu melaju ke arah yang berbeda-beda. Tapi mereka berhasil melaksanakan hasil keputusan bersama.
*
----------------------------
Ilustrasi: DevianArt.
Teknisi yang Berpuisi
"Sudah, kau bernyanyilah," kataku setelah berapa lama ia tak bicara. "Lagukan puisi, atau puisikan lagu."
"Bagaimana caranya?" timpalnya. Ragu, menunduk dan sesekali melihat langit. "Aku tak bisa main bermusik dan kau memberikan gitar. Aku lebih bisa berteriak dan kau kasih puisi ini. Aku harus bagaimana jika Loni lebih senang melihat seseorang yang bersuara merdu atau yang pandai menari?"
Aku tergelak, terkekeh dan meneguk dalam-dalam anggur putih dari setengah gelas berkaki.
"Berarti kau tak punya sesuatu untuk mendapatkannya." Aku tegas saja. Tapi dia memundurkan kepalanya, tidak terima dan balik bertanya.
"Aku punya. Kau tak tahu saja."
"Apa?"
Dia diam sejenak, melemaskan pundaknya. Mungkin sedang mencari-cari kembali ingatannya yang tercecer soal apa yang masih ia punya.
Laki-laki ini adalah seorang yang syahdu, menurutku. Dia punya pekerjaan hebat --semua tahu, konstruksi adalah lahan uang yang cukup--, latar keluarga kalangan atas yang produktif dan cita-cita hidup yang tak biasa. Ia ingin jadi seorang perencana kota. Katanya, Stadion Nasional masih bermasalah dengan arah mata angin dan kapasitas parkir, dan ia ingin membongkarnya. Tapi itu mungkin lebih pada bayangan liar dan lebih soal bagaimana seorang teknisi tetap harus menghidupkan cita-citanya dengan pikiran yang masuk akal.
Kemudian tibalah ia, terdampar pada persahabatan yang tak pernah ia rasakan, mungkin. Terjadi begitu saja. Setelah pertemuan singkat di sebuah acara amal, ia --dengan begitu percaya diri menjelaskan teori ketertarikannya-- mengaku merasakan kenyamanan yang konyol bersama seorang pemain teater sepertiku. Katanya, ia senang melihat kami berlari-lari kecil di atas panggung, bersenandung lirih lantas tiba-tiba berteriak sampai mereka di bangku penonton bertepuk tangan. Anak ini juga mengaku tertarik dunia seni. Hanya saja, takut mencobanya.
"Menurutku seni tetaplah bakat yang dibawa sejak lahir, atau ditemukan dengan perenungan. Bakat tak bisa begitu saja hinggap ke kepala orang-orang teknis sepertiku."
Dengan kalimat itu aku memberinya sanggahan bahwa bahkan kegiatan menarik napas di dalam ilmu tari adalah ihwal teknis yang penuh perhitungan, seperti halnya dalam arsitektur dan rancang bangun yang memerlukan naluri seniman.
"Bukan, bukan. Memang, teknik perencanaan dan segala hal yang berhubungan dengan dunia kerjaku memerlukan sentuhan seni, tapi itu lebih pada naluri ketepatan, penglihatan akan masa depan dan perhitungan pada hal-hal kecil yang mungkin pernah terjadi di masa lalu. Seni yang kau geluti saat ini adalah mahakarya, pekerjaan warga nomor satu di dunia. Aku ... kau tahu, aku belum bisa mengerti mengapa tanganmu harus lunglai dan badanmu tak boleh lebih gemuk dari sekarang ini. Bahkan, aku tak mengerti kenapa kakimu sejak tadi terus-terus bergoyang. Apa kau sedang menunggu sesuatu?"
Kubilang saja mungkin aku agak bosan menunggunya untuk mengambil gitar dan memainkannya.
"Oh itu. Bukannya aku tidak mau, Nel. Hanya saja, aku ... maaf, ..."
Aku mengejarnya dengan pandangan langsung ke arah mata. Dengan gugup ia melanjutkan kalimatnya. Aku tahu, mungkin, tahu apa yang akan dikatakannya. Pertalian perasaan yang diam-diam saling mennyentuh ujung hati selama tiga belas tahun terakhir mestinya berujung pada satu pertanyaan yang sama. Dan kalau hari ini hari baik, mungkin ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berkata jujur soal perasaannya kepadaku. Soal Loni, aku tak mau banyak menerka. Aku menunggu laki-laki ini menggunakan keberaniannya.
Ia mengambil gitar, memeluknya di depan dada dan mengelus kolom-kolom nada dengan selinting jarinya. Bunyi gesekan itu seperti berbisik bahwa kami harus segera pergi dari halaman rumah orang itu.
"Aku bukan penyanyi yang bagus. Dan ... menurutku puisi yang dinyanyikan akan jadi hadiah menarik untuk seorang perempuan. Mungkin, aku akan memberi sedikit kesan baik jika sedikit berusaha menjadi seorang penyanyi yang membacakan puisi untuknya?"
Aku tak bisa menebak ia akan mengucapkan kalimat itu. Aku menarik napas, bersamaan dengan menarik pandangan yang akhirnya terlempar begitu saja ke semak-semak di ujung sana kalau tidak ke arah langit yang memerah.
"Tolong, Nel. Ajarkan aku, seminggu ini, gembleng biar jadi pemain gitar yang bisa berpuisi." Ia memohon, menangkupkan dua telapak tangannya.
"Roh," aku menampiknya gesit. Membuatnya terkejut. "Kalau kau merasa laki-laki, berhentilah berpura-pura tahu atau menjadi orang lain yang tak pernah ada di benaknya sebagai seorang perempuan. Berhentilah menggiring kepribadianmu menjadi sekadar apa yang bisa ia mimpikan. Mulailah menjadi seseorang yang bisa ia lihat secara nyata. Yang bisa ia puji saat tampil baik dan bisa ia tertawakan saat tak bisa melakukan suatu hal. Kenapa kau tak menunjukkan saja dirimu yang tak bisa main gitar dan tak fasih membaca puisi? Aku tak kenal baik Loni, tapi aku mengerti perempuan yang mau menerima kejujuran yang berperasaan."
Ia merasa malu. Tertunduk dalam keheningan. Aku takut telah salah mengantarkan kalimat. Meski aku yakin ia telah menangkap jelas maksudku.
"Aku minta maaf," katanya pada akhirnya. Mundur teratur dan melemaskan dua kakinya merapal dipan bambu.
"Maaf."
"Seharusnya aku tahu ... aku sedang berhadapan dengan seorang seniman." Laki-laki ini seperti berbicara sendiri saja. Pada akhirnya mungkin ia mengerti. Dan situasi yang tiba-tiba kikuk ini justru menamparku dengan kecurigaan bahwa mungkin aku sendiri tak memahami orang yang selama ini dekat. Aku takut telah melukai hatinya.
"Seorang seniman menyimpan banyak sudut pandang, tapi kau harus akui, golongan kalian pernah juga luput melihat hal yang benar-benar nyata dan gamblang. Kenapa tidak langsung terlintas kalau warna jeruk nipis atau lemon lebih cocok untuk cat dinding ini daripada coklat atau merah marun? Ya karena rumputnya berwarna hijau terang. Dan karena atapnya sudah berwarna mahoni. Ada banyak hal-hal lain yang mungkin kau juga ceroboh menebaknya. Misalnya ..."
"Misalnya apa?" Tanyaku ketus.
"Misalnya ... menebak untuk siapa sebenarnya aku menyiapkan gitar dan puisi ini."
Matanya menatapku begitu tajam. Bahkan, lebih tajam dari sebelumnya.
----------------
Sumber gambar: animewallpaperz.com.
Perjanjian
Ada satu hari yang dipilih untuk sebuah perjanjian.
Saat jendela-jendela ditutup dan cahaya dibiarkan terkurung di atas meja, kata-kata dikembalikan seperti semula. Seorang laki-laki paruh baya berdoa dengan melipat lututnya. Membiarkan dingin lantai menyeka bokongnya dan keringat menetes di dekat matanya. Ia duduk dan menyesali masa lalunya. Dengan doa ia kira akan melunasi utangnya.
Ini adalah perjanjian lama. Laki-laki itu meremas tangannya sendiri lalu mulai merasakan lututnya bergetar. Seakan-akan tanah ingin mengisapnya. Api di puncak lilin bergerak-gerak, dan itu bukan pertanda baik.
Ada kejadian tujuhbelas tahun lalu, saat seorang laki-laki merasa dirinya paling benar.
*
"Tunggu di dalam, sayang. Aku ingin melunasi utang dulu."
"Jangan pergi."
"Cuma sebentar. Setengah jam lagi aku kemari."
"Berjanjilah?"
"Aku janji."
Kemudian berlalulah laki-laki itu ke jalan berdebu. Sedetik yang lalu ia masih merasakan genggaman jemari istrinya yang berkeringat, dan kini mereka terpisah di koridor rumah sakit. Perempuan itu meringis dan dibawa ke ruang bersaling, sementara laki-lakinya menghilang ke dalam keramaian jalan. Empat jam kemudian, seorang bayi lahir ke dunia, tapi sang ibu meregang nyawa.
Utang terbayar dan janji pada rentenir terlunasi. Laki-laki itu kembali ke rumah sakit dan semua orang seperti ingin membunuhnya, meski ia sendiri menangis dan bertumpu lutut dengan semua rasa bersalahnya. Ia menggenggam tangan mendiang istrinya dan kini tanpa kehangatan sama sekali.
Anaknya tumbuh dewasa dan menemukan jalannya.
Sementara ayah itu, selama belasan tahun hidupnya, merasa telah melanggar sebuah janji pada istrinya. Janji yang tak mungkin terlunasi.
*
Di atas pertumpuan lututnya malam ini, laki-laki itu sudah siap. Ia tengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Tempat seutas tali menggantung dengan lingkaran penjerat di ujung terbawahnya.
Aku harus menemuimu, untuk melunasi janjiku. Laki-laki itu merapal doa kemudian perlahan melangkah ke atas meja yang memang hanya setinggi lututnya.
Tangannya tetap saling bertaut, bibirnya tetap merapal doa. Kini ia tegak dan membiarkan kening dan bibirnya menyentuh lingkaran tali. Kepala itu masuk dengan sendirinya seperti sudah tahu akan ke mana.
Satu ... dua ... tiga. Ia menghela napas.
Lalu tepat saat jam pukul empat berdentang dan ayam mulai berkokok, tubuh itu tergantung lemas. Bibir laki-laki itu seperti masih sedang membaca doa, dan matanya seperti terus memandangi langit.
Satu ... dua ... tiga jam berlalu.
Kemudian saat fajar tiba, ruangan itu berhasil didobrak dan seorang laki-laki tua masuk. Membungkuk kemudian memeluk tubuh tak bernyawa itu dengan doa-doa dan permintaan maafnya kepada semua penghuni alam. Anaknya telah bunuh diri.
Dan laki-laki tua itu sama sekali tak menyangka, bahwa anak itu merasa bersalah atas sebuah janjinya kepada seorang perempuan muda.
Surat permohonan maaf kepada gadis itu dititipkan kepada sang ayah. Bahwa anak itu merasa bersalah telah mengingkari janjinya kepada kekasihnya, dan ia memilih mati daripada melihat gadisnya menikahi orang lain.
Ayah itu menangis dengan suara yang tersembunyi. Ini soal janji. Pengalaman dan pelajaran yang berusaha ia penuhi selama belasan tahun. Dan anaknya yang dulu lahir sebagai saksi pengingkarannya terhadap janji, kini pergi untuk alasan dan dosa yang sama.
Ayah itu bingung harus mengadu janji ke mana. Saat bahkan istri dan anaknya tak bisa lagi mendengar.
*
*
Hantu yang Sempurna
*
Dan kertas-kertas kecil masih tertempel di dinding dapur Pakulo Gedhi. Rumah putih dua lantai bergaya Jawa tempat puluhan lukisan Ki Mojo dipajang. Sebagian dari lukisan itu surealis, serupa rantai makanan dari pikiran manusia yang bertangga-tangga.
Beberapa lukisan di sebelah selatan justru realis dengan pemandangan glesier berwarna biru cerah karena terpapar cahaya selatan, dan kehidupan masyarakat Nias sebelum zaman Lompat Batu. Di bagian lain ada patung-patung Budha dengan dasar kayu hitam dan beberapa cermin bundar palsu yang pernah geger karena dianggap peninggalan Majapahit. Tiga jendela berbaris tinggi di bagian depan, utara, membiarkan semua gambaran tentang kehidupan alam di luar sana terbawa ke dalam galeri kecil yang dulunya ruang keluarga itu.
Beberapa lukisan di sebelah selatan justru realis dengan pemandangan glesier berwarna biru cerah karena terpapar cahaya selatan, dan kehidupan masyarakat Nias sebelum zaman Lompat Batu. Di bagian lain ada patung-patung Budha dengan dasar kayu hitam dan beberapa cermin bundar palsu yang pernah geger karena dianggap peninggalan Majapahit. Tiga jendela berbaris tinggi di bagian depan, utara, membiarkan semua gambaran tentang kehidupan alam di luar sana terbawa ke dalam galeri kecil yang dulunya ruang keluarga itu.
Rumah ini bisa saja berhantu, kata orang-orang. Tapi bagi Nilam, tak ada pengertian pasti seperti apa yang disebut hantu.
Pekerjaan ini terlanjur dikenyamnya sebagai pemenuh jiwa. Masa lalunya tak pernah sebaik Buddha sebagaimana pengertiannya. Pun, masa depannya belum tentu benar-benar cerah seperti pantulan cahaya di glesier. Selama tujuh tahun terakhir ia menghabiskan waktu di rumah itu, melukis di subuh kemudian mengurus rumah di waktu duha. Sebagian waktu siangnya dihabiskan dengan merawat rumput di atap jika tidak sedang keluar memburu pembeli, menawarkan naskah bukunya atau sekadar menjaga mobil pengangkut sampah. Nilam adalah perempuan duapuluh tujuh tahun yang membiarkan dirinya mengalami kesendirian setelah pada tujuh tahun yang sama ia menghadapi kehingarbingaran yang membingungkan. Semuanya pernah terasa sempurna, termasuk hal-hal manis bersama seorang yang kini ia anggap hantu.
**
"Aku harus pergi."
Kalimat itu terdengar biasa saja pada awalnya. Ucok memang suka bercanda. Mungkin ini adalah bagian dari leluconnya setelah mereka menonton diorama romantis para seniman Jogja di TBY bertema "Manusia Halram". Pajangan komedi satir tentang keberanian manusia menetapkan standar halal-haramnya sendiri. Ucok berkelana menggandeng tangan sepanjang tujuh koridor, dan selama satu setengah jam tur itu, Nilam tak banyak bicara. Hanya tersenyum dan merasa dirinya begitu dimanja. Penghargaan tanpa kata-kata.
Di meja kafe pukul tujuh malam, kalimat itu terlontar begitu saja. Nilam menghentikan gerak bibirnya menyedot ujung pipa plastik lembut yang tercelup ke dalam gelas itu. Cairan jus jambu tersendat dan kembali ke bawah.
"Masih terbawa suasana pameran ya?" tanyanya memastikan. Ia masih yakin bahwa kalimat serupa ucapan pamit itu tak benar-benar benar. Tapi Ucok tersenyum dan menggeleng. Setelah dua helaan napas, ia lalu menggeser maju di atas bidang kayu meja itu, sebuah buklet dan surat terlipat di dalamnya.
Nilam membaca surat itu, mengulang-ulang bacaannya dari baris atas sampai ujung bawah. Semua bukan tanpa alasan, dan apa yang tertuang dalam pesan itu benar-benar jelas. Kertas itu dikembalikan tanpa suara. Nilam menarik badan kemudian menyandarkan punggungnya. Dua lengannya dilipat di depan dada.
"Maaf," kata Ucok. Pemuda itu dua tahun lebih muda darinya. Tapi perilaku santun dan kecerdasan komunikasi verbal membuat gadis ini benar-benar tak sanggup memilih orang lain sebagai pacar. Meski Ucok harus melewati tujuh audisi yang menurutnya lucu karena berhubungan dengan kata-kata bahasa Indonesia, ia lulus. Dan Nilam, untuk pertama kalinya setahun lalu itu, merasa benar-benar takluk. Satu hal yang paling diingatnya dari lelaki ini adalah keengganannya menyandang nama pahlawan sebagai panggilan untuk dirinya, meski nama lengkapnya adalah Umar Said Cokroaminoto.
"Kau sekalian mau naik haji, rupanya. Melengkapkan namamu."
Ucok menunduk atas sodoran komentar itu. Ia sadar betul Nilam tak suka mendengar kabar ini. Kuliah di Boston untuk tiga tahun bukanlah perkara mudah, terlebih jika memperhitungkan biaya tenggelam yang akan mereka habiskan untuk sekadar menanyakan kabar sejauh 24.000 kilometer. Tapi tekad lelaki itu sudah bulat. Tawaran beasiswa Fulbright adalah matahari baru bagi dunia karir jurnalistiknya yang sempat hampir mati.
"Aku akan kembali."
Dan Nilam tak pernah membalas kalimat itu.
Tepat di ujung September, mereka berpelukan di terminal keberangkatan Cengkareng. Nilam tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi pagi itu ia benar-benar mencium bibir Ucok di tengah keramaian. Lelaki itu gugup bukan kepalang sampai kaca matanya hampir jatuh. Mereka berpisah dengan perasaan yang gundah, seperti Sinta yang melepas Rama ke dalam hutan. Bayang-bayang romantisme itu pada akhirnya tertinggal di belakang.
Setelah hari ketujuh, kabar tentang lelaki itu tak pernah sampai.
**
"Lupakan dia."
Nilam meninggalkan sahabatnya Rere begitu saja. Koridor apartemen Cakra tak begitu ramai membuat mereka berdua nampak menarik perhatian. Rere mengejar Nilam dan langsung menggaet tangannya.
"Dengar."
Nilam membalik badan tanpa mau menatap mata lawan bicaranya. Rambutnya yang diikat di belakang bahkan masih terasa panas di kepala. Pikirannya tak pernah sesakit ini.
"Sudah tiga tahun, Nilam. Kau harus kuat sebagai perempuan dan ambil keputusan. Kau tak boleh membiarkan dirimu terjebak terus menerus dalam bayangan tidak jelas tentang Ucok. Dia sudah pergi, dan memutuskan untuk tidak menghubungimu lagi. Ia punya kesempatan banyak untuk memberi kabar tapi ia tak lakukan. Itu artinya apa? Dia pergi, Nilam. Pergi. Aku tak ingin kau menghabiskan waktumu untuk hal-hal yang membuatmu mati perlahan-lahan. Kau sudah keluar dari pekerjaan, meninggalkan orang tua dan sekarang menjauh dari teman-teman. Aku paham sakitnya, Nilam. Aku pernah mengalami hal yang sama. Tapi perempuan harus bangkit. Saat tidak ada lagi pegangan, kita harus bisa menemukan kaki-kaki kita lagi untuk berdiri."
Sahabat itu merapatkan dua telapak tangannya ke lengan atas Nilam, membuat mereka saling pandang pada akhirnya. "Kau harus melanjutkan hidupmu, Nilam. Kalau dunia ini benar-benar adil, maka ia akan mengantarkan dia kembali ke sini. Ke hadapanmu. Nilam."
Kedua sahabat itu akhirnya merasa lebih sejuk dan memilih berjalan santai di halaman belakang dekat kolam renang. Nilam merasa ada sesuatu yang salah dengan pantulan butir-butir cahaya di atas permukaan air yang membiru, membuatnya terdiam berapa lama saat Rere memancingnya berbicara lagi.
"Kurasa aku harus pindah ke desa, Re," kata Nilam pada akhirnya.
"Ke desa? Untuk apa?"
Nilam tak langsung menjawab hadangan pertanyaan itu, kemudian merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan selipat kertas kekuningan dari dalam sana.
"Ucok punya permintaan aneh sebelum ia pergi ke Boston. Ini."
Rere membuka kertas itu dan sempat tak percaya apa yang dilihatnya. Sebuah sketsa rumah berlantai dua bergaya Jawa yang di sampingnya tercoret rupa pohon Tanjung yang rindang di pinggir jalan sempit menanjak. Coretan pertanda kehidupan.
"Ucok yang membuat itu. Katanya aku boleh menempati rumahnya selagi ia pergi. Semua berkas hak guna dan administrasi lainnya ternyata sudah ia selesaikan seminggu sebelum berangkat waktu itu. Entah apa maksudnya, tapi kurasa aku akan melakukan itu, sambil menyibukkan diri."
Rere berhenti melangkah dan kembali memprotes, meski kali ini nada bicaranya lebih rendah dan bernada tidak suka. "Kau tidak benar-benar mau melupakan lelaki itu kalau begini caranya."
Tapi Nilam terus saja berjalan. "Entahlah, Rere. Tapi menurutku justru ini cara yang paling ampuh untuk melupakan dia. Kalau, memang aku diperintahkan oleh Tuhan untuk itu."
Rere berlari kecil karena tertinggal beberapa langkah. Mereka kembali berdiskusi setelah tiba di dalam mobil yang membawa mereka pergi dari keriuhan kota.
"Kau gila. Ini sama saja membiarkan orang itu terus menghantuimu."
Nilam tersenyum. "Mungkin ...," katanya menimpali. "Ini jalan keluar menemukan masa depanku. Dengan menerima kepergiannya dengan menyatukan diriku dengan kehidupannya di masa lalu. Mungkin, dia memang akan terus jadi hantu. Hantu yang sempurna."
Rere tak bisa membalas kalimat terakhir.
**
Perempuan itu menepuk-nepukkan telapak tangannya ketika harus mengambil sebuah surat di halaman rumah. Petugas pengangkut sampah baru saja pergi dan rumput halaman itu telah bersih. Nilam meluruskan punggungnya sejenak, menikmati hangat sinar matahari kemudian duduk di ayunan kayu sambil membaca beberapa surat yang masuk. Tulisannya akan termuat sebentar lagi, itu berita bagus pertama. Beberapa surat lain hanya tagihan listrik dan balasan beberapa sahabat penanya. Surat keenam di posisi paling bawah itu, membuat gerak tangannya melambat.
from Umar Said Cokroaminoto.
The Vacancies Co. Downing Street 5th Ave. Boston, Massachussets, U.S.A.
to Miss Nilam Ayuningtyas,
Jl. Hayam Wuruk 56D Bekasi, West Java, Indonesia.
Angka kode pos sempat salah tapi toh surat itu sampai. Gadis itu mengatur napasnya, melihat daun-daun pohon sejenak kemudian berusaha meyakinkan bahwa ia sadar dan baik-baik saja. Bahwa surat-surat itu nyata, dan tangannya benar-benar memegangnya, dan pikirannya benar-benar membaca kalimat di dalamnya. Perlahan ia menarik ujung surat ke atas, membiarkan matanya menyusuri setiap baris kalimat pesan itu.
Tujuh tahun, dan ia sama sekali tak ada bayangan tentang sosok lelaki itu kini. Maka ia penuhi rasa pertanyaan di hati dan pikirannya saat surat itu perlahan-lahan ia baca. Ia terkejut sekaligus berpikir nyaris tak percaya.
Surat itu hanya berisi satu baris kalimat.
Ingat rumah Jawa kita? Cek ada apa di balik lukisan Glesier ketiga.
Nilam menurunkan lengannya lemas. Matanya memicing beberapa saat pertanda pikirannya bekerja keras menemukan jawaban di balik pertanyaan dan petunjuk itu. Untuk apa Ucok, kalau benar ialah yang mengirim surat ini, memberikan pesan itu? Lagipula ada apa di balik lukisan ketiga? Nilam tak langsung mengikuti petunjuk itu, dan malah menyimpan kembali surat itu. Ia sudah memutuskan untuk melupakan seorang lelaki yang pergi. Dan surat ini harusnya tak datang di saat ia melanjutkan kehidupannya yang masih misteri. Untuk sejenak gadis itu hanya berdiri di halamannya. Memegang pinggangnya dan menengadahkan kepalanya. Menyusuri pandang setiap jengkal Pakulo Gedhi kemudian bertanya kepada dirinya sendiri. Untuk apa aku di sini selama ini?
Malam harinya Nilam tak bisa tidur. Berusaha mengatasi bayang-bayang dari kalimat pendek itu, akhirnya dengan pakaian seadanya ia turun menyusuri tangga, mematikan televisi dan membenarkan posisi beberapa lukisan yang sore tadi sempat ditinjau oleh beberapa kurator. Saat melintas di dinding sebelah timur, ia berhenti tepat di depan lukisan cerah berwarna biru terdegradasi putih itu. Glesier di Tepian, judulnya. Ini adalah lukisan ketiga sebagaimana pengertiannya atas petunjuk di surat pagi tadi.
Nilam menghela napas sebelum akhirnya dengan sangat hati-hati menurunkan bingkai itu. Tidak ada apa-apa di dinding tempat lukisan itu tersemat. Tapi yang mengejutkannya adalah sebuah gulungan kertas dan sebuah kotak kecil berlapis flanel biru malam, terikat dengan karet gelang merah bersama gulungan kayu di tengah bidang bingkai. Kotak itu terlepas dan kertas itu terbaca.
Nilam menutup mulutnya dan tertawa kecil, tak merasa sedih sedikitpun bahkan saat pipinya ditetesi air mata.
Sebuah dami buku nikah bertuliskan dua nama, dan sepasang cincin bermata kaca bening.
Tolong jaga cincin ini untuk pernikahan kita. Aku akan kembali saat matahari terbenam di penghujung musim semi 2013. Ucok.
Tak ada yang tahu apa yang akan dikatakan oleh hati perasaan gadis itu semalam penuh. Tapi yang jelas ia menyimpan dua barang berharga itu. Ia jadi tahu, sejak awal Ucok tak memintanya menjaga rumah dan lukisan-lukisan itu. Ucok memberikannya kesempatan untuk meninggali rumah itu sebagai seorang pencari jawaban. Menghabiskan semua pertanyaannya sampai akhirnya jawaban itu datang di saat yang tepat. Sejak awal lelaki itu sudah ingin menikahinya, tapi ia memilih mengejar mimpi selama tujuh tahun yang panjang, tanpa melepaskan Nilam dari kehidupannya.
Pagi harinya, Nilam menyambut sahabat lamanya di rumah itu. Dan Rere hanya tertawa mendengar cerita Nilam tentang sebuah surat lama dan kotak cincin. "Kau memang harus menikah, Nilam. Lihat aku. Dua anak itu rasanya bagaimana begitu. Kalau ada suami, di manapun dia, kau tak pernah merasa kesepian."
"Sekarang kau baru mengerti kenapa aku dulu semarah itu." Nilam menyinggung hari-hari ketika ia masih memikirkan seseorang dan Rere terus-menerus menentangnya.
Ucok harus menjelaskan perihal komunikasi mereka yang terputus selama tujuh tahun yang panjang. Tapi Nilam tak lagi memikirkan itu. Baginya, selama waktu-waktu itu Ucok memang pergi, tapi tidak menghilang dari kehidupannya. Lelaki itu telah sukses menghantuinya dengan semua misteri yang terjawab pelan-pelan.
Ucok adalah hantu yang sempurna. Meski Nilam masih akan bertanya saat hari itu tiba. Hari di mana lelaki itu benar-benar kembali dan meminangnya. Dan siapa yang tahu kata hati begitu dekat dengan keindahan lukisan yang oleh kebanyakan orang adalah semu.
Nilam sudah punya ide untuk buku keduanya. Empat belas hari lagi, musim semi di Amerika berakhir.
Nilam sudah punya ide untuk buku keduanya. Empat belas hari lagi, musim semi di Amerika berakhir.
*
Cerita Djarwono
Teriakan itu sebetulnya sapaan yang berupa pertanyaan. Menjadi mengejutkan karena terdengar lebih mirip teguran yang artinya sudah jelas: melarang.
"Mau ngapain, Pak?" Suara itu terdengar dari beberapa meter di belakang.
Djarwono menurunkan tangannya sejenak. Kamera genggam itu kembali ke mode standby selang beberapa detik ketika laki-laki paruh baya itu membalik badan dan menyambut jabat tangan petugas berseragam yang mendekat tanpa senyuman. Sambutan hangat ternyata betul bisa meredakan emosi orang-orang yang datang dengan rasa hormat yang minim.
"Oh, saya mohon maaf kalau mengganggu. Saya cuma mau memotret baliho itu, Pak."
Petugas itu mendongak sehingga pandangannya tertuju ke salah satu sudut atas papan iklan bergambar permukaan air dan dua atlet yang meluncur di atasnya.
Baliho itu termasuk besar. Sampai-sampai petugas keamanan itu harus memaju-mundurkan kepala agar bisa membaca tulisan yang tertera di barisan paling atas.
WATER SKY.
Merasa tak menemukan apa-apa, petugas itu lalu memberi peringatan kepada orang yang mengusik integritasnya sebagai petugas jaga perhelatan SEA GAMES itu. Setelah menjabat tangan Djarwono untuk kedua kalinya, petugas itu merapatkan topinya lalu mengangguk permisi.
"Eh, sebentar, Pak. Kalau boleh saya tanya. Di mana ruangan bagian Humas ya?"
"Humas apa ya, Pak? INASOC?"
"Iya betul."
Lalu dengan beberapa gerakan tangan dan liukan badan yang dibentuk sedemikian rupa gerak tubuh pasukan yang sepertinya sudah dilatih, petugas itu menunjukkan arah tempat yang dicari sang tamu. Gerakan-gerakan tubuh itu, nampak rapi dan terlatih. Bahkan tak satupun kalimat yang tersendat keluar jelas dari mulut petugas keamanan.
"Terima kasih, Pak."
Lalu petugas itu akhirnya benar-benar menjauh.
Jepretan terdengar lagi.
Kali ini, Djarwono tersenyum sambil menggeleng. Sudah tujuh kutipan yang ia simpan sebagai bekal penting melengkapi koleksinya. Apa yang dipotretnya, tak banyak disadari orang. Namun dibenaknya, ini adalah hal-hal sederhana yang membuat negerinya tak pernah belajar menyadari kesalahan, nan selalu merasa keren.
Djarwono harus antre dan berdesakan dengan beberapa wartawan bertanda pengenal khusus SEA GAMES di bawah dome yang dihiasi banyak spanduk. SEA GAMES dimulai besok, dan hari ini panitia mengadakan konferensi pers menandai geladi yang sedang berlangsung. Di aula yang bersanding dengan ruang multimedia pers itu duduk empat orang yang nampaknya adalah panitia dan pihak kementerian.
Djarwono berusaha merangsek maju. Kartu pengenal liputan bertanda huruf C yang berlogo sponsor salah satu perusahaan telekomunikasi terkemukan cukup memberikannya akses di kalangan peliput. Apalagi, kamera genggamnya cukup mentereng disandingkan dengan rompi bersaku di bagian dada dan topi safari kesayangannya.
Di meja narasumber duduk seorang perempuan paruh baya yang dikenal sebagai ketua INASOC, organisasi kepanitiaan utama gelaran akbar ajang olahraga dunia itu. Di sampingnya dua orang dengan setelan rapih khas pejabat pemerintah, dan seorang dengan seragam panitia lapangan. Setelah beberapa pemaparan, awak media langsung berebut tanya.
Sumpek dengan beberapa pertanyaan yang ujung-ujungnya hanya memaksa narasumber yang mewakili kementerian berkata retoris, orang ini mengangkat tangan sambil meneriakkan pertanyaan teknis. Tak ayal, awak media lain sempat terkejut. Apalagi, orang ini meminta INASOC mengganti semua publikasi, tepat di hari minus satu penyelenggaraan.
"Apakah Ibu sudah melihat baliho yang tertulis di depan venue ski air?"
Pertanyaan itu, mengundang penasaran. Mereka diam beberapa detik. Hanya suara jepretan kamera yang terdengar tanggung.
"Maaf?"
"Baliho ditulis dengan asal. Bahasa Inggrisnya salah itu, Bu. Mengapa ski air ditulis dengan bahasa Inggris WATER SKY menggunakan huruf "Y"? Bukannya harusnya pakai "I"?
Sejenak terdengar saling bisik yang perlahan riuh. Ketua INASOC itu meminta mereka kemudian diam.
Djarwono merapatkan topinya lalu melangkah agak maju.
"Maaf, permisi. Kalau boleh saya perlihatkan."
Ia lalu menunjukkan layar kameranya kepada perempuan itu, yang diikuti beberapa juru foto yang dengan sigap mengabadikan momen tak biasa ini.
"Yang ini, Bu. Bukannya seharusnya ditulis pakai huruf "I" ya, bukannya "Y"?
Ketua INASOC mengangguk. Diikuti beberapa awak media yang mengintip dari balik pundak Djarwono. Dalam Bahasa Inggris, kata SKY memang ada, artinya "angkasa". Namun dalam istilah cabang olahraga, ski air yang dimaksudkan baliho itu, seharusnya ditulis WATER SKI, agar maknanya tepat.
"Anda potret ini di mana?"
Djarwono menggeleng.
"Mohon maaf, Bu. Tapi menurut saya Ibu harus memanggil staf publikasi dan bagian teknis lainnya. Saya menemukan banyak salah ketik ini di hampir semua baliho venue. Dan tidak cuma ini..."
Tombol di balik kamera itu ditekan lagi beberapa kali. Kini terpampang beberapa foto bergantian.
"Ini adalah salah ketik di beberapa arena lain. Ada yang plang penunjuk arah, ada spanduk sambutan, spanduk petunjuk ibadah, dan di dua kendaraan penjemput kontingen. Ini harus diperbaiki, Bu."
Ketua INASOC mundur dan menegakkan badannya. Ia terdiam sejenak. Nampak pikirannya bekerja keras.
Djarwono menunggu jawaban. Sementara puluhan wartawan lain sudah merapat ke meja. Setelah akhirnya terdengar bisik-bisik heran tanda tak percaya di kalangan awak media, akhirnya pemegang wewenang itu berbicara. Mikrofon disodorkan lebih dekat. Kamera-kamera siap menjepret untuk kesekian kali.
"Akan saya perintahkan kepada bagian publikasi mengenai hal ini. Terima kasih atas masukan Anda, Pak. Konferensi pers selesai."
Keempat narasumber langsung berdiri dan pergi. Langkah mereka tak begitu jauh dari meja karena awak media langsung mengerubutinya dengan cecaran pertanyaan. Banyak di antara mereka akhirnya menggali lebih dalam mengenai kesalahan tulis dan hasil cetak publikasi itu. Petugas pengawal bekerja ekstra.
Djarwono berjalan keluar mengarah ke lapangan. Lega terasa di hatinya.
***
Kembang api memancar indah di langit kota Palembang. Suara terompet yang biasanya melengking, terdengar bergemuruh dari arah stadium. Djarwono memilih sebuah sudut trotoar dan duduk berjejer bersama puluhan tukang becak berseragam SEA GAMES yang bertepuk tangan saat bunga-bunga api warna-warni itu memecah indah di langit malam. Gemerisik radio dan televisi portabel di jok beberapa becak bersahutan memancarkan suara siaran langsung dari stadion yang jaraknya hanya beberapa puluh meter di depan mereka.
Pembukaan begitu meriah. Presiden tengah berada di kursi VVIP sehingga tak semua orang dibolehkan masuk, apalagi mereka yang hanya diberi tugas mengantar atlet dengan kendaraan tanpa mesin beroda tiga ini. Iming-iming upah seratus lima puluh ribu rupiah per hari sudah cukup untuk menahan protes keluar dari mulut-mulut mereka.
Djarwono kembali memotret. Namun bukannya memotret kembang api, kameranya ia arahkan ke salah satu sudut lapangan yang dibarisi puluhan bis. Apa yang dilihatnya malam itu kembali membuatnya sedih, karena ternyata tulisan itu masih tetap terpajang WATER SKY. Bahkan, di samping spanduk itu, terpajang dengan ukuran teks besar,
WELLCOME TO ALL ATHLETES AND OFFISIALS.
Djarwono tertawa lepas, namun hatinya tidak. Tujuh orang tukang becak yang mendengar tawanya kemudian heran, namun mereka tak mau tahu. Kembang api jauh lebih menarik daripada tulisan-tulisan yang salah arti.
ASISTEN
Kata kunci: polkadot,
pasar malam, pohon pisang, cerpelai, rajah.
*
“Tidak, ini belum bisa
terbaca.”
Nugraha memasukkan
kembali senter itu ke sakunya. Dea, asisten Nugraha, hanya terdiam di belakang
mentornya itu. Kata-kata “belum bisa terbaca” dikenal di kalangan dokter
sebagai tanda bahwa penyakit belum terdeteksi. Kapten Abimanyu heran dengan
jawaban itu. Melihat kondisi pasien, seorang perempuan muda dengan terduduk lemas
di kursi seperti itu, ia semakin heran. Kasus apa ini sebenarnya?
“Ada sesuatu yang
menyerang otaknya,” jelas Nugraha ketika mereka berjalan keluar dari ruangan
gelap itu. “Keluarnya cairan di sudut mata dan nampaknya otot di sekitar kening
menunjukkan pasien mengalami stres hebat. Tidak mengherankan jika mereka ingin
bunuh diri.”
Abimanyu terdiam.
“Seumur hidup, dokter, belum pernah saya menghadapi kasus bunuh diri massal
seperti ini.”
“Saya mengerti.”
Tiba-tiba sebuah
ranjang beroda terdorong keluar dari sebuah ruangan. Nugraha berlari ke dalam
ruangan itu diikuti Dea. Abimanyu mencabut pistolnya dan langsung mengarahkan
ke tengah ruangan. Riuh. Tujuh perawat memegangi lima pasien yang meronta-ronta
sambil berteriak. Dua di antaranya adalah anak kecil yang memegang garpu, berusaha
menusuk lehernya sendiri. Perawat histeris. Nugraha langsung menyergap
====
anak itu
dan membaringkannya di ranjang. Setelah semua pasien terikat, para perawat menutupi
badan mereka dengan selimut polkadot dan memunguti barang-barang. Dua telepon
genggam menyala ikut dipungut. Nugraha kembali menyemangati stafnya kemudian
keluar.
“Ini serius.
Benar-benar serius. Cepat atau lambat Mabes Polri pasti merespon. Bukankah ini
juga domain Departemen kesehatan?” Abimanyu berpendapat.
“Tentu. Saya akan
menghubungi seseorang untuk itu.”
Mereka berdua berpisah
di lobi kemudian pulang.
***
“Halo?” Nugraha
mengangkat telepon genggamnya. Ia ketiduran. Hari masih gelap ketika panggilan
tidak diinginkan itu datang. Tak lama kemudian Nugraha sudah kembali berada di
dalam mobilnya. Ia menyetel radio namun suara lagu tidak begitu jelas. Hanya
ada info pasar malam dan lagu yang asing.
Radio lalu dimatikan.
Garis polisi sudah
dibentangkan di sekeliling pagar kafe itu. BLACK CAFÉ tidak begitu besar,
rupanya hanya sebuah tempat minum komunitas yang sesekali dibuka untuk umum.
Nugraha melihat lantai berserakan dan sebuah telepon genggam dan sebuah boneka cerpelai tergeletak di lantai.
“Dokter.” Terdengar
sapaan dari dalam kafe di antara beberapa petugas forensik yang bekerja.
“Berapa orang
sekarang?”
“Perkiraan enam belas.
Dua di antaranya sekarat, semoga ada info yang bisa kita gali.”
Nugraha melirik
sekeliling. “Ini semakin gawat saja.”
“Betul. Mabes Polri
telah mengambil alih. Saya diberi tugas koordinator lapangan karena Kapolda
keluar negeri.”
Terdengar jauh di atas
kepala mereka, suara gemuruh melintas.
“Itu helikopter
Densus,” jawab Abimanyu mencoba menebak Pikiran Nugraha.
Nugraha melihat-lihat
cara kerja forensik. Lalu saat mencoba memungut sebuah telepon genggam yang
masih menyala di lantai, Nugraha ragu. Ada panggilan masuk. Ia berinisiatif
mengangkatnya, namun dibatalkan oleh sebuah panggilan serius dari arah pintu.
“Jangan diangkat!”
Suara itu dikenalinya.
Saat menoleh, Nugraha tersenyum. Yang mencegahnya adalah seseorang yang sangat
ia cintai.
“Marini…,” sapanya.
Namun perempuan
enerjik itu langsung menyapa Kapten Abimanyu dan menyalaminya. Kepada Nugraha
ia hanya merampas telepon genggam dari tangan mantan suaminya itu dan berlalu.
Baru saja hendak
memperkenalkan mantan istrinya, Nugraha harus menahan kata-katanya karena
Marini langsung mendekati kapten dan menjulurkan tangan.
“Kapten…, perkenalkan
saya Marini Soetoyo. Staf ahli bidang pandemik Kementerian Kesehatan. Saya
datang ke sini atas perintah Ibu Menteri langsung setelah mendengar kasus bunuh
diri ini.”
Nugraha memprotes,
“Tapi, bukankah saya yang menghubungimu tadi malam?”
Marini hanya melihat
ketus kemudian melanjutkan penjelasannya lagi.
“Pihak Anda harus
mengevakuasi semua telepon genggam di kota ini, Kapten.”
Abimanyu terkejut
dengan permintaan mustahil itu. “Tapi, Bu Marini. Dengan segala hormat. Ada
hampir satu juta ponsel di Jogja ini. Bagaimana mungkin kita merazia warga
satu-satu?”
“Pokoknya lakukan
sebisanya. Alat ini adalah pemicu rententan aksi bunuh diri yang terjadi dua
hari terakhir.”
“Wow… wow…. Tunggu
dulu.” Nugraha mengangkat tangannya menyela. “Maaf, tapi apakah dirjen punya
penjelasan masuk akal tentang ini?”
“Saya punya
penjelasannya, Pak.” Marini lagi-lagi membalas kepada polisi, bukan kepada
mantan suaminya itu.
Setelah hening
sejenak, akhirnya Abimanyu menyanggupi. Ia memerintahkan kemudian kepada semua
anak buahnya untuk mengamankan lokasi, dan meminta sebuah ruangan privat kepada
pemilik kafe.
“Pak Nugraha, maaf
saya terlambat.” Dea tiba-tiba muncul di pintu ruangan itu. Beberapa petugas
polisi berusaha mengusirnya namun kapten menyilakannya masuk.
Kini giliran Marini yang
berwajah ketus. Tentu saja ia tak senang melihat seorang mahasiswi duduk begitu
dekat dengan mantan suaminya. Memang sebuah kecemburuan yang nyaris tak
beralasan. Lampu dinyalakan dan cahayanya terpantul dari meja ke wajah mereka berempat. Nugraha membisikkan kata
“asisten” sambil berkedip kepada Marini, berbalas pandangan ketus.
“Bunyi?” tanya
Abimanyu kemudian.
“Iya. Bunyi.
Kemungkinan semua korban mendengar bunyi khusus sebelum bunuh diri,” jelas
Marini dengan cakap. Tangannya bergerak-gerak menunjukkan keyakinan.
“Tapi bunyi apa?”
“Lihat ini.” Marini
membuka beberapa berkas di atas meja. Yang tampak adalah beberapa artikel dan
jurnal penelitian fonologi.
“Johan Clauss, pada
1967 memperkenalkan teori bunyi yang menyebutkan terdapat bentuk bunyi vokal
tertentu dari bahasa-bahasa paling asing di dunia yang memicu tingkat stres
sampai pada titik terminal. Kata-kata ini, ketika dikonversi ke dalam pesan
suara, menciptakan stimulus spontan terhadap otak pendengarnya yang memicu
kontraksi pada saraf-saraf stres. Pasien yang mendengar bunyi ini merasa
seakan-akan dunia telah berakhir, dan mengakhiri hidup karena dunia tidak
menerimanya. Berkembang di masa kini, ada sebuah lagu yang menurut Clauss
berbahasa Asia Tengah kuno yang ia yakini menyimpan sihir mematikan itu.
Beberapa klaim menyebutkan bahwa peristiwa Stadion Liverpool tahun 1989 dan
peristiwa bunuh diri massal di Tokyo tahun 1999 ada kaitannya dengan lagu yang
dikirim lewat ring back tone. Di
Indonesia ada tragedi Penerbangan 574.”
“Adam Air!” Dea berteriak.
Tebakannya diiyakan oleh Marini. Nugraha dan Abimanyu terkejut. Tak disangka
selama ini pemberitaan media sama sekali meleset, begitu pula dengan penjelasan
KNKT.
“Puncak putus asa
dalam waktu hanya beberapa detik?” Abimanyu menebak.
“Betul,” jawab Marini.
“Lagu dengan nada aneh itulah yang sekarang kemungkinan tersebar di Jogjakarta,
yang menurut gejala-gejala korban dan TKP yang sempat saya pelajari, hampir di
semua TKP ditemukan perangkat dengar, yaitu ponsel.” Marini kemudian meletakkan
ponsel yang ia rebut dari Nugraha ke atas meja.
“Ini gawat!” Nugraha
bangkit dari kursinya.
“Baiklah. Tenang.”
Abimanyu menyeru. “Kita bisa melacak sumber suara itu?”
Marini menggeleng.
“Itu yang agak sulit, Pak. Kemenkes hanya tahu ini masalah penyakit, tapi tak
merencanakan sampai sejauh itu.”
Mereka lalu hening
dalam keseriusan mencari jalan keluar. Lalu tiba-tiba, Dea menyeletuk dengan
sebuah jalan keluar yang serius.
“Konverter bunyi!”
“Alat itu adalah
pengonversi bunyi yang bisa mengulirkan kode-kode menjadi nada yang ramah di
telinga. Alat ini pernah dicoba terhadap proses penetralan gelombang sonar
ketika UGM mencoba berkomunikasi langsung dengan lumba-lumba tahun lalu.”
“Benar!” Nugraha menjentikkan
jari. “Kalau tidak salah, alat itu ada di FMIPA kan?”
Mereka bubar. Marini
sempat memberikan map berlogo khas milik Dea yang ketinggalan di atas meja. Dea
berterima kasih untuk itu.
**
Lima menit kemudian
Nugraha sudah berada di dalam mobil bersama asistennya.
“Pak..,” Dea menyapa memecah
kehengingan. “Maaf, bukankah kita harus memberitahukan warga agar mereka
menjauhi ponsel dan menyerahkannya ke polisi?”
“Betul juga.” Nugraha
menyadari. Ia lalu menghubungi Abimanyu melalui pager yang sudah dibagikan ke
mereka sebelumnya. Semua ponsel mereka kini telah disimpan demi keamanan.
Begitu pesan sampai, kota Jogja menjadi gempar. Media memberitakan dengan
berlebihan membuat warga takut dan menuju bandara untuk evakuasi, sebagian lain
menuju stasiun kereta dan terminal bus. Nugraha berjuang menembus macet sampai
tiba di FMIPA UGM. Bangunan tua itu nampak sepi seperti tidak ada kegiatan
sehari penuh. Hampir tengah hari tetapi koridor itu gelap. Ia melihat ke
beberapa ruangan, termasuk ruangan studio radio yang tampak ditinggalkan
pekerjanya.
Beberapa kilometer dari
situ, Marini menuju rumah sakit JIH untuk menjenguk beberapa pasien sekaligus
membantu petugas jaga yang terus kedatangan pasien korban percobaan bunuh diri.
Di jalan ia dihadang kemacetan ketika polisi berusaha mengatasi beberapa orang
yang tiba-tiba terjatuh setelah menerima panggilan telepon.
**
Tak banyak cahaya yang
masuk ke koridor kampus itu. Nugraha mengetuk beberapa pintu namun tak ada
jawaban.
“Sepertinya semua
orang mengevakuasi diri, Pak. Berita sudah tersebar luas.”
Nugraha mengangguk. Tiba-tiba
pandangan Nugraha menjadi gelap. Ia terjatuh dan pingsan.
**
Marini mendapati
firasat. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba mendekati komputer yang sedang menyala di ruangan salah satu
dokter. Saat meraba-raba dan memasukkan kata yang ingin dicarinya terkait John
Clauss, tiba-tiba ia masuk ke sebuah forum yang menampung logo unik itu. Logo yang
pernah ia lihat sebelumnya, di map Dea! Ia langsung berlari keluar menuju
mobilnya. Sambil klakson, sedan itu melaju ke pusat kota.
**
Dea tersenyum puas.
Rencananya nyaris sempurna. Ia kini berada di pusat kendali radio kampus,
mencakup seluruh kota. Ia mengeluarkan alat itu dari tasnya. MISERY. Demikian
tulisan di alat itu. Ia sambungkan ke beberapa kabel, dan lagu merebak
terdengar ke seluruh ruangan. Siaran dimulai.
Dea
menggoyang-goyangkan kepala ketika lagu “Moves
Like Jagger” diputar sebagai pembuka.
Marini mempercepat
laju mobilnya.
Nada mulai berubah,
hanya ada gemerisik di awal-awal. Saat nada itu mulai turun dua oktaf dan
terdengar vokal perempuan aneh, Dea tersenyum puas. Namun tiba-tiba murka
ketika melihat Nugraha tergeletak dengan lilitan kabel listrik yang baru saja
tercabut. Tidak ada suplai listrik untuk alat konversi gelombang. Bunyi itu
hanya terdengar di perangkat headset penyiar, tanpa mengudara. Nugraha kembali
pingsan ketika Dea memasang lagi kabel-kabel itu. Tapi dari arah luar terdengar
suara riuh, angin menggoyang pohon-pohon
pisang. Helikopter mendarat. Dan kurang dari dua detik terdengar langkah
cepat yang mendekat ke atas. Dea panik lalu berlari keluar menuju koridor. Tak
lama kemudian terdengar bunyi letusan senapan, meleset. Tujuh anggota Densus 88
lalu mengejar tersangka. Di belakang, Marini berbelok ke stasiun radio dan
menolong Nugraha. Ia mendengar permohonan maaf berkali-kali dari mantan
suaminya itu, lalu memeluknya.
“Radio, sayang. Anak
itu memanfaatkan radio untuk menyebarkan nada mematikan itu.”
**
Pengadilan menjatuhkan
vonis 17 tahun plus 2 tahun rehabilitasi kejiwaan kepada Dea Aryani, mantan
asisten dokter itu atas kasus tindakan terorisme kelas satu. Berkas-berkas yang
telah rusak karena rajah menjadi
alat bukti. Kapten Abimanyu naik pangkat ke Mabes Polri. Nugraha tetap menjadi
dokter di RS JIH, sembari menyiapkan berkas-berkas untuk memperoleh kembali
status suami dari Marini Soetoyo.
Cerpen ini ditulis untuk Lomba Fiksi Fantasi 2012.
Ilustrasi: freestock.com.





